Zakat Fitri – Pertanyaan : 1.bagaimana cakupan zakat fitrah? 2.apakah pemberian zakat fitrah hanya dalam bentuk beras dan uang (sbg.ganti beras) 3.Dalam hal pemberian uang (ganti beras) apakah yang dibayarkan itu hanya harga beras ataukah harga beras+lauk pauk juga? Terima kasih.Iswani Hasan

Konsultasi Zakat : Jawaban:

Zakat Fithrah adalah zakat yang diwajibkan bagi setiap muslim besar, kecil, laki, perempuan, tuan atau budak.

Zakat ini wajib dibayarkan pada malam tanggal 1 Syawwal hingga saat shalat Idul Fithri keesokan harinya. Sebagian ulama membolehkan membayar lebih awal 2 atau 3 har sebelumnya. Bahkan ada pendapat yang memmbolehkan untuk membayarkannya sejak awal bulan Ramadhan.

Besarnya zakat fithrah adalah 1 sha‘ baik kurma, gandum atau lainnya. Sedangkan beras atau bentuk makanan lain adalah qiyas yang digunakan agar bisa disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan masyarakat setempat. Bangsa Indonesia makanan pokoknya adalah beras, maka tidak layak bila membayar zakat fithrah dengan kurma, karena bukan makanan pokok.

Mengenai zakat fithrah diganti dengan uang, dibolehkan oleh Imam Abu Hanifah. Meski para fuqoha lainnya mengatakan harus dengan bentuk makanan pokok. Barangkali di zaman mereka, yang lebih praktis adalah memberikan langsung makanan yang kita makan sehari-hari, dimana uang sulit di dapat. Sedangkan persediaan makanan biasanya lebih sering dimiliki.

Kalau ada uang, belum tentu segera bisa dibelikan makanan. Bayangkan di zaman itu tidak ada restoran, rumah makan, mall, super market 24 jam dan sebagainya. Padahal waktu membayar zakat fitrah itu pada malam lebaran. Bisa-bisa di hari raya, orang miskin itu punya uang tapi tidak bisa makan. Ini hanya sebuah analisa.

Namun Imam Abu Hanifah membolehkan mengganti makanan itu sesuai dengan harganya. Pendapat beliau nampaknya lebih sesuai dengan kondisi sekarang ini. Uang di masa kita ini telah menjadi alat tukar yang sangat praktis.

Karena itu para ulama di masa kini melihat bahwa dengan membayar zakat fitrah menggunakan uang, lebih banyak mashlahatnya ketimbang dengan beras atau bentuk makanan yang lainnya.

Adapun bila ingin menambahkan dari yang telah ditentukan secara minimal yaitu dengan lauk pauknya, sangat baik dan lebih utama. Tetapi tidak merupakan kewajiban karena demikianlah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Bila ingin zakat yang lebih banyak, ada zakat jenis lainnya yaitu zakat mal, yang secara visi dan misi nampak lebih jelas untuk mengentaskan kemiskinan. Berbeda dengan zakat fithrah yang visi dan misinya hanya sekedar menghilangkan lapas sesaat pada Hari Raya Idul Fithri saja. Lalu besok makan apa, atau makan apa tidak, itu bukan urusan zakt fithrah. Zakat mal lebih berperan disini.

Wallahu a‘lam bishshowab.

Leave a Reply

%d bloggers like this: