Pasang Hijab : Bagaimana Bergaul Di Kelembagaan Formal Kampus ? – Pertanyaan : Assalamu’alaikum wr.wb. Langsung aja ustad, ane seorang ikhwan yang aktif di kelembagaan formal kampus (BEM). Ane terkadang bingung dalam beberapa hal diantaranya kalau rapat bareng temen-temen yang lain. Sebab kalau ane baca jawaban ustadz tentang hijab rapat, kayaknya tegas banget. Nggak ada rapat bersama, nggak ada kumpul bersama. Dilematis nih ustadz, di satu sisi ane harus rapat dan kumpul bareng teman-teman (putra-putri) untuk menyukseskan program kerja dan di lain sisi ane ingin mencoba melakukan syariat. Pernah kepikiran ingin dipasang hijab di sekret, tapi nanti rekan-rekan yang lain takut jadi antipati sama BEM. BEM terkesan eklusif, BEM bukannya Badan Eksekutif Mahasiswa malah jadi Badan Eksekutif Masjid (bagus siih, tapi ….). Bagaimana nih ustad ? mohon taushiyahnya, agar aktif di kelembagaan dan juga bisa istiqomah menjalankan syariat dengan fiqh dakwah yang mantap. Jazakallah. Purwa

Konsultasi Fiqih Wanita : Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh
Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba’d.

Mungkin Anda belum lengkap membaca jawaban dari kami. Soal urusan pasang hijab, kami banyak menuliskan perbedaan pandangan para ulama. Sebagian dari mereka mewajibkan secara mutlak, namun sebagian lainnya tidak seperti itu.

Kalau ada yang bersifat tegas dari jawaban kami adalah tentang kondisi seorang aktifis yang terganggu dengan bayangan tentang wanita. Dia bertanya tentang bagaimana menghilangkan bayangan dan dorongan nafsu syahwat yang sulit dikendalikan. Sebab setiap hari dia berkesempatan untuk bertemu muka, bercampur dan berkumpul dengan mereka, meski dalam kerangka aktifitas keislaman.

Maka jawaban kami kepadanya adalah saran untuk tidak bersinggungan dengan para wanita termasuk para akhawat. Sebab dia menceritakan kondisinya dimana sering kali tidak bisa menghindari pertemuan dengan kaum hawa itu dalam banyak kesempatan. Berhubung dia adalah pengurus sebuah lembaga dakwah yang setiap hari pasti berkesempatan untuk berbaur dengan para akhawat.

Percampuran yang intens ini telah menimbulkan gairah syahwat yang sulit dibendung lagi. Karena itu kami menyarankan kepadanya untuk tidak ikut bercampur baur dengan lembaga yang demikian. Bukan sekedar pasang hijab saja, tetapi secara struktural dan akitifitas di lapangan hendaknya menghindari kontak dengan para wanita.

Dan bila masalah itu melanda juga para akitifis yang lain, kami menyarankan untuk meluruskan bentuk struktur organisasi dan kegiatan di lapangan. Intinya bagaimana mengupayakan agar tidak terjadi frekuensi percampuran antara laki-laki dan perempuan. Sebab meski dalam kerangka aktifitas keislaman, namun urusan gejolak dan hasrat biologis dan psikologis memang tidak kenal perbedaan.

Kalau Anda punya kekuatan lebih dalam menjaga hati, silahkan saja Anda melakukan semua aktifitas itu. Sebaliknya, bila Anda merasa terusik dari sisi iman di dalam dada, maka tindakan Anda melakukan perubahan adalah hal yang tidak bisa disalahkan. Meski caranya tidak harus pasang hijab semata di sekret, tetapi secara fitrah memang diharapkan muncul batas untuk tidak bercampur baur dalam aktifitas meski dengan nama BEM.

Bisa dimulai dari sturuktur organisasi. Misalnya bila jabatan Anda sebagai ketua, upayakan sekretaris Anda atau orang yang setiap hari harus selalu berdampingan dengan Anda adalah ikhwan atau laki-laki. Sehingga tidak ada alasan untuk tiap hari saling komunikasi, saling bertelepon, tukar menukar sms dan lain sebagainya. Demikian juga dalam sturuktur di bawah Anda, upayakan orang-orang yang harus setiap hari secara intens mengadakan pertemuan adalah orang yang berjenis kelamin sama. Sebagai seorang senior yang diperhitungkan kedudukannya, pastilah Anda mampu mengatur hal-hal demikian, bukankah Anda sudah terlatih dalam urusan pasang memasang orang ?

Kemudian ketika membuat departemen, divisi, bidang atau apapun namanya, upayakan juga hal yang sama. Intinya, secara format sturktur dan pendekatan kerja, kesempatan untuk campur baur antara laki dan perempuan diminimalisir.

Termasuk kebijakan rapat hingga sore hari, padahal ada akhawat ikut dalam rapat itu. Maka kalau demikian, akhirnya si akhawat ini mau tidak mau harus pulang larut malam sampai ke rumahnya. Seandainya para akhawat ini melakukan rapat sesama mereka saja dan di pagi hari, tentu tidak akan ada keluhan tentang ‘akhwat malam’, bukan ?. Mengapa tidak membuat sebuah departemen yang anggotanya berjenis kelamin sama ?

Pasang Hijab di Sekret

Sebenarnya kewajiban memasang hijab diperselisihkan hukumnya oleh para ulama. Namun bila kita selami lebih jauh, apalah guna pasang hijab di sekret, tapi masing-masing aktifis yang jadi pengurus tiap hari kerjanya telepon-teleponan antara laki-laki dan perempuan ?. Atau janjian ketemu-ketemu di suatu tempat, makan bareng, kirim-kiriman SMS, bahkan sampai kepada urusan curhat segala ?. Alasannya biasanya agak ‘klise’, yaitu urusan organisasi atau terkadang demi kepentingan dakwah.

Jangan sampai hijab yang Anda pasang itu sekedar formalitas belaka.Di sekret Anda berhijab-hijab, tapi begitu keluar sekret sama saja dengan yang tidak pakai hijab. Wajar kalau nanti orang akan menyebut BEM (masjid).

Hijab Di Kantor

Hal yang sama juga berlaku di dunia kerja. Beberapa aktifis dakwah yang sudah berhasil membangun kantor sendiri seringkali mengangkat sekretaris yang wanita, meskipun akhawat. Lalu karena jabatannya sekretaris, tentu saja tiap hari harus berkomunikasi dengan bosnya yang juga ikhwan. Jadilah akh bos dan ukhti sekretaris ini tiap hari bertemu, meeting, berteleponan, kirim SMS, email dan lainnya. Kalau tiba-tiba setan masuk ke relung hati mereka, siapa yang bertanggung jawab ?

Jadi sebenarnya yang harus dipikirkan bukan bikin hijab antara ruangan bos dengan ruang sekretaris, tapi angkatlah sekretaris yang laki-laki. Habis perkara…

Demikian juga dalam sturuktur organisasi kampus, baik BEM atau rohis atau apapun, hijab itu harus hakiki, bukan sekedar formalitas belaka.

Semua itu adalah bentuk ideal yang semaksimal mungkin kita upayakan bisa terwujud. Namun bila dalam mewujudkannya masih tersandung di sana sini, tentu Allah SWT tidak akan membebani kita dengan sesuatu yang kita tidak mampu memikulnya.

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (QS. Al-Baqarah : 286)

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

[ kirim pertanyaan ]

Leave a Reply

%d bloggers like this: