Nikah Dengan Wali Hakim – Pertanyaan : SAYA INGIN SEGERA MENIKAH, TAPI TIDAK PAKAI WALI NIKAH, CUKUP WALI HAKIM. TAPI WALI HAKIM TERSEBUT HANYA SEORANG KIAI/ORANG BALIGH YANG SEDIKIT MENGERTI TENTANG AGAMA. 1 ORANG TEMAN SAYA UNTUK MENJADI SAKSI DI PIHAK PEREMPUAN. ORANG TUA GADIS SUDAH MENINGGAL, KAKAK LAKI-LAKINYA JAUH. HUKUMNYA BAGAIMANA. HAMBA ALLAH 4/5 (1)
4/51

Konsultasi Nikah :Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh

Alhamdulillahi rabbil `alamin, washshalatu wassalamu `ala sayyidil mursalin, wa ba`du,

Syarat utama sebuah pernikahan yang syar’i itu adalah adanya wali yang melakukan akad dengan calon suami anak gadisnya. Sebab pada hakikatnya, justru wali itulah yang melakukan akad (perjanjian). Kedudukan wali dalam sebuah pernikahan adalah ibarat sebagai pemain utama. Lafaz akad nikah itu justru diucapkan oleh wali, bukan oleh pengantin wanita.

Wali berikrar (berkata),”Saya nikahkan kamu dengan anak kandung saya yang bernama fulanah dengan maskawin sekian”. Lalu calon suami itu menjawab, ”saya terima nikahnya fulanah anak kandung bapak dengan maskawin tersebut”.

Peristiwa itu harus disaksikan minimal oleh 2 orang muslim laki-laki yangtelah akil baligh dan adil sehingga menjadi resmi sebagai sebuah ikatan perkawinan.

Jadi wali adalah pelaku utama. Tidak ada nikah tanpa adanya wali. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW,”Tidak ada nikah tanpa wali mursyid dan dua saksi yang adil”.

Selanjutnya dalam proses akad itu, seorang wali boleh saja mewakilkan akad itu kepada orang lain yang dipercayainya untuk melakukan akad. Istilahnya adalah taukil. Mirip dengan seseorang yang hendak membeli suatu barang lalu mengutus orang lain untuk mewakilinya dalam transaksi. Pada hakikatnya, yang melakukan akad adalah wali. Seseorang tidak sah melakukan akad untuk anak wanita orang lain yang bukan anaknya sendiri, kecuali bila ada taukil (perwakilan) atau permintaan dari wali untuk melakukan akad.

Bila ayah kandung sudah meninggal, siapakah yang menjadi wali ? Tentu saja bukan hakim, karena masih ada sekian orang lagi yang berada pada urutan beikutnya untuk menjadi wali. Hingga terakhir bila seorang wanita sebatang kara, tidak punya ayah, kakek, saudara laki-laki, paman (saudara ayah), anak laki-laki paman, anak laki-laki dan lainya, barulah terakhir kali hakim punya peranan.

Rasulullah SAW bersabda,”Aku adalah wali bagi orang yang tidak punya wali”. Sabda beliau ini terkait dengan kedudukan beliau sebagai pemimpin umat.

Tetapi tidak bisa tiba-tiba hakim dijadikan wali sementara masih ada sekian deret orang yang posisinya sebagai wali.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

[ kirim pertanyaan ]

Beri Nilai Artikel Ini:

Istilah Percarian:
lafaz akad nikah wali hakim, lafadz akad nikah wali hakim, lafadz akad wali hakim, lafadz ijab dengan wali hakim, lafaz nikah wali hakim, sighot akad nikah wali hakim

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: