Nikah Lari Atau Nikah Tanpa Ijin – Pertanyaan : Assalamu ‘alaikum Wr. Wb Ustadz yang berbahagia Saya seorang laki-laki 22 tahun memiliki seorang kekasih berusia 18 tahun. Sekarang masih kuliah di perguruan tinggi negeri di kota kami. Kami sudah tiga tahun lebih melakukan pacaran. Hingga suatu ketika kami melakukan hubungan selayaknya suami istri, dan itu berulang-ulang. Kami pernah mencoba untuk taubat namun selalu gagal, akhirnya kami memilih, untuk menikah sebab jika berpisah kami tidak bisa. Kami bingung bagaimana kami menikah, sebab kami belum/tidak berani meminta ijin wali. Dengan alasan 1. Kedua orang tua kekasih saya sudah meninggal dan sekarang diasuh oleh ayah tirinya. Kerabat yang ada adalah kakek dari ibu dan pak dhe (paman) dari ayah. Dan sudah pasti mereka menginginkan kekasih saya menyelesaikan studinya. Sedangkan ayah dan ibu saya sedang menjalani sengketa perceraian. 2. Saya pernah bentrokan fisik dengan ayah tirinya, karena melarang saya berhubungan dengan putrinya. 3. Ini merupakan aib keluarga, apalagi kami masih belajar dan belum dapat mencari nafkah yang cukup. 4. Kami malu mengatakan kepada orang tua bahwa kami ingin menikah disebabkan telah melakukan sebuah dosa besar. Yang ingin saya tanyakan 1. Bolehkah kami menikah tanpa ijin wali sesuai alasan di atas. 2. Kalau boleh bagaimana caranya, kalau tidak bagaimana alternatifnya. 3. Apakah bisa melalui wali hakim 4. Bagaimana konsep menikah dulu berumah tangga kemudian, menurut ustadz. Demikian pertanyaan dari saya. Insya Allah, kami benar-benar ingin menikah, ingin bertaubat, dan tidak ingin mengulangi perbuatan dosa kami. Terima kasih sebesar-besarnya semoga ustadz berkenan menjawabnya. Wassalamu ‘alaikum Wr. WbHamba Allah

Konsultasi Nikah :Jawaban:

Yang dibutuhkan dalam sebuah akad nikah dalam Islam bukan ijin wali, tetapi justru wali itulah yang melakukan akad (perjanjian). Kedudukan wali dalam sebuah pernikahan adalah ibarat sebagai pemain utama. Lafaz akad nikah itu justru diucapkan oleh wali, bukan oleh pengantin wanita.

Jadi istilah yang tepat bukan ‘izin wali‘, karena peranan wali bukan masalah mengizinkan atau tidak. Justru wali itulah yang pada hakekatnya melakukan akad (ikatan/perjanjian) dengan calon suami.

Wali berikrar (berkata),”Saya nikahkan kamu dengan anak kandung saya yang bernama fulanah dengan maskawin sekian”. Lalu calon suami itu menjawab,”saya terima nikahnya fulanah anak kandung bapak dengan maskawin tersebut”.

Peristiwa itu harus disaksikan minimal oleh 2 orang muslim laki-laki yangtelah akil baligh dan adil sehingga menjadi resmi sebagai sebuah ikatan perkawinan.

Lalu dimana peran calon istri dalam peristiwa akad itu? Dia tidak ikut berperan dalam hal ini. Sehingga tidak hadirpun tidak mengapa. Akad nikah tetap sah.

Jadi wali adalah pelaku utama. Tidak ada nikah tanpa adanya wali. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW,”Tidak ada nikah tanpa wali mursyid dan dua saksi yang adil”.

Selanjutnya dalam proses akad itu, seorang wali boleh saja mewakilkan akad itu kepada orang lain yang dipercayainya untuk melakukan akad. Istilahnya adalah taukil. Mirip dengan seseorang yang hendak membeli suatu barang lalu mengutus orang lain untuk mewakilinya dalam transaksi. Pada hakikatnya, yang melakukan akad adalah wali. Seseorang tidak sah melakukan akad untuk anak wanita orang lain yang bukan anaknya sendiri, kecuali bila ada taukil (perwakilan) atau permintaan dari wali untuk melakukan akad.

Bila ayah kandung sudah meninggal, siapakah yang menjadi wali? Tentu saja bukan hakim, karena masih ada sekian orang lagi yang berada pada urutan beikutnya untuk menjadi wali. Hingga terakhir bila seorang wanita sebatang kara, tidak punya ayah, kakek, saudara laki-laki, paman (saudara ayah), anak laki-laki paman, anak laki-laki dan lainya, barulah terakhir kali hakim punya peranan.

Rasulullah SAW bersabda,”Aku adalah wali bagi orang yang tidak punya wali”. Sabda beliau ini terkait dengan kedudukan beliau sebagai pemimpin umat.

Tetapi tidak bisa tiba-tiba hakim dijadikan wali sementara masih ada sekian deret orang yang posisinya sebagai wali.

Menikah secara sah akan menghindarkan diri dari zina. Dan tidak mengapa menikah terlebih dahulu sementara sambil belajr dan menyelesaikan kuliah. Bila mampu mengaturnya, justru hidup terasa lebih seru dan indah.

Wallahu a‘lam bishshowab.

Beri Nilai Artikel Ini:

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: