6. I’tikafnya Wanita dan Kunjungannya ke Masjid

6. I’tikafnya Wanita Dan Kunjungannya Ke Masjid

 

a.    Diperbolehkan bagi seorang isteri untuk mengunjungi suaminya yang berada di tempat i’tikaf, dan suami diperbolehkan mengantar isteri sampai ke pintu masjid. Shafiyyah ?رضي الله عنها berkata:  “Dahulu Nabi صلي الله عليه وسلم (tatkala beliau sedang) i’tikaf (pada sepuluh (hari) terkahir di bulan Ramadhan) aku datang mengunjungi  pada malam hari (ketika itu di sisinya ada beberapa isteri beliau sedang bergembira ria) maka aku pun berbincang sejenak, kemudian aku bangun untuk  kembali, (maka beliaupun berkata: jangan engkau tergesa-gesa sampai aku bisa mengantarmu) kemudian beliaupun berdiri besamaku untuk mengantar aku pulang, -tempat tinggal Shafiyyah yaitu rumah Usamah bin Zaid- (sesampainya di samping pintu masjid yang terletak di samping pintu Ummu Salamah) lewatlah dua orang laki-laki dari kalangan Anshar dan ketika keduanya melihat Nabi صلي الله عليه وسلم, maka keduanyapun bergegas, kemudian Nabi-pun bersabda: “Tenanglah1, ini adalah Shafiyah binti Huyaiy”, kemudian keduanya berkata : ‘Subhanahallah (Maha Suci Allah) ya Rasullullah”. Beliaupun bersabda: “Sesungguhnya syaitan itu menjalar (menggoda) anak Adam pada aliran darahnya dan sesungguhnya aku khawatir akan bersarangnya kejelakan di hati kalian -atau kalian berkata sesuatu”2

b.    Seorang wanita boleh i’tikaf dengan didampingi suaminya ataupun sendirian. berdasarkan ucapan Aisyah ?رضي الله عنها : “Nabi صلي الله عليه وسلم i’tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau, kemudian isteri-isteri beliau i’tikaf setelah itu”.(Telah lewat takhrijnya)

Berkata Syaikh kami (yakni Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani رحمه الله, -pent) :”Pada atsar tersebut ada suatu dalil yang menunjukkan atas bolehnya wanita i’tikaf dan tidak diragukan lagi bahwa hal itu dibatasi (dengan catatan) adanya izin dari wali-wali mereka dan aman dari fitnah, berdasarkan dalil-dalil yang banyak mengenai larangan berkhalwat dan kaidah fiqhiyah:

دَرْءُ الْـمَفَاسِدَ مُقَدَّمٌ عَلَي جَلْبِ الْـمَصَالِحِ

“Menolak kerusakan lebih didahulukan daripada mengambil manfaat”  




1.     Janganlah kalian terburu-buru, ini bukanlah sesuatu yang kami benci.

2.     Dikeluarkan oleh Bukhari 4/240 dan Muslim 2157 dan tambahan yang terkahir ada pada Abu Dawud 7/142-143 di dalam Aunul Ma’bud.

Previous

Next

Beri Nilai Artikel Ini:

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: