Istihadhah – Pertanyaan : Apa yang dimaksud dengan Istihadhah dan bagaimana pula aturan dan hukum2nya?Yanti

Konsultasi Fiqih Wanita : Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh
Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba’d.

I. Pengertian

Keluarnya darah dari kemaluan wanita diluar haid dan nifas atau karena sakit.

II. Tiga kondisi istihadhah

1. Kondisi pertama :Mumayyizah

Seorang wanita mengetahui dengan pasti lama haidnya sehingga bila
keluarnya darah itu melebihi masa haid yang normal jadi darah itu adalah darah
istihadhah.

Dasarnya adalah hadis berikut ini :

Dari Ummi Salamah r.a beliau meminta kepada Nabi saw. tentang seorang
wanita yang mengeluarkan darah, beliau bersabda: Lihatlah kebiasaan jumlah
hari-hari haidnya dan dikaitkan dengan bulannya selama masa yang biasanya haid
dia harus meninggalkan salat, bila telah lewat dari kebiasannya hendaknya ia
mandi kemudian menyumbatnya dan salat (HR Khamsah kecuali
Tirmizi)

2. Kondisi kedua

Seorang wanita yangtidak punya kepastian tentang lama masa haidnya, dan juga
tidak bisa membedakan antara darah haid dan bukan darah haid. Dalam kondisi ini
acuannya adalah enam atau tujuh hari sebagaimana umumnya kebiasannya para wanita
ketika mendapatkan haid.

Dari Jannah binti Jahsy berkata : ‘Aku mendapat haid yang sangat banyak,
kudatangi Rasulullah unuk meminta fatwa dan kudapati beliau dirumah
saudaraku Zainab binti Jahsy, aku bertanya: Ya Rasulullah, Aku mendapat darah
haid yang amat banyak, apa pendapatmu ? sedangkan engkau telah melarang unuk
salat dan puasa. Beliau menjawab:Sumbatlah dengan kain karena akan menghilangkan
darah, aku berkata :tapi darahnya banyak sekali…Yang demikian hanya satu
gangguan dari syaitan: Oleh karena ituhendaklah engkau berhaid enam atau tujuh
hari kemudian engkau mandi. Maka apa bila engkau sudah bersih, salar 24 atau 23
hari, dan puasalah dan sembahyanglah (sunnat), karen yang demikian itu cukup
buatmu; dan buatlah demikian tiap-tiap bulan sebagaimana perempuan-perempuan
berhaid, tetapi jika engkau kuat buat menta’khirkan dhuhur dan mentaqdimkan
‘ashar kemudian engkau mendi ketika engkau bersih (sementara) lalu engkau
jamak sembahyang dhuhur dan ‘ashar kemudian engkau ta’khirkan maghrib
dan dan taqdimkan isya’, kemudian engkau mandi , kemudian engkau jama’kan
dua sembahyang itu (kalau kuat) buatlah (begitu); dan engkau mandi beserta
shubuh dan engkau salat. Sabdanya lagi: Dan yang demikian perkara yang lebih aku
sukai dari yang lainnya.(Diriwayatkan oleh ‘lima’ kecuali
Nasa’i dan disahkan oleh Tirmizi dan dihasankan oleh Bukhari.)

3. Kondisi ketiga

Seorang wanita yang tidak tahu kebiasaannya namun mampu membedakan mana darah
haid dan mana darah istihadhah. Maka baginya cukup dengan melihat darah itu,
bila darahnya adalah darah haid maka dia sedang haid bila darahnya bukan darah
haid maka dia sedang istihadhah.

Dari Fatimah binti Abi Hubaisy Bahwa dia mengalami istihadhah, maka
Rasulullah saw, bersabda kepadanya kalau darah haid warnanya hitam dan
mudah dikenali maka janganlah kau salat. Tapi kalau beda warnanya maka wudhu’lah
dan salatlah karena itu adalah penyakit.

III. Hukum Wanita yang Istihadhah

1. Tidak wajib mandi bila ingin salat kecuali hanya sekali saja yaitu ketika
selesai haid. Ini disepakati oleh jumhur ulama salaf dan mukallaf.

2. Dia harus berwudhu setiap mau salat, sebagaimana sabda Rasulullah saw.
dalam riwayat Bukhari, “Kemudian berwudhulah setiap akan salat.

Namun Imam Malik tidak mewajibkan wudhu setiap mau salat, beliau hanya
menyunahkan saja.

3. Mencuci dan membersihkan kemaluannya sebelum berwudhu dan menyumbatnya
dengan kain atau kapas agar tidak menjadi najis. Paling tidak sebagai upaya
mengurangi najis.

4. Tidak berwudhu kecuali setelah masuknya waktu salat, menurut pendapat
jumhur. Sebab wudhunya itu bersifat darurat maka tidak sah jika belum sampai
kepada kebutuhannya.

5. Suaminya boleh menyetubuhinya meski darah mengalir keluar. ini adalah
pendapat jumur ulama, sebab tidak ada satupun dalil yang mengharamkannya.

Ibn Ababas berkata:,”Kalau salat saja boleh, apa lagi bersetubuh”.

Selain ituada riwayat bahwa Ikrimah binti Himnah disetubuhi suaminya dalam
kondisi istihadhah.

6. Tetap wajib melakukan semua kewajiban orang yang suci dari haid seperti
salat, puasa dan boleh beri’tikaf, membaca Qur’an menyentuh mushaf, berdiam
dimasjid, tawaf, dan menjalankan semua ibadah. Itu merupakan kesepakatan seluruh
ulama.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

[ kirim pertanyaan ]

Leave a Reply

%d bloggers like this: