Bagaimana Hukum Memakan Ikan Jalalah? – Pertanyaan : Assalamualaikum Di dalam buku fikih disebutkan bahwa hukum memakan daging hewan jalalah adalah haram. Hewan jalalah dijelaskan sebagai hewan kotor, yaitu hewan yang memakan kotoran (hewan lain ataupun dirinya sendiri). Daging hewan jalalah dapat menjadi halal kembali apabila ia diberikan makanan bersih hingga jangka waktu tertentu baru kemudian disembelih. Di indonesia, kita umum mendapatkan bahwa ikan-ikan air tawar yang dipelihara di empang-empang diberi makanan kotoran manusia, sehingga kasusnya mirip dengan hewan jalalah. Pertanyaannya adalah bagaimana hukum memakan daging ikan jalalah ini? Wassalam bowoBowo

Konsultasi Masalah Umum : Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh

Alhamdulillahi rabbil `alamin, washshalatu wassalamu `ala sayyidil mursalin, wa ba`du,

Ikan lele itu terkadang memang memakan kotoran baik kotoran manusia maupun kotoran hewan. Sehingga banyak kalangan berselisih paham tentang hukum memakan daging lele itu. Dalam hal ini, para ulama pun banyak menulis tentang hukum memakan jallaalah, yaitu hewan yang memakan kotoran dan barang najis.

1. Jumhur Ulama

Jumhurul Fuqaha memandang bahwa hukum memakan hewan jallaalah atau hewan yang memakan najis dan kotoran itu makruh. Bila rasa dagingnya berubah menjadi bau. Termasuk makruh juga ujtuk meminum susunya dan atau memakan telurnya (kalau termasuk hewan bertelur).

2. Al-Malikiyah

Mereka memandang bahwa hewan yang makan najis dan kotoran itu hukumnya halal dan sama sekali tidak ada larangan untuk memakannya. Bahkan meski ada terasa perbedaan dengan bau dan sejenisnya. Sebab pada prinsipnya, yang dimakan itu bukan barang najis, tetapi daging hewan yang pasti sudah berubah dari kotoran menjadi daging. Artinya sudah berubah wujud.

3. Pendapat As-Syafi’i

Mereka mengatakan bahwa memakan jallaalah itu hukumnya bukan sekedar makruh melainkan haram. Namun menurut Asy-Syafi’iyyah, bila tidak ada perubahan pada dagingnya seperti bau dan sejenisnya, maka hukumnya halal meski pun hewan itu hanya makan yang najis saja.

4. Pendapat Al-Hanabilah

Mereka berpendapat bahwa memakan hewan yang makan kotoran itu makruh, bila lebih dominan makan yang najis-najis. Meskipun tidak ada pengaruh pada rasa dan bau dagingnya.

Dasar dari kedua pendapat di atas adalah hadits Rasulullah SAW :
Dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah SAW melarang memakan daging unta jallaalah, meminum susunya atau menungganginya. Dan haram untuk disembelih kecuali setelah 40 hari (tidak makan kotoran).

Proses Penghalalan

Semua fuqaha baik yang memakruhkan atau pun yang mengharamkan sepakat bahwa hewan yang makan kotoran dan najis itu akan menjadi halal dagingnya dengan cara diberi jeda waktu tertentu tidak memakan kotoran. Mereka mengistilahkan dengan dikurung (habs).

Hanya saja para ulama sekali lagi berbeda pendapat tentang berapa lama masa jeda dari mulai dari tidak makan kotoran itu sampai halal dimakan dagingnya.

Fuqaha Unta Sapi Kambing Ayam
Al-Hanafiyah 10 hari 10 hari 4 hari 3 hari
Al-Malikiyah x x x x
As-Syafi’iyyah 40 hari 30 hari 7 hari 3 hari
Al-Hanabilah 3 hari 3 hari 3 hari 3 hari

Wassalamu ‘ALaikum Wr. Wb.

Ahmad Sarwat, Lc

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

[ kirim pertanyaan ]

Leave a Reply

%d bloggers like this: