Asal Usul Nenek Moyang Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam (Bagian 6)

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 20 Rabi’ul Awwal 1438 H / 19 Desember 2016 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Sirah Nabawiyyah | Bab 01
🔊 Asal Usul Nenek Moyang Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam (Bagian 6)
▶ Link Download Audio: bit.ly/BiAS-FA-Sirah-0106
~~~~~~

ASAL USUL NENEK MOYANG RASŪLULLĀH SHALLALLĀHU ‘ALAYHI WA SALLAM (BAGIAN 6)

بِسْمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

إنَّ الـحَمْدَ لله نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ ونتوب إليه، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ،

أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه لا نبي بعده

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Ikhwani fillah, kita mulai mempelajari sirah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dengan menjelaskan bahwasanya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam diutus oleh Allāh di jazirah Arab.

Para ulama menjelaskan (sekedar mencari hikmah) kenapa Allāh Subhānahu wa Ta’āla menurunkan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam di jazirah Arab.

Sebagian orang yang mungkin tidak suka dengan Arab mengatakan bahwa karena dulu Arab sangat biadab. Memang benar banyak kebiadaban tatkala itu.

Tapi jangan lupa, meskipun dalam sisi jahiliyyah, memang mereka dahulu: makan bangkai, berzina, penuh dengan kerusakan, menyembah patung, berbuat kesyirikan, ada yang menyiksa budak mereka,  tetapi mereka juga memiliki sifat-sifat yang mulia, contohnya kejujuran.

Pada zaman dahulu, bangsa Arab terkenal dengan:
• kejujuran
• memuliakan tamu

Para ulama menyebutkan tentang jazirah Arab, bahwa banyak sisi positif kenapa nabi terakhir Allāh pilihkan ke jazirah Arab.

Sebelumnya, kebanyakan nabi-nabi di negeri Syam, namun khusus nabi penutup, Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, Allāh utus di jazirah arab karena:

⑴ Bahwasanya jazirah Arab adalah jazirah yang gersang, berisi bebatuan dan padang pasir.

Dan العرب (al-‘arab) dalam bahasa Arab kembali kepada makna padang pasir bebatuan, tanah tandus, tidak ada tumbuhan.

Sehingga meskipun jazirah Arab diliputi oleh negara adidaya tatkala itu seperti Persia dan Romawi namun mereka tidak punya kekuatan untuk masuk ke jazirah Arab dan tidak ada keuntungannya juga mereka menjajahi daerah padang pasir. Tidak akan mendapatkan apa-apa.

⑵ Untuk menguasai jazirah Arab adalah berat, karena melewati padang pasir beribu-ribu kilometer.

Mereka tidak terbiasa dengan medan yang berat seperti itu, tandus tanpa ada air dan tumbuh-tumbuhan.

Oleh karenanya orang-orang Arab bebas tatkala itu, tidak ada pihak luar. Padahal ada Persia dan Romawi yang begitu kuat namun tidak mampu menguasai jazirah Arab. Padahal mereka menguasai negara-negara yang lain.

⑶ Tatkala itu tidak ada agama yang satu, agama mereka tercerai berai. Ada yang menyembah malaikat, patung, nabi, benda-benda langit sehingga tidak ada kesatuan aqidah.

Jika ada kesatuan aqidah maka sulit untuk ditembus (didakwahi). Kalau orang yang sudah punya keyakinan    dan bersatu karena aqidah, akan sulit ditembus.

Kemudian kalaupun mereka menyembah patung, patungpun bermacam-macam, tidak ada satu kesatuan patung
Tiap-tiap suku memiliki patung masing-masing yang mereka bangga dan ibadah kepadanya.

Maka mudah bagi seorang Rasūl untuk mendakwahi. Berbeda jika mereka bersatu padu dalam satu keyakinan, ini berat.

⑷ Jazirah Arab yang begitu luas ternyata bahasa mereka satu.

Ini sangat penting. Dari negeri Yaman sampai Mekkah bahasanya satu yaitu bahasa Arab.

Beda dengan di Indonesia yang memiliki banyak bahasa karena memiliki banyak suku.

Kesamaan bahasa ini membuat dakwah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam lebih mudah dan cepat menyebar karena seluruhnya berbahasa Arab.

Wallāhu a’lam bishshawāb, yang jelas demikianlah, Allāh lebih tahu hikmahnya. Siapa yang Allāh pilih menjadi Rasūl-Nya dan dimana diturunkan, itu hak Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ini hanya sekedar ijtihad dari para ulama tatkala ingin mencari sebab kenapa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam diutus di jazirah Arab.

Kemudian, ketika kita berbicara tentang suku Arab maka kita berbicara tentang nasab/keturunan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Beliau adalah keturunan Nabi Ismā’īl, dan Nabi Ismā’īl adalah keturunan Nabi Ibrāhīm.

Nabi Ibrāhīm bukan orang Arab dan bahasanya bukan bahasa Arab. Nabi Ibrāhīm lahir di ‘Irāq, disuatu daerah namanya ‘Urq. Oleh karenanya Arabnya Nabi Muhammad bukan Arab asli Yaman.

Para ulama menjelaskan suku Arab ada 3 model:

⑴ Al ‘Arab Al Bāidah (العرب البائدة), Arab yang telah punah.

Kita katakan lafazh Arab itu asalnya kepada tempat yang bebatuan, padang pasir, tetapi diithlaqkan juga kepada penghuni tempat tersebut, sebagaimana penjelasan para ulama.

Banyak suku-suku Arab yang sudah punah yang sudah tidak ada lagi. Diantaranya:

• Suku ‘Ād (kaumnya Nabi Hūd ‘alayhi wa sallam).
• Suku Tsamūd (kaumnya Nabi Shālih ‘alayhi wa sallam).

Allāh sebutkan kisah mereka dalam Al Qurān.

⑵ Al ‘Arab Al ‘Āribah (العرب العاربة), arab asli.

Kata para ulama, Arab asli kembali kepada suku Al Qahthaniyyah yang asalnya arab dari Yaman.

Diantaranya ada suku yang namanya Sabā. Dari Sabā ini keluar 2 suku yang sangat besar yaitu Kahlan dan Khimyar, dari kedua suku inilah muncul berbagai macam kabilah. Dan kabilah-kabilah tersebut sebagiannya dari Yaman berhijrah ke Mekkah dan Madinah.

⑶ Al ‘Arab Al Musta’rabah (العرب المستعربة)

Adapun Arabnya Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, dia bukan Arab Al-Bā’idah yang telah punah, bukan juga Arab asli. Tetapi Beliau Arab Al Musta’rabah, Arab yang tadinya bukan Arab tetapi menjadi Arab.

Kenapa?

Karena Nabi Muhammad adalah keturunan Nabi Ibrāhīm dan Nabi Ibrāhīm bukan orang Arab.

Kalau kita lihat dari ras, ras itu kembali kepada ayah. Kalau kita kembalikan alur Nabi kepada ayah, maka dia akan kembali kepada Nabi Ibrāhīm dan beliau bukan Arab.

Lalu siapa diantara anak Nabi Ibrāhīm yang menjadi Arab? Yaitu Nabi Ismā’īl.

Kita cukupkan disini saja, in syā Allāh besok kita lanjutkan lagi.

وبالله التوفيق والهداية
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
والسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Mari bersama mengambil peran dalam dakwah…
Dengan menjadi Donatur Rutin Program Dakwah Cinta Sedekah

  1. Pembangunan & Pengembangan Rumah Tahfizh
  2. Support Radio Dakwah dan Artivisi
  3. Membantu Pondok Pesantren Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Indonesia

Silakan mendaftar di :

Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah
🌎www.cintasedekah.org
👥 https://web.facebook.com/gerakancintasedekah/

📺 youtu.be/P8zYPGrLy5Q

Beri Nilai Artikel Ini:

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: