Apa Beda Taddabur Dan Mentafsir Ayat ? – Pertanyaan : Assalamualaikum wr wb, Ustadz rahimahullah, Kami ada pertanyaan sebagai berikut 1. Apa beda mentaddaburi dan mentafsirkan ayat Al Quran ? 2. Ada hadist yang melarang kita untuk mentafsiri al quran tanpa ilmu disertai ancaman dosa walaupun benar, bagaimana takwil atau maksud hadist tersebut, tentunya derajat hadist juga kami perlukan Hal tersebut kami tanyakan sebab dalam pengajian kami yang melibatkan orang ammah, saat kita coba mentaddaburi ayat Al Quran, oleh seorang jamaah dikecam dan dinyatakan bahwa kita tidak boleh melakukannya, dan menyebut hadist tsb. Kalau kita tidak boleh mencoba memahami Al Quran, lantas bagaimana ? Bukankah ayat Alquran kebanyakan ayat yang muhkamat dan jelas maksudnya. Mohon Penjelasan. Wassalam, Abu ImranAbu Imran

Konsultasi Masalah Umum :Jawaban:

Assalamu `alaikum Wr. Wb.
Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d

Tadabbur adalah aktifitas merenungkan dan meresapi makna yang terkandung di dalam Al-Quran Al-Karim. Sedangkan tafsir adalah menjelasan makna dan kandungan yang ada pada suatu ayat. Bedanya adalah yang satu merenungkan atau meresapi sedangkan yang lainnya adalah menjelaskan. Hampir mirip meski tetap ada bedanya.

Pengetian Tafsir

Tafsir itu berasal dari bahasa arab yang artinya adalah menyingkap sesuatu yang tertutup, seperti yang tercantum dalam kamus Lisanul Arab. Dan secara istilah menurut Abu Hayyan, tafsir itu adalah ilmu yang membahas tentang cara pengucapan lafaz Al-Quran Al-Kariem, petunjuknya, hukumnya, baik ketika berdiri sendiri maupun ketika tersusun dalam suatu rangkaian serta hal-hal yang melengkapinya.

Penafsiran Al-Quran Al-Kariem itu tidak boleh dilakukan oleh seorang biasa, melainkan dilakukan langsung oleh Rasulullah SAW. Sebab Rasulullah SAW itu adalah Al-Quran Al-Kariem yang berjalan. Selain itu yang berhak menafsirkan Al-Quran Al-Kariem adalah para shahabat Rasulullah SAW. Sebab mereka pernah hidup bersama Rasulullah SAW dan telah direkomendasikan sebagai penyebar agama Islam. Selanjutnya adalah murid-murid para shahabat Rasulullah SAW yang telah menimba ilmu dari sumber yang asli.

Sampai kepada kita, semua tafsir itu sudah menjadi bentuk tulisan yang tersusun rapi berjilid-jilid. Semua itu tidak lain merupakan tafsir ‘resmi’ yang berasal dari sumber yang asli, yaitu Rasulullah SAW, para shahabat dan tabi’in serta tabi’it tabi’in. Itulah yang kita sebut dengan tafsir Al-Quran Al-Kariem, yaitu keterangan resmi yang menjelaskan tiap makna Al-Quran Al-Kariem yang kita dapat secara resmi melalui riwayat-riwayat yang shahih dan bisa dipertanggung-jawabkan kebenarannya.

Kalau pada hari ini kita mengenal istilah bahwa seorang ustaz menafsrikan sebuah ayat Al-Quran Al-Kariem, sebenarnya dia bukan sedang menafsirkan, melainkan sedang membacakan tafsir Al-Quran Al-Kariem dari kitab-kitab tafsir. Yang menafsirkan sebenarnya bukan dia, melainkan rentetan riwayat emas yang bersumber dari mata air yang murni.

Pengetian Tadabbur

Adapun mentadabburkan ayat Al-Quran Al-Kariem itu berbeda maknanya dengan menafsirkannya. Sebab tadabbur itu maknanya meresapi, merenungkan dan menghayati ayat Al-Quran Al-Kariem berdasarkan tafsir yang sudah ada. Sehingga bicara tadabbur adal hbicara membuaka hati, sedangkan bicara tafsir adalah bicara riyawata yang tsiqah.

Ketika Allah SWT bicara tentang orang yang tidak mendatabburkan Al-Quran Al-Kariem, disebutkan bahwa orang itu hatinya ada penutup, sehingga tidak bisa meresapi dan menghayati apa yang terkandung di dalam Al-Quran Al-Kariem itu.

Maka apakah mereka tidak mentadabburkan (memperhatikan) Al Qur’an ? ataukah hati mereka terkunci?.(QS.Muhammad : 24)

Tadabbur dan Tafsir Harus Menyatu

Tentu tidak bisa dibenarkan seorang merenung-renung sendiri atau mengarang-ngarang sendiri pengertian ayat quran hanya dari pemikiran dan apa yang terlintas di kepalanya. Apalagi hanya dengan membaca sekilas terjemahan yang sangat tidak lengkap itu. Sebab siapakah yang bisa mempertanggung-jawabkan bahwa hasil renungannya itu sesuai dengan maunya Allah SWT ketika menurunkan ayat itu ?

Karena itu seorang yang ingin mentadabburkan Al-Quran Al-Kariem wajiblah hukumnya merujuk kepada kitab tafsir yang muktamad. Karena kalau tidak, maka yang terjadi adalah tafsir birra’yi al-mazmum, yaitu penafsiran Al-Quran Al-Kariem dengan logika yang tercela. Tidak bisa dibenarkan isinya dan tidak bisa dipertanggung jawabkan.

Kalau pun diterima seorang ulama menafsrikan Al-Quran Al-Kariem dengan ra’yunya, maka ada sekian banyak syarat yang terpenuhi pada dirinya dan juga pada metodenya itu. Sehingga bisa masuk dalam kategori penafsiran birra’yi al-mahmud, dengan logika namun terpuji.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

[ kirim pertanyaan ]

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

[ kirim pertanyaan ]

Beri Nilai Artikel Ini:

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: