Pernikahan Janda : Sah Atau Tidak – Pertanyaan : Assalamu Alaikum Wr. Wb. Adik saya seorang janda, pada bulan February 2004 lalu, menikah dengan seorang laki-laki, secara Agama ( tidak dengan pencatatan KUA dan tanpa sepengetahuan orang tua dan sebagian besar saudara-saudara kandungnya – kami bersepuluh kandung ) dengan walinya adalah salah satu kakak kandung kami. Padahal ayah kami masih ada dan sangat mudah dimintai untuk menjadi wali maupun dihubungi oleh adik saya ini. Insya Allah tidak akan menjadi masalah. Pada saat ini (Juni 2004) adik saya sudah hamil 2,5 bulan, berniat melakukan pencatatan di KUA dengan melakukan Ijab Qabul ulang dengan wali, ayah kami, tapi tetap tidak memberitahukan perkawinannya pada bulan Februari itu. Pertanyaan : 1. Sah kah perkawinan adik kami pada Bulan Februari 2004 tersebut? 2. Bagaimana hukumnya dengan perkawinan ulang pada bulan Juni 2004 ini, sedangkan dia sudah hamil 2,5 bulan? 3. Haruskah kami, sebagai saudara yang mengetahui perkawinan pada bulan februari itu memberitahukan hal yang sebenarnya kepada Ayah kami dan sesepuh keluarga yang lain? Terima kasih WassalamIbrahim

Konsultasi Nikah : Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh
Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba’d.

Dalam kaidah Fiqhiyah ada disebutan lafaz Al-Ashlu fil Abdha`i At-Tahrim , maknya adalah bahwa hukum asalnya faraj wanita itu haram. Kecuali bila telah dilakukan hal-hal yang menghalalkannya. Dan cara itu adalah sebuah pernikahan syah dengan wali resmi dan dua saksi yang adil. Kecuali wanita itu budak, maka selain dengan wali dan saksi yang benar, pernikahan itu adalah haram hukumnya.

Dan seorang kakak tidak punya hak untuk mengambil alih perwalian dari ayahnya selma ayahnya tidak memberikan hak perwakilan kepadanya. Sebab kedudukan ayah kandung itu mutlaq pentingnya dan tidak boleh dilangkahi begitu saja oleh siapapun.

Kecuali bila ayah kandung itu memang tidak memenuhi syarat sebagai wali. Misalnya dia kafir, atau gila, atau masih belum baligh atau seorang budak. Semua itu adalah syarat syahnya seseorang menjadi wali.

Kalau seorang ayah kandung yang muslim, sudah baligh, waras (aqil) dan budak budak, lalu tiba-tiba anak gadisnya dinikahkan oleh orang lain begitu saja tanpa sepengetahuan dan persetujuannya, maka pernikahan itu sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah SAW adalah perniakahan yang batil.

Yang melakukannya berdosa besar karena menghalalkan apa yang telah diharamkan Allah SWT seenaknya.

Dalam mazhab syafi’i, urutan wali adalah sebagai berikut :

  1. Ayah kandung
  2. Kakek, atau ayah dari ayah
  3. Saudara (kakak / adik laki-laki) se-ayah dan se-ibu
  4. Saudara (kakak / adik laki-laki) se-ayah saja
  5. Anak laki-laki dari saudara yang se-ayah dan se-ibu
  6. Anak laki-laki dari saudara yang se-ayah saja
  7. Saudara laki-laki ayah
  8. Anak laki-laki dari saudara laki-laki ayah (sepupu)
    Daftar urutan wali di atas tidak boleh dilangkahi atau diacak-acak. Sehingga bila ayah kandung masih hidup, maka tidak boleh hak kewaliannya itu diambil alih oleh wawli pada nomor urut berikutnya.Kecuali bila pihak yang bersangkutan memberi izin dan haknya itu kepada mereka.

    Penting untuk diketahui bahwa seorang wali berhak mewakilkan hak perwaliannya itu kepada orang lain, meski tidak termasuk dalam daftar para wali. Hal itu biasa sering dilakukan di tengah masyarakat dengan meminta kepada tokoh ulama setempat untuk menjadi wakil dari wali yang syah. Dan untuk itu harus ada akad antara wali dan orang yang mewakilkan.

    Dalam kondisi dimana seorang ayah kandung tidak bisa hadir dalam sebuah akad nikah, maka dia bisa saja mewakilkan hak perwaliannya itu kepada orang lain yang dipercayainya, meski bukan termasuk urutan dalam daftar orang yang berhak menjadi wali.

    Sehingga bila akad nikah akan dilangsungkan di luar negeri dan semua pihak sudah ada kecuali wali, karena dia tinggal di Indonesia dan kondisinya tidak memungkinkannya untuk ke luar negeri, maka dia boleh mewakilkan hak perwaliannya kepada orang yang sama-sama tinggal di luar negeri itu untuk menikahkan anak gadisnya.

    Namun hak perwalian itu tidak boleh dirampas atau diambil begitu saja tanpa izin dari wali yang sesungguhnya. Bila hal itu dilakukan, maka pernikahan itu tidak syah dan harus dipisahkan saat itu juga.

    2. Untuk menghalalkan hubungan suami istri itu, satu-satunya jalan memang sang ayah harus menikahkan anaknya itu.

    3. Dan satu-satunya yang bisa membuat hal itu terjadi, tentu dengan memberitahukan sang ayah dengan cara baik-baik.

    Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
    Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

    [ kirim pertanyaan ]

Leave a Reply