Jadi PNS Dengan Sogokan, Halalkah Gajinya ? – Pertanyaan : assalamu’alikum wr.wb. ba’da tahmid wa sholawat saya adalah salah satu CPNSD yang baru saja di angkat di sebuah kota di indonesia. sebetulnya ada ganjalan yang besar dan ingin saya tanyakan, mohon ganjalan ini dijawab melalui e-mail saja. Begini ustadz, sebenarnya saya tidak membayangkan dan tidak tahu kalau menjadi PNS itu masih sering akrab dengan KKN. hal ini sangat bertolak belakang dg idealis saya. namun ternyata idealis itu sangat bertolak belakang dg kenyataan yang ada. sebenarnya saya tdk menginginkan hal ini. Namun kakak kandung saya mengatakan bahwa sekarang zamannya memang seperti ini, jadi mau-tidak mau ya harus seperti ini. Kakak saya meminta bantuan kepada salah satu orang yang “katanya” sebagai panitia penerimaan CPNSD dengan membayar uang “sekian rupiah”. Kata kakak saya jika saya tdk lulus tes maka saya tdk jadi membayar uang “sekian rupiah” tersebut. Saat itu saya tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan saat ada pengumuman kalau saya diterima, justru saya malah menangis selama dua hari. sementara keluarga besar saya yang terdiri dari bermacam-macam fikroh, hanya satu kakak dari empat kakak yang membantu menenangkan saya. Empat kakak yang lain terus menjejali pikiran saya dg maksud agar saya mau menerimanya. sementara (alm) ayah saya malah mengatakan bahwa” kalau saya tdk mau menerima CPNSD ini, maka saya harus mengembalikan uang biaya sekolah saya. Orang tua saya masih beranggapan bahwa sekolah untuk bekerja. Akhirnya kakak yang mendukung saya itu memberikan jalan tengah, terpaksa saya hrs menerima ini. karena jika tdk, maka pertama ayah saya (yang pada saat itu) sering sakit Hipertensi dan Sesak nafas dikhawatirkan kesehatannya dan yang kedua dikhawatirkan rusaknya tali silaturrohim diantara keluarga besar saya. Pertanyaan saya: 1. menurut teman dekat saya, gaji saya termasuk riswah jadi saya harus mengembalikan uang sebesar “sekian rupiah” kepada orang yang berhak menerimanya. Benarkah demikian? 2. Apa benar lama-kelamaan gaji saya menjadi hak saya, karena saya bekerja? 3. Bagaimana perhitungan zakat penghasilan saya? karena saya sudah bekerja dan mendapat gaji sejak bulan Maret lalu, mohon saya diberikan jawaban secepatnya agar saya bisa tenang, sementara sejak ayah meninggal akhir Mei lalu, saya harus ikut menanggung biaya pendiikan kedua adik saya serta hutang-hutang (alm) ayah saya…..Annisa

Konsultasi Muamalat : Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh
Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba’d.

Sogok menyogok memang hampir sulit dihindari dari kehidupan kita. Sebab kita hidup di tengah moral masyarakat yang dibiarkan bobrok tana pernah ada pihak yang peduli dengan kebobrokan yang semakin lama semakin parah.

Dalam kondisi yang akut seperti ini, kalau ada orang yang masih ingin hidup bersih dari sogok akan menjadi orang yang sangat istimewa. Sebab pasti berbeda dengan yang lainnya. Dan berbahagialah bila diantara orang yang istimewa itu salah satunya adalah diri anda sendiri.

Islam memang mengharamkan sogokan. Sebab hal itu akan melahirkan ketidak-adilan dan ketimpangan. Praktek sogok menyogok adalah dosa besar yang diharamkan Allah SWT. Pelakunya dan orang yang minta disogok sama-sama akan mendapat laknat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

Allah melaknat penyuap, yang disuap dan perantara keduanya” (HR. At-Tabrani)

Namun bila seseorang bekerja dengan hasil keringatnya dan pernah suatu ketika terprangkap dengan urusan sogok menyogok, tidak berarti semua hasil jerih payahnya itu haram. Lebih tepatnya memang menyogok itu haram, tetapi keharamannya tidak harus menulari hasil keringat kerjanya secara keseluruhan. Sebab biar bagaimanapun, seseorang sudah bekerja dengan mengeluarkan keringat. Dan itu harus dihargai sebagai sebuah kerja. Maka dia tetap berhak atas jerih payah yang telah diusahakan.

Apalagi bila secara kemampuan memang mencukupi persyaratan sehingga tidak ada pihak yang dizalimi. Lain halnya bila seorang yang sama sekali tidak punya syarat menduduki sebuah jenis pekerjaan, kemudian menyogok dan menzalimi semua pihak atas ketidak-becusan dirinya. Tentu hal ini jelas haramnya.

Sedangkan bila sogok itu terjadi tanpa dikehendaki oleh yang bersangkutan, tentu perlu dipahami secara lebih dewasa. Sebab ada beberap jenis kejadian yang kelihatannya secara zahir dianggap sogok, namun tetap dibolehkan oleh para fuqaha.

Yang Tidak Termasuk Sogokan

Tidak semua kasus yang ada aroma sogoknya mutlak diharamkan. Sebab para fuqaha membedakan antara sogokan yang sifatnya merubah sebuah keputusan hukum yang seharusnya diambil oleh seorang hakim dengan jenis sogokan lainnya.

Dalam masalah sogokan, para ulama memberikan pengecualian, yaitu uang sogokan yang harus diberikan untuk mendapatkan hak yang sesungguhnya menjadi milik kita. Dalam kondisi demikian, maka para ulama memberikan rukhsah dalam sogokan itu, asalkan syaratnya untuk mendapatkan apa yang menjadi hak kita sendiri.

Bila kita buka kitab-kitab fiqih, kita akan dapati bahwa sogokan itu sering disebut dengan Risywah (suap), dimana secara terminologis berarti pemberian yang diberikan seseorang kepada hakim atau lainnya untuk memenangkan perkaranya dengan cara yang tidak dibenarkan atau untuk memperoleh kedudukan. (al-Misbah al-Munir – al Fayumi, al-Muhalla –Ibnu Hazm).

Al-Fayumi berkata bahwa sogokan / risywah adalah uang yang diberikan seseorang kepada hakim atau lainnya untuk memutuskan hukum yang menguntungkannya atau sesuai dengan apa yang diinginkannya.

Jumhur ulama membolehkan penyuapan yang dilakukan untuk memperoleh hak dan mencegah kezhaliman seseorang. Namun orang yang menerima suap tetap berdosa (Kasyful Qona’ 6/316, Nihayatul Muhtaj 8/243, al-Qurtubi 6/183, Ibnu Abidin 4/304, al-Muhalla 8/118, Matalib Ulin Nuha 6/479).

Jadi intinya sogokan itu adalah upeti atau pembayaran yang diberikan kepada hakim atau penguasa yang dengan itu dia bisa mempengaruhi keputusan menjadi tidak adil atau menimbulkan kezaliman lainnya.

Pembagian Risywah Menurut Madzhab hanafi :

  • Risywah terkait dengan putusan hukum dan kekuasaan, hukumnya haram bagi yang menyuap dan yang menerimanya.
  • Menyuap hakim untuk memenangkan perkara, hukumnya haram bagi penyuap dan yang disuap.
  • Menyuap agar mendapatkan kedudukan/ perlakuan yang sama dihadapan penguasa dengan tujuan mencegah kemudharatan dan meraih kemaslahatan, hukumnya haram bagi yang disuap, tapi halal bagi yang menyuap.
  • Memberikan harta (hadiah) kepada orang yang menolong dalam menegakkan kebenaran dan mencegah kezhaliman dengan tanpa syarat sebelumnya, hukumnya halal bagi keduanya.

Tentang bagaimana zakat profesi, silahkan anda buka-buka kajian kami dalam bidang zakat.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Leave a Reply

%d bloggers like this: