Jam Malam Akhwat Menurut Hadits Ada Nggak ? – Pertanyaan : Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh Ana dari kampus STTTelkom yang letaknya di pedesaan di bandung selatan ingin menanyakan kembali masalah dalil untuk akhwat yang sering pulang larut malam. Kampus kami letaknya di pedesaan yang juga mudah untuk akses ke pusat kota (buah batu) dan karena letaknya masih di pedesaan sehingga masih kental bahasa dan nilai sunda juga norma serta peradaban agamis dan moralnya. Kampus kami juga padat aktivitas baik dari sisi dawah kampus hingga kegiatan akademik/riset sampai ekstrakurikulernya namun yang sangat disayangkan adalah dari sekian banyak aktivitas kami, masih sering ditemui mahasiswi bahkan akhwat (kader dawah) yang pulang larut malam. Padahal sebenarnya jika diusahakan semaksimal mungkin untuk tidak ada pertemuan malam atau bahkan sampai larut malam (diatas jam 10), masih memungkinkan. Entah apakah hal ini disengaja atau tidak dan sepetrinya sudah menjadi budaya aktivis kampus yang tidak patut dicontoh Yang ingin ditanyakan adalah: -Saya dan beberapa rekan di Lembaga Dawah Kampus ingin meminta dalil nya (dari Al Quran atau Hadits/Riyadhus Sholihin.ShohihBukhoriMuslim dll, Bulughul Maraam) jam berapa sebenarnya sesuai syariat Islam, seorang muslimah dibatasi berkeliaran keluar rumah tanpa mahramnya -Batasan berapa orang sehingga seorang muslimah didampingi beberapa muslimah lain sehingga dapat berkeliaran malam hari -Batasan darurat yang dapat ditoleriri sehingga seorang muslimah dapat keluar larut malam berdasarkan tingkat urgensinya Sekian pertanyaan saya, besar harapan dari kami sehingga pertanyaan kami dijawab oleh ustadz.Jazakumullah Khairan Katsiran Wassalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh NB:Mohon dengan sangat dikirim ke email ana, atau jika memungkinkan diekspos ke wabsite syariahonline.com, kami tungguNovan Al Fatah

Konsultasi Fiqih Wanita :Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh
Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba’d.

1. Keluarnya seorang wanita dari rumahnya memang seringkali bisa menimbulkan fitnah. Apalagi bila dilakukan di malam hari. Pada saat fintah itu terjadi, maka sebenarnya amat perlu untuk diperhatikan hukum-hukum terkait dengan keluarnya wanita tanpa mahramnya.

Sebenarnya dalam nash tidak ada batasan boleh keluar siang dan tidak boleh malam, sehingga tidak ada dalil yang menyebutkan tentang batasan kapankah wanita itu boleh keliaran di siang hari dan kapankah keliaran itu diharamkan ketika malam hari. Maka pertanyaan anda memang tidak ada jawabannya secara syarih dari nash Al-Quran maupun As-Sunnah An-Nabawiyah.

Jawabannya memang kembali kepada ‘urf yang berlaku di suatu komunitas. Dan pastilah hal ini bersifat nisbi. Sebab selama tidak ada batasan yang sharih dari nash, pastilah orang-orang akan membuat batasan yang relatif dan subjektif sesuai dengan pandangan masing-masing.

Kalau anda sebutkan bahwa keluarnya para aktifis dakwah wanita ini di malam hari berkeliaran kesana kesini telah menjadi semacam budaya kampus, maka memang diperlukan proses penyadaran dari para pemegang kebijakan setempat. Sehingga budaya itu bisa secara sistematis disesuaikan dengan tingkat ‘urf yang berlaku secara umum di suatu tempat.

Apalagi anda menyebutkan bahwa wilayah kampus masih terbilang wilayah pedesaan, tentunya mereka masih sangat kental memegang budaya bahwa wanita tidak berkeliaran di malam hari. Maka akan menjadi pemandangan yang kontras bila paraaktifis dakwah wanita justru berkeliaran di malam hari di suatu lingkungan yang ketat dalam masalah batasan itu.

Para pemegang kebijakan dakwah di wilayah anda memang perlu memperhatikan masalah ini dan memberikan pengarahan yang tepat kepada para aktifis dakwahnya. Tentu bukan sekedar dituangkan dalam taklimat sekilas, melainkan harus dimasukkan dalam kurikulum pembinaan. Sehingga akan menjadi bagian dari pengajaran yang merasuk dalam setiap perilaku dan gerak gerik kehidupan sehari-hari.

Kebijakan itu bisa dimusyawarahkan dengan para ustaz, pemimpin dan tokoh masyarakat, termasuk para tokoh aktifis dakwah dari kalangan wanita juga. Tujuannya adalah untuk mendapatkan semacam konsensus bersama tentang batasannya. Katakanlah disepakati bahwa terbenamnya matahari adalah batasan para wanita aktifis dakwah ini sudah harus masuk rumah masing-masing, kecuali untuk alasan syar`i yang punya nilai urgensi tersendiri.

Lalu kebijakan ini perlu disosialisasikan secara sistematis dan bertahap. Bisa melalui materi dakwah, pesan khusus, taklimat, pengarahan umum, buku, tulisan dan kajian syariah yang disebarkan secara luas.

Yang penting, pentahapannya perlu dibuat sebaik mungkin agar tidak terkesan menjadi beban. Ini bisa kita tiru dari bagaimana proses pengharaman khamar di masa Rasulullah SAW yang dilakukan secara bertahap. Juga proses pembebasan budak yang tidak meruntuhkan sendi-sendi ekonomi. Sosialisasi yang baik mungkin bisa dimulai dari para seniornya terlebih dahulu, sehingga tatkala kebijakan itu sudah bisa berjalan di tingkat senior, maka para juniornya dengan sendirinya akan mengikuti.

Namun untuk bisa sampai kepada proses itu, perlu perangkat keras dan lunak. Yang paling utama adalah riset dan syuro yang melibatkan sekian banyak elemen dakwah, ahli syariah dan pemuka masyarakat.

Kami tidak mungkin membuat aturan yang dibakukan dan berlaku secara nasional. Sebab masing-masing komunitas pasti punya zhuruf dan ‘urf yang berbeda. Maka kesertaan pemegang kebijakan di lapangan jauh lebih berperan.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Beri Nilai Artikel Ini:

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: