9. MengQadha Puasa

HADITS KESEMBILAN:

TENTANG MENGQADHA PUASA RAMADHAN

DENGAN CARA BERTURUT-TURUT

 

 

مَنْ كَانَ عَلَيْهِ صَوْمُ رَمَضَانَ فَلْيَسْرُدْهُ وَلاَ يَقْطَعْهُ

“Barangsiapa yang memiliki tanggungan shaum (puasa) Ramadhân, maka hendaknya dia mengqadha’nya dengan cara berturut-turut dan tidak diputus-putus (selang-seling)”.

 

Hadits ini dha’if. Hadits ini diriwayatkan oleh Daru Quthni رحمه الله  dalam sunannya, 2/191-192 dan al-Baihaqi dalam sunan beliau, 2/259 lewat jalur Abdurrahman bin Ibrahim al Qâsh dari ‘Alâ bin Abdurrahman dari bapaknya dari Abu Hurairah (ia mengatakan), Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم  bersabda: (seperti hadits diatas).

Sanad hadits ini dha’if (lemah), karena Abdurrahman bin Ibrahim al Qâsh adalah seorang rawi yang dha’if (lemah).

Ad-Daaru Quthni رحمه الله  mengatakan, “Abdurrahman bin Ibrahim al Qâsh adalah dha’îful hadîts (orang yang haditsnya lemah).”

Al Hâfizh Ibnu Hajar رحمه الله  dalam kitabnya Talkhishul Habîr ,2/260, no. 920 mengatakan, “Ibnu Abil Hâtim رحمه الله  telah menerangkan bahwa bapaknya yaitu Abu Hâtim telah mengingkari hadits ini karena ada Abdurrahman.”

Al-Baihaqi رحمه الله mengatakan, “Dia (Abdurrahman bin Ibrahim al Qâsh) telah dinilai lemah oleh Ibnu Ma’in رحمه الله, Nasa’i رحمه الله  dan Daru Quthni رحمه الله.”

Adz-Dzahabi رحمه الله  dalam kitab Mizânul I’tidâl, 2/545, “Diantara hadits-hadits mungkarnya adalah ….. (kemudian beliau رحمه الله  membawakan hadits di atas)

Ada juga hadits dha’if lainnya yang bertentangan dengan hadits dha’if di atas yaitu :

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ فِى قَضَاءِ رَمَضَانَ : إِنْ شَاءَ فَرَّقَ وَإِنْ شَاءَ تَابَعَ

“Dari Ibnu Umar رضي الله عنهما, beliau رضي الله عنهما  mengatakan, “Sesungguhnya Nabi صلى الله عليه وسلم  telah bersabda tentang qadha’ Ramadhân, ‘Jika ia mau, dia bisa mengqadha’nya dengan dipisah-pisah (selang-seling) dan jika dia mau, dia juga bisa mengqadha’nya secara beturut-turut (tanpa diselang-seling)”.

Hadits ini dha’if. Hadits ini diriwayatkan oleh Daru Quthni رحمه الله, 2/193 lewat jalur periwayatan Sufyân bin Bisyr, ia mengatakan, ‘Kami telah diberitahu oleh Ali bin Mishar dari Ubaidullah bin Umar dari Nâfi’ dari Ibnu Umar رضي الله عنهما, dia mengatakan : (seperti hadits di atas)

Sebatas yang saya ketahui, sanad hadits ini dha’if karena Sufyaan bin Bisyr adalah seorang perawi yang majhûl, sebagaimana telah ditegaskan oleh Syaikh al-Albâni رحمه الله, karena beliau رحمه الله  tidak mendapatkan riwayat hidupnya. Kemudian syaikh al-Albâni رحمه الله  mengatakan, “Ringkasnya, tidak ada satu pun hadits marfu’ yang sah yang menerangkan (mengqadha’ shaum Ramadhân) dengan selang-seling dan tidak juga berturut-turut. Pendapat yang lebih dekat (kepada kebenaran) ialah boleh mengqadha’ dengan cara keduanya, sebagaimana pendapat Abu Hurairah رضي الله عنه. (Lihat Irwâ’ul Ghalîl, 4/97)

Demikianlah beberapa contoh hadits dha’if bahkan sebagiannya maudhu’ yang banyak beredar dan sering diulang-ulang penyampaiannya diatas mimbar pada bulan Ramadhân. Semoga naskah singkat ini bisa menjadi pengingat bagi kita untuk tidak lagi menjadikan hadits-hadits diatas sebagai hujjah dalam beramal. Cukuplah bagi kita dengan mengikuti hadits-hadits shahih atau hadits-hadits yang layak dijadikan sebagai hujjah. Semoga Allah عزّوجلّ  senantiasa membimbing kita untuk mengikuti Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم  dengan cara mengamalkan hadits-hadits yang tsabit dari Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم.

Previous

Next

Leave a Reply

%d bloggers like this: