HIKMAH PENCIPTAAN MANUSIA DAN JIN

HIKMAH PENCIPTAAN MANUSIA DAN JIN

Selasa, 11-Juli-2006
Penulis: Ustadz Muhammad Irfan


Dan sudah jelas dari sini bahwa tujuan yang akan di capai oleh hamba berbeda-beda sesuai dengan apa yang ada dalam hatinya dari keimanan dan kekufuran. Maka mu’min yang sejati itu berusaha untuk akherat saja. Jika dia menyentuh dunia dengan badannya dan semangat kepada dunia dengan hatinya, sesungguhnya dia itu tidak menginginkan kecuali untuk akherat
Pertanyaan yang sering muncul di benak kita dan terus menerus membutuhkan jawaban kita, yaitu kenapa Allah menciptakan manusia ? Apakah hikmah di ciptakan manusia ? Serta apa pula tujuan apa yang akan dikerjakan manusia di bumi ini ?

Pertanyaan ini telah membikin sesat dan bingung akal-akal manusia dalam menjawabnya, apakah dari kalangan cendikiawan, orang-orang yang jenius, lebih-lebih yang dibawah mereka, khususnya ketika mereka menjawab pertanyaan ini dengan menggunakan ilmu kalam dan filsafat yang bersandarkan kepada akal-akal mereka. Dan tidaklah seluruh akal itu berada dalam kebingungan kecuali akal-akal yang di sinari dengan wahyu Allah, berpetunjuk dengan petunjuk-Nya, serta mengikuti Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Itulah akal yang akan mengetahui jawaban dari pertanyaan ini dengan berdasarkan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Maka dari sini bisa kita ketahui bahwa akal itu tidak mungkin bisa sendirian untuk mengetahui aqidah, karena aqidah itu ilmu yang berkaitan dengan hal-hal ghaib. Dan hal-hal yang ghaib itu, jika akal ini berbicara tentangnya tanpa bersumber dari wahyu, maka akan sesat. Hal ini di karenakan akal itu hanya bisa menggambarkan hal-hal yang diketahui yang sampai padanya dengan jalan panca indra. Dan ketika hal itu sudah keluar dari areal bumi ini (yakni sudah termasuk urusan alam ghaib. ed.), maka dia akan terjatuh dalam kebingungan yang besar.

Allah ta’ala berfirman :
“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya tersebut dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan “
( QS. Al-An’am : 122).

Dan mungkin pula akal itu berdalil dengan apa-apa yang dia lihat dan yang dia dengar, bahwa Tuhannya, penciptanya dan memberi rezeki kepadanya adalah Allah Al-Wahid, Al-Ahad, yang tidak melahirkan dan yang tidak dilahirkan, Allah ta’ala berfirman :
“ Dan apakah tidak menjadi petunjuk bagi mereka, berapa banyak umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan sedangkan mereka sendiri berjalan di tempat-tempat kediaman mereka itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Tuhan). Maka apakah mereka tidak mendengarkan (memperhatikan) ?. Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasanya kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanam-tanaman yang daripadanya (dapat) makan binatang-binatang ternak mereka dan mereka sendiri . Maka apakah mereka tidak memperhatiakan ?”
(QS. As-Sajadah : 26-27).

Dan jika kita telah tahu bahwa akal itu tidak bisa sendirian untuk mengetahui hikmah penciptaan manusia dan jin, maka wajib bagi kita untuk mempelajari hikmah diciptakannya manusia dan jin dari Al-Qur’an yang tidak ada kebathilan di dalamnya. Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan dalam Al-Qur’an hikmah diciptakannya jin dan manusia dalam firman-Nya :
“Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepada-Ku”
(QS. Adz-Dzariyat : 56).

Di dalam ayat ini Allah Subhanahu wa ta’ala menyatakan bahwa di ciptakannya jin dan manusia itu adalah untuk beribadah. Maka ibadah itulah hikmah diciptakannya manusia dan jin, dan juga kerenanyalah Allah menciptakan langit, bumi, dunia, akherat, surga dan neraka. Dan oleh karenanya pula Allah mengutus para Rasul dan menurunkan Kitab-kitab yang menjelaskan antara yang halal dan yang haram, dan untuk menguji kita siapa yang paling baik amalannya. Sebagaimana yang di firmankan oleh Allah :
“ (Dia-lah) yang menjadikan kematian dan kehidupan, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalannya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.
(QS. Al-Mulk : 2).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan hamba-hamba-Nya dan mengeluarkan mereka kedunia ini. Lalu mengabarkan kepada mereka bahwa mereka akan berpindah ke alam lain. Dan Allah memerintahkan mereka serta melarang mereka dan menguji mereka dengan berbagai macam syahwat yang menentang perintah serta larangan-Nya. Maka barang siapa yang tunduk kepada perintah Allah, Allah akan memberikan balasan yang terbaik kepadanya di negeri akherat, dan barang siapa yang cenderung (menuruti) hawa nafsunya dan membuang perintah-perintah Allah serta melakukan larangan-Nya, maka baginya adalah sejelek-jelek balasan. (Lihat Tafsir As-Sa’di Juz 5 hal. 429).

Maka seluruh hamba itu di ciptakan untuk ibadah, akan tetapi di antara mereka ada yang diciptakan untuk ibadah tanpa mendapatkan ujian, seperti malaikat, sehingga ibadah itu merupakan tabi’at mereka dan mereka tidak menginginkan selainnya (ibadah). Allah Ta’ala menyatakan tentang mereka :
“Dan mereka berkata : “Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak”. Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu adalah hamba-hamba yang di muliakan). Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang dibelakang mereka, dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhoi Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.”
(QS. Al-Anbiya’ : 26-28).

Dan diantara hamba Allah tersebut ada yang diciptakan untuk ibadah disertai ujian kepada mereka, seperti jin dan manusia. Mereka di uji dengan berbagai macam syahwat (kesenangan-kesenangan dunia, ed.). seperti syahwat makanan, syahwat minuman, syahwat nikah, syahwat menguasai dan lain-lain.

Sebagaimana pula mereka diuji dengan teman-teman yang jelek serta syubhat-syubhat (keracunan pemahaman,ed.). yang diterima oleh hati-hati mereka. Dan ujian yang lebih besar lagi adalah setan yang senantiasa mengintai sejak dikeluarkannya Adam dari surga untuk menyesatkan anak cucu Adam dan menjatuhkan mereka di dalam kekufuran, kesyirikan, kefasikan serta kemaksiatan. Oleh karena itu, ibadah yang merupakan kewajiban mereka itu ada ujian-ujiannya, yaitu dengan adanya seruan-seruan untuk menyelisihinya (atau mentang kewajiban itu,ed.). Maka barang siapa yang menjawab seruan-seruan tersebut serta ta’at kepada setan, maka dia termasuk orang-orang yang menyimpang yang berhak untuk di masukkan ke neraka jahanam, sebagai mana Allah Ta’ala berfirman :
“ Allah berfirman : “Maka yang benar (adalah sumpah-Ku) dan hanya kebenaran itulah yang Kukatakan. Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka jahanam dengan jenis kamu dan dengan orang-orang yang mengikuti kamu di antara mereka semuanya.” (QS. Shaad : 84-85).

Adapun orang-orang yang mendahulukan keta’atan kepada Allah dan semangat untuk mencari keridhoan-Nya, serta mengikuti Rasulullah, maka dialah mu’min yang sejati yang dijanjikan dengan derajat yang tinggi di dalam suirga Firdaus.

Adapun tujuan yang akan di capai manusia dalam amalan-amalan itu berbeda-beda sesuai dengan penngetahuannya serta aqidah mereka. Diantara mereka ada yang mengenal Tuhannya dan mengetahi haq Allah atasnya, dan dia beriman dengan akan bertemunya dia dengan Allah (diakherat), serta dia mengetahui kadar dunia ini hanyalah tempat persinggahan untuk menuju akherat, lalu dia mengambil apa-apa yang berguna baginya serta bekal yang mengantarkan kepada keridhoan Allah dan surganya, maka itulah tujuan hidup yang akan di capai dengan usahanya.

Dan diantara mereka ada yang tidak mengetahui hal tersebut tidak mengenal Tuhannya, tidak mengenal hak-Nya, serta tidak beriman terhadap pertemuannya dengan Allah (di akherat), bahkan dia menyangka bahwa dunia dan kelezatannya serta kehidupannya adalah sebagai tujuannya, maka dia berusaha untuk semata-mata mencari dunia, menghabiskan waktu dan umurnya untuk mengumpulkan harta, maka dunia menjadi tujuan akhir segala aktivitasnya.

Allah Ta’ala menyatakan tentang dua model golongan manusia tersebut dalam ayat-Nya :
“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tentram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikankan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang mereka selalu kerjakan. Sesungguhnya orang-orang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalamn surga yang penuh kenikmatan. Do’a mereka di dalamnya ialah : “Salam”. Dan penutup do’a mereka ialah : “Alhamdulilaahi Rabbil ‘aalamin”. (QS. Yunus : 7-10).

Dan sudah jelas dari sini bahwa tujuan yang akan di capai oleh hamba berbeda-beda sesuai dengan apa yang ada dalam hatinya dari keimanan dan kekufuran. Maka mu’min yang sejati itu berusaha untuk akherat saja. Jika dia menyentuh dunia dengan badannya dan semangat kepada dunia dengan hatinya, sesungguhnya dia itu tidak menginginkan kecuali untuk akherat, sebagaimana firman Allah :
“Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akherat dan berusaha kearah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mu’min, maka mereka adalah orang-orang yang usahanya di balasi dengan kebaikan”.
(QS. Al-Israa’ : 19).

Adapun orang kafir yang murni itu berusaha untuk dunia saja, karena dia tidak beriman kecuali kepada hal itu saja, dan tidak cenderung kecuali hanya pada hal tersebut. Allah berfirman : “Barang siapa yang menghendaki kehidupan sekarang (dunia
), maka Kami segerakan baginya didunia itu apa yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam, ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. “(QS. Al-Israa’ : 18).
Adapun muslim yang berbuat maksiat maka dia berada diantara keduanya. Wallahu a’alamu bish-shawab

Maraji’ : Al-Mauridul ‘Adzabuz Zilal karya Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi.
Sumber :
BULETIN DAKWAH AT-TASHFIYYAH, Surabaya EDISI : 04 / Dzulqo’dah / 1424
 

Beri Nilai Artikel Ini:

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: