Apakah Pemimpin Kita Kafir ? – Pertanyaan : dalam al quran disebutkan bahwa barang siapa pemimpin tidakk mengambil hukum selain hukum yang Aku ciptakan maka pemimpin itu kafir? Apakah pemimpin2 kita kafir?Ivan

Konsultasi Sosial Politik : Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh

Alhamdulillahi rabbil `alamin, washshalatu wassalamu `ala sayyidil mursalin, wa ba`du,

Ayat yang menyebutkan bahwa orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah SWT adalah orang yang kafir merupakan bagian dari surat Al-Maidah.

Barang siapa yang tidak ber berhukum dengan hukum Allah, mereka adalah orang yang kafir (QS. Al-Maidah : 44).

Namun tidak berarti setiap orang berhak menuduh kafir secara begitu saja kepada siapapun yang menurut anggapannya tidak menjalankan hukum Allah SWT. Proses untuk menjatuhkan vonis kafir itu haruslah dilakukan berdasarkan data dan pengajuan aduan ke sebuah lembaga formal yang berwenang, yaitu mahkamah syar’iyah.

Sedangkan mengakfirkan seseorang secara terburu-buru hanya berdasarkan sepotong ayat merupakan ciri khas kelompok khawarij. Sebuah dosa dan maksiat sudah cukup dijadikan bahan untuk mengkafirkan seorang muslim bagi mereka.

Sedangkan manhaj ahli sunnah wal jamaah agak ketat dalam masalah pengkafiran ini. Untuk menghukumi seseorang menjadi kafir, diperlukan proses berlipat, diantaranya adalah harus adanya sebuah mahkamah syar’iyah yang berwenang memanggil orang yang dicurigai sebagai pelaku tindak kekafiran. Setelah dilakukan peneilitian dan disimpulkan bahwa seseorang memang telah dianggap melakukan hal yang membatalkan syahadatnya, maka orang itu diminta untuk taubat atau dikenal dengan istilah istitabah.

Kalau sudah sampai pada proses itu ternyata tersangka tetap membandel dan terang-terangan melawan pihak pengadilan, barulah dia divonis sebagai kafir.

Namun proses selanjutnya, orang tersebut harus dihukum sesuai dengan hukum Allah SWT, yaitu dibunuh.

Dari sisi lain, ketika ada seorang muslim yang murtad dan keluar dari agama Islam, maka putuslah beberap jenis hubungan dengan keluarganya dan uamt Islam secara keseluruhan.

  1. Semua amal baiknya selama ini menjadi terhapus sia-sia oleh karena kemurtadan yang dilakukannya.
  2. Istrinya secara ototamatis tertolak, karena muslimah tidak mungkin bersuamikan orang kafir.
  3. Anak wanitanya tidak bisa menikah dengan dirinya sebagai wali, maka harus ada hakim atau wali yang lainnya untuk bisa menikahkannya. Karena seorang kafir tidak berhak menjadi wali bagi wanita muslimah.
  4. Sebagai orang kafir, maka bila dia ada orang Islam membunuhnya, pembunuhnya tidak bisa dibunuh sebagai qishahsh, karena seorang muslim yang membunuh kafir zimmi tidak bisa dibalas bunuh. Sebab mereka berbeda agama.
  5. Bila dirinya meninggal dunia, maka hartanya tidak bisa diwariskan kepada ahli waris yang muslim, menurut sebagaian pendapat. Sebab pendapat ini mengatakan bahwa Anda muslim dengan non muslim tidak terjadi hubungan saling mewarisi.

    Namun pendapat lain mengatakan bahwa muslim bisa mendapat warisan dari orang kafir dan tidak sebaliknya.

  6. Sebagai orang yang statusnya sudah keluar dari agama Islam, maka bila dia mati, tidak perlu dimandikan, dikafani atau dishalatkan. Juga tidak boleh dikuburkan di pekuburan muslimin.
  7. Keluarganya diharamkan untuk mendoakannya setelah mati, sebab orang yang mati dalam keadaan kafir, sudah pasti masuk neraka dan diharamkan untuk diringankan azabnya.

Melihat beratnya konsekuensi menjadi orang murtad, maka alangkah konyolnya bila ada muslim baik-baik lalu hanya karena satu kesalahan yang tidak dipahaminya, kita langsung menuduhnya kafir. Sebab konsekuensi menuduh kafir adalah sebuah konsekuansi yang sangat dahsyat.

Apalagi ada riwayat yang menyebutkan bahwa siapa yang menuiduh orang muslim sebagai kafir, tetapi tidak benar, maka tuduhan itu akan berbalik kepada dirinya sendiri.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

[ kirim pertanyaan ]

Leave a Reply

%d bloggers like this: