Tidak Ikut Pemilu Sebab Haram Menegur Pemimpin Terang-Terangan ? – Pertanyaan : ustadz, baru2 ini saya dialog dengan seorang teman yang mengharamkan pemilu.Diantara alasannya adalah tentang haramnya demokrasi yang didalamnya orang boleh mengkritik pemimpin secara terang-terangan. Menurutnya,mengkritik pemimpin harus dilakukan dengan sembunyi2 (digambarkannya dengan menggandeng tangan pemimpin itu dan menasehatinya), dan bila pemimpin itu tidak mendengarkan, umat wajib bersabar. sedangkan menurut saya ini adalah sikap terjajah. bagaimana menurut ustadz?Ziad

Konsultasi Sosial Politik :Jawaban:

Assalamu `alaikum Wr. Wb.
Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d

Bukankah ketika Umar bin Al-Khattab sedanbg berkhutbah di muka umum, tiba-tbia ada seorang wanita yang berdiri dan memprotes atas apa yang dikatakannya ? Apa yang dilakukan seorang Umar yang gagah perkasa yang syetan pun lari terbirit-birit kalau Umar lewat ? Apakah dia mengatakan bahwa wanita itu tidak beradad dan tidak menjalankan sopan santun ?

Tidak, sekali lagi tidak. Umar malah mengatkan tanpa sungkan dan malu di hadapan khalayak umum bahwa dirinya salah dan wanita itu benar.

Di lain peristiwa, ketika tahu bahwa Umar bin Khatab memakai pakaian yang menutupio tubuhnya, padahal jatah setiap orang sama dalam menerima bahan pakaian, umat Islam pun bertanya kepada Umar tentang ketidak-adilan ini yang mereka rasakan. Maka berdirilah Abudllah bin Umar menjelaskan bahwa dia telah menyerahkan pakaian jatahnya untuk ayahnya, sebab tubuh ayahnya itu jauh lebih besar dan jatah pakaian yang diterimanya tidak bisa menutupi auratnya.

Bahikan di masa lalu, ketika Musa diperintahkan untuk datang kepada Fir’aun, tidak ada aturan yang mewajibkannya untuk merahasiakan peringatannya itu. Musa tidak pernah datang kepada Firaun dengan diam-diam. Tetapi beliau datang dengan kepada tegak dan mengatakan,”Wahai Firaun, kamu telah melampaui batas”.

Dan Musa berkata: “Hai Fir’aun, sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari Tuhan semesta alam, wajib atasku tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah, kecuali yang hak. Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil bersama aku”. (QS.Al-Araf : 104)

Pergilah kepada Fir’aun; sesungguhnya ia telah melampaui batas”.(QS. Thaha : 24)

Dialog Musa dengan Firaun itu adalah dialog terbuka dan disaksikan oleh pembesar-pembesar negara. Bahkan dalam dialog-dialog itu, sesekali Firaun berusaha mempengaruhi majelis dengan melontarkan pertanyaan kepada mereka.

Berkata Fir’aun kepada orang-orang sekelilingnya: “Apakah kamu tidak mendengarkan?”

Jadi baik pemimpin muslim apalagi yang bukan muslim, berhak untuk ditegur di depan umum. Sebab dengan demikian, maka pemimpin itu tahu bahwa dirinya salah.

Meski demikian, tidak salah juga bila dalam rangka menegur itu dilakukan dengan cara yang baik. Namun sebagai orang yang dipilih oleh rakyat, maka rakyat pun perlu tahu apa yang telah dilakukan oleh pemimpinnya. Dan sang pemimpin harus selalu siap mendengarkan keluhan rakyatnya. Tidak boleh berdalih dan sembunyi dari tanggung-jawab.

Lagi pula pemilu itu bukan sekedar urusan tegur menegur penguasa, lebih dari itu adalah sebuah majelis dimana rakyat punya hak untuk memilih pemimpin yang baik yang siap menjalankan hukum Allah SWT di muka bumi ini. Kalau tidak ikut pemilu dan membiarkan panggung kekuasaan diisi oleh orang zalim, zindik dan munafik, maka pastilah yang tidak ikut memilih pemimpin yang baik itu ikut menanggung dosa sosial. Sebab mereka lari dari medan jihad yang ada di depan mata, hanya karena kekurang luasan wawasan mereka.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

[ kirim pertanyaan ]

Beri Nilai Artikel Ini:

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: