Perlukah Dalil Untuk Setiap Amal Ibadah – Pertanyaan : ass. af1, masih ada keterbatasan ana dalam meyikapi pertanyaan tentang ibadah apalagi sekarang makin berkembangnya pemikiran ummat. seperti judul saya, perlukah setiap amal ibadah kita harus berdalil seperti dlm qur’an dan sunnah, mengingat banyak seperti dzikir bersama, matsurat bersama pagi dan petang, sementara hanya itu jazz…Arbud

Konsultasi Ibadah :Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh
Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba’d.

Bentuk ibadah itu terbagi menjadi dua sebagaimana sudah anda pahami, yaitu ibadah mahdhah yang bersifat formal dan ibadah ghairu mahdhah yang bersifat tidak formal.

Keduanya diberdakan dari teknis pengerjaannya. Ibadah mahdhah memang sebuah ibadah ritual yang tata cara dan petunjuk teknisnya harus mengacu kepada apa yang diatur oleh Rasulullah SAW. Sebailknya dalam masalah ibadah ghairu mahdhah tidak ada ketentuan demikian. Yang penting tujuannya selarah dengan prinsip Islam dan tata caranya tidak bertentangan dengan aturan baku dalam syariat.

Dalam masalah zikir, sebenarnya tidak ada aturan yang baku untuk mengerjakaannya seperti dalam ibadah shalat yang punya rakaat dan aturan yang ketat. Tidak ada aturan harus berjamaah namun juga tidak ada larangannya. Sehingga sebagian ulama berpendapat selama tidak ada aturan teknisnya dan juga tidak ada larangannya, hal itu syah-syah saja dikerjakan.

Yang penting tidak membuat aturan baku yang baru sehingga seolah menjadi sebuah bentuk teknis ibadah tersendiri. Misalnya autran bahwa berzikir harus berjamaah dan dengan suara keras dan dengan lafaz-lafaz tertentu saja. Bila ketentuan ini dianggap sebagai sebuah ibadah tersendiri yang baku dan diada-adakan, barulah para saat itu bentuk ini bisa potensial menjadi ibadah yang bid’ah.

Adapun bila kita terbiasa melafazkan zikir yang kita hafal atau yang kita tahu sanadnya dari Rasulullah SAW tanpa berkeyakinan bahwa hanya lafaz itu saja yang harus dibaca dengan urutan dan pola yang tertentu, sebenarnya tidak ada larangan. Artinya selain urutan yang sering kita lafazkan, kita tetap yakin bahwa boleh saja lafaz itu tidak dibaca dengan urutan demikian, karena memang Rasulullah SAW tidak menetapkan urutannya juga tidak mamestikan hanya bacaan tertentu saja.

Sebab kalau mau dikumpulkan, lafaz zikir yang dibaca oleh Rasulullah SAW amat banyak, namun tidak ada aturan baku untuk membaca yang mana dengan urutan tertentu setiap waktu. Tetapi bila seseorang membiasakan dirinya membaca lafaz tertentu dan dengan urutan tertentu untuk dirinya tanpa berkeyakinan bahwa cara demikian adalah hal yang baku dari beliau SAW, hal ini bisa dibenarkan.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

[ kirim pertanyaan ]

Beri Nilai Artikel Ini:

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: