Orang Tua Membagi Harta Selagi Hidup – Pertanyaan : Assalamu’alaykum, Ustadz, Alhamdulillah, Mertua saya saat ini masih hidup. Beliau memiliki beberapa bidang tanah, sawah dan rumah. Isteri saya 6 bersaudara, 2 laki dan 4 perempuan. Bulan depan, Mertua saya bermaksud membagikan hartanya kepada putra-putrinya, seadil mungkin menurut ‘kacamata’ mereka. Anak pertama mendapat rumah dan sawah di sana, anak ke-2 mendapat rumah di sini, dan seterusnya. Sehingga diharapkan jika mereka wafat, putra-putrinya tidak akan meributkan harta warisan. Saya pribadi selaku menantu tidak menyetujui cara tersebut, menginggat secara nominal mungkin saja tidak adil dan tidak sesuai dengan syariah Islam. Pertanyaan saya : 1. Lalu bagaimana sikap saya selaku menantu, mengingat seluruh keluarga ipar menyetujui rencana mertua dan menganggap hal tersebut adalah biasa dan merupakan adat keluarga (suku Jawa). 2. Saya pernah membeli sebidang tanah dari Mertua, diketahui seluruh keluarga dan saat ini SHM atas nama isteri saya. Namun dalam rancangan pembagian harta, tanah tersebut akan diberikan sebagai bagian ‘jatah’ kakak ipar saya, dan isteri saya akan diberikan sebuah rumah yang lokasinya lebih baik sebagai ‘jatahnya’. Bagaimana nih Ustadz ? .Jazakalloh atas jawaban ustadz. Wassalamu’alaykum, Abu AyeshaAbu Ayesha

Konsultasi Warisan (Faraid) : Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh
Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba’d.

Apa yang dilakukan oleh mertua Anda itu bisa dibenarkan dalam hukum Islam namun bisa juga tidak dibenarkan. Tergantung dari tata cara dan ketentuan yang dibuatnya.

  1. Bukan Saat Mau Meninggal

    Bila pembagian harta itu dilakukan pada saat seseorang masih dalam keadaan sehat wal afiat dan jauh dari kemungkinan akan meninggal, maka hal itu merupakan pemberian atau hibah kepada anak-anaknya.

    Sedangkan bila pembagian itu jelas-jelas dalam rangka menghadapi kematian, maka saat itu pembagian harta hibah menjadi tidak berlaku. Sebab sudah bisa dipastian bahwa cara membagi-bagi harta demikian akan merugikan ahli waris sendiri.

    Seseorang pada dasarnya berhak memberikan hartanya kepada siapa saja yang dikehendakinya. Asalkan tanggung-jawabnya sebagai orang tua dan hak-hak ahli warisnya terjamin.

  2. Hibah Harus Sesuai Maknanya

    Bila memang niatnya semata-mata hibah, maka harus diletakkan sesuai dengan ketentuannya. Ketentuan hibah ini adalah pemindahan kepemilikan secara tuntas. Artinya begitu diberikan, maka orang yang diberikan harta itu sepenuhnya menjadi pemilik syah. Dia punya hak untuk menjualnya atau memanfaatkannya dan tidak boleh lagi si mertua masih merasa punya hak.

    Sebab bila pemindahan kepemilikan itu baru resmi setelah meninggalnya si mertua, bukanlah disebut hibah, melainkan mengakali Allah SWT dalam masalah bagi waris.

  3. Jalan Yang Bijaksana
    Sebagai menantu yang bijak, tidak ada salahnya bila Anda memberikan sebuah masukan yang jitu. Yaitu bila tujuannya agar anak-anaknya akur dan tidak rebutan harta warisan sepeninggalnya nanti, si mertua boleh saja membuat surat wasiat yang harus ditaati oleh semua keluarga dan para ahli waris. Tapi isi wasiatnya adalah bila nanti beliau berpulang, seluruh harta miliknya haram dimiliki / dibagi-bagi kecuali hanya dengan cara pembagian syariat Islam saja.

    Yaitu dengan hukum faraidh yang dikenal dalam hukum Islam. Siapa saja yang menolak cara pembagian waris sesuai dengan hukum Islam, maka tidak mendapat ridha dan restu dari orang tua. Surat wasiat ini disaksikan oleh seluruh anggota keluarga dan masing-masing diminta berjanji demi Allah untuk mematuhinya.

    Dengan demikian, orang tua meninggalkan anak-anaknya dengan sebuah kepastian bahwa mereka berhukum dengan hukum Islam. Sedangkan berapa besar nilai harta yang mereka terima, semua diserahkan kepada Allah SWT Yang Maha Kuasa untuk mengaturnya sebagaimana terteradalam kitab suci dan sunnah nabi.

    Dan sebagai orang jawa, maka amat layak bagi mertua Anda untuk menjalankan hukum Islam, sebab cikal bakal kerajaan jawa adalah kerajaan Pajang yang merupakan penerusan dari Kerajaan Islam Demak. Bisa dikatakan bahwa Demak adalah sebuah kesultanan Islam yang menerapkan hukum Islam secara kaffah termasuk hukum bagi waris. Amat terhina orang jawa yang mengkhianati jati dirinya sebagai keturunan para raja jawa yang muslim itu dengan menginjak-injak hukum Allah. Sebab jawa itu identik dengan agama Islam. Dahulu bangsa-bangsa muslim di dunia menyebut jawa sebagai negeri muslim. Maka orang jawa yang tidak menjalankan syariah Islam adalah orang jawa yang kehilangan jati dirinya dan terpengaruh oleh kekuatan asing, biak asing atua hindu / budha.

    Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
    Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

    [ kirim pertanyaan ]

Leave a Reply

%d bloggers like this: