Saya Ingin Menikahi Ahl Kitab (kristen Dan Yahudi) – Pertanyaan : Asalamualaikum wr. wb Sekarang ini saya sedang merasakan perasaan cinta terhadap seorang wanita.Dari dulu saya selalu percaya bahwa rasa cinta terhadap wanita adalah rahmat dari Allah dan sekaligus juga merupakan ujian yang harus disikapi secara benar. Dan ternyata wanita tersebut menganut agama nasrani (kristen katholik). Timbul pertanyaan dalam hati saya. Karena itu saya meminta petunjuk kepada Allah SWT, kemudian saya membuka Quran surah Al Maidah ayat 5. Dalam ayat tersebut dinyatakan halalnya menikahi wanita ahl kitab yang menjaga kehormatannya. Saya sudah mengamati wanita tersebut dan tampaknya dia adalah seorang wanita yang menjaga kehormatannya. Kemudian saya mencoba melihat beberapa kitab tafsir. Disinilah saya kembali merasa kebingungan. karena isi tafsir tersebut berbeda-beda. Ada yang memperbolehkan pernikahan tersebut, ada yang memperbolehkan dengan syarat, dan ada yang tidak memperbolehkan. Karena itulah saya ingin berkonsultasi dengan sahabat mengenai ini. Perlu sahabat ketahui bahwa setiap waktunya saya merasakan cinta ini semakin tumbuh, sedangkan saya sudah dan akan terus,insyaallah, berdoa dan menyerahkan segala sesuatu kepada Allah SWT. Saya mohon pendapat dari sahabat, semoga pendapat tersebut merupakan salah satu jalan petunjuk dari Allah SWT kepada saya.Terima kasih Wasalamualaikum wr. wb Axxx

Konsultasi Nikah : Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh

Alhamdulillahi rabbil `alamin, washshalatu wassalamu `ala sayyidil mursalin, wa ba`du,

Perempuan ahli kitab baik dari kalangan Yahudi maupun Nasrani, oleh al-Quran telah diizinkan untuk mengawini mereka, untuk mengadakan pergaulan dengan mereka. Dan mereka ini masih dinilai sebagai orang yang beragama samawi sekalipun agama itu telah diubah dan diganti.

Untuk itulah, makanannya boleh kita makan dan perempuan-perempuannya boleh kita kawin. Seperti firman Allah:

“Makanan-makanan ahli kitab adalah halal buat kamu begitu juga makananmu halal buat mereka. Perempuan-perempuan mu’minah yang baik (halal buat kamu) begitu juga perempuan-perempuan yang baik-baik dari orang-orang yang pernah diberi kitab sebelum kamu, apabila mereka itu kamu beri maskawin, sedang kamu kawini mereka (dengan cara yang baik) bukan berzina dan bukan kamu jadikan gundik.” (al-Maidah: 5)

Ini adalah salah satu bentuk toleransi dalam Islam yang amat jarang sekali dijumpai taranya dalam agama-agama lain. Betapapun ahli kitab itu dinilai sebagai kufur dan sesat, namun tokh seorang muslim masih diperkenankan, bahwa isterinya, pengurus rumahtangganya, ketenteraman hatinya, menyerahkan rahasianya dan ibu anak-anaknya itu dari ahli kitab dan dia masih tetap berpegang pada agamanya juga.

Kita katakan boleh menyerahkan rahasianya kepada isterinya dari ahli kitab itu, karena Allah berfirman sendiri tentang masalah perkawinan dan rahasianya sebagai berikut:

“Di antara tanda-tanda kekuasaan Allah ialah Dia menjadikan untuk kamu dari diri-diri kamu sendiri jodoh-jodohnya supaya kamu dapat tenang dengan jodoh itu; dan Dia telah menjadikan di antara kamu cinta dan kasih-sayang.” (QS Ar-Rum: 21)

Di sini ada suatu peringatan yang harus kita ketengahkan, yaitu: Bahwa seorang muslimah yang fanatik kepada agamanya akan lebih baik daripada yang hanya menerima warisan dari nenek-moyangnya. Karena itu Rasulullah s.a.w. mengajarkan kepada kita tentang memilih jodoh dengan kata-kata sebagai berikut:

“Pilihlah perempuan yang beragama, sebab kalau tidak, celakalah dirimu.” (Riwayat Bukhari)

Dengan demikian, maka setiap muslimah betapapun keadaannya adalah lebih baik bagi seorang muslim, daripada perempuan ahli kitab.

Kemudian kalau seorang muslim mengkawatirkan pengaruh kepercayaan isterinya ini akan menular kepada anak-anaknya termasuk juga pendidikannya, maka dia harus melepaskan dirinya –dari perempuan ahli kitab tersebut– demi menjaga agama dan menjauhkan diri dari marabahaya.

Dan kalau jumlah kaum muslimin di suatu negara termasuk minoritas, maka yang lebih baik dan menurut pendapat yang kuat, laki-laki muslim tidak boleh kawin dengan perempuan yang bukan muslimah. Sebab dengan dibolehkannya mengawini perempuan-perempuan lain dalam situasi seperti ini di mana perempuan-perempuan muslimah tidak dibolehkan kawin dengan laki-laki lain, akan mematikan puteri-puteri Islam atau tidak sedikit dari kalangan mereka itu yang akan terlantar.

Untuk itu, maka jelas bahayanya bagi masyarakat Islam. Dan bahaya ini baru mungkin dapat diatasi, yaitu dengan mempersempit dan membatasi masalah perkawinan yang mubah ini sampai kepada suatu keadaan yang mungkin.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

[ kirim pertanyaan ]

Leave a Reply

%d bloggers like this: