Perbedaan Pandangan Tentang Ashnaf Zakat – Pertanyaan : Ustadz yang semoga dimulyakan Allah SWT. Assalamu’alaikum wr.wb. Saya lihat masih ada perbedaan pendapat yang tajam dan terus berlangsung tentang boleh tidaknya mempergunakan sebagian Zakat Maal ex Fii Sabilillah untuk pembangunan fisik masjid meskipun sangat dibutuhkan umat di suatu daerah dalam rangka syi’ar Islam. Sebagian Jumhur Ulama, termasuk para Ulama Kontemporer sekaliber DR.Yusuf Al Qadrawi dll. juga di dalam negeri semisal K.H. Didin dari DD Republika dan Ustadz Yayasan Al-Sofwah cenderung membolehkannya dengan mengqiaskan ‘perjuangan di jalan Allah’ dalam arti luas, yang di zaman Rasulullah saw. belum ada. Tapi ada sebagian alim ulama yang tetap tidak membolehkan tanpa kompromi (strict to the rule) dengan merujuk QS.At-Taubah:60. Pertanyaan saya : 1) Perbedaan penafsiran seperti ini apa namanya, apa bisa disebut khilafiyah, perbedaan ijtihad atau apa? 2) Ustadz sendiri cenderung kepada pendapat yang mana? 3) Adakah dosa jika kita memilih pendapat para ulama kontemporer yang notabene juga merupakan ulama-ulama besar? Terima kasih atas pendapat dan penjelasan Ustadz. Jazakumullahu khairon katsiro. Wass. Wr.Wb.Sudjana Saputra

Konsultasi Zakat : Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh

Alhamdulillahi rabbil `alamin, washshalatu wassalamu `ala sayyidil mursalin, wa ba`du,

Memang benar apa yang Anda katakan bahwa para ulama berbda pendapat tentang siapa saja yang berhak mendapatkan zakat.

Kalangan ulama kontemporer yang Anda sebutkan itu memang umumnya mengqiyaskan atau melebarkan penafsiran dari fi sabilillah sampai kepada bentuk-bentuk jihad lainnya di luar peperangan. Buat mereka hal itu bisa dikategorikan jihad juga dan tidak berhenti kepada perang secara pisik saja.

Sebaliknya, kalangan yang strict to the rule pun punya hujjah yang tidak bisa dianggap enteng, yaitu tidak semaunya melebar-lebarkan pengertian dari tiap-tiap asnaf begitu saja. Karena menurut mereka, Rasulullah SAW dahulu memang hanya memberi kepada mujahidin yang ikut perang pisik semata. Sedangkan membangun masjid dan lainnya, menurut mereka tidaklah bisa diqiyaskan dengan jihad fi sabilillah itu sendiri.

Inilah yang kita sebut dengan khilaf di antara para ulama. Khilaf sendiri bukan berarti alpa, lalai atau berbuata kesalahan seperti dalam pengertian bahasa indonesia. Khilaf dalam bahasa arab maknanya adalah berpeda pendapat yang dilatar belakangi oleh bedanya metode ijtihad yang mereka lakukan.

2. Kami memandang bila jihad dalam bentuk pisik memang ada dan membutuhkan dana, tentu saja harus lebih diprioritaskan. Namun bila dilihat dari data yang ada, jihad dalam bentuk konflik pisik memang tidak terjadi di negeri kita. Yang banyak justru adalah jihad-jidah dalam makna yang lebih luas.

Namun paling tidak, sebaiknya kita tidak secara sederhana memasukkan semua jenis kegiatan yang berbau ke-Islaman sebagai jihad. Begitu juga membangun masjid dan bangunan lainnya. Sebab jihad fi sabilillah itu punya karakterisitik tersediri, misalnya bahwa jihad pisik itu beresiko kepada kematian seseorang. Sedangkan membangun masjid –meski punya nilai perjuangan- namun tidak ada resiko kematian.

Selain itu jihad pisik itu umumnya adalah untuk mempertahankan dan memajukan jengkal demi jengkal wilayah Islam, sedangkan membangun masjid tidak selalu untuk mempertahankan wilayah Islam. Bahkan tidak jarang terjadi masjid itu ngumpul di tempat yang berdekatan padahal jamaahnya kurang atau sepi. Sehingga lebih sebagai upaya show of force ketimbang mempertahankan eksistensi dakwah Islam.

Apa yang dicontohkan oleh Dr Yusuf Al-Qaradawi di dalam kitabnya itu kami kira cukup masuk akal. Yaitu untuk mendirikan islamic center di berbagai negara minoritas muslim. Kedudukan islamic center itu mrip sekali dengan para mujahidin yang berjuang untuk meluaskan Islam di manca negara. Sebab dahulu, jihad itu memang berbentuk pergi ke medan perang yang letak bisa saja menyemberangi benua. Wajarlah kalau para mujahidin mendapatkan ibalan harta zakat.

Tapi kalau pengurus masjid yang duduk enak-enak di rumahnya, berjuang tapi tanpa resiko, tanpa kepenatan dan tanpa nilai pengorbanan baik keluarga, harta dan nyawa, lalu bisa mendapatkan harta zakat untuk membangun masjid, bahkan orientasi dana itu lebih kepada menghias masjid dengan menara atau kubah yang menjulang, atau sekedar membuat kaligrafi warna warni di dalamnya, agaknya semua itu kurang menyentuh jiwa jihad fi sabilillah itu sendiri.

Apalagi bila masjid itu nantinya malah kosong dan sepi dari jamaah. Tidak terisi dengan pembinaan, pengajaran dan semangat jihad, maka sekain jauh dari nilai jihad fi sabilillah.

Bahkan kalau sampai masjid itu hanya dijadikan rebutan pengaruh antara pengurus sebagaimana yang kerap terjadi, sebaiknya janganlah menghambur-hamburkan harta zakat untuk masjid.

Karena itu sebaiknya semangat membangun masjid haruslah didahului dengan semangat membangun pribadi dan masyarakat muslim. Bukankah dahulu Rasulullah SAW membangun manusia selama 13 tahun dan barulah setelah tercipta generasi teladan, beliau mulai membangun masjid.

3. Selama kita tidak mampu berijtihad, maka kita dibolehkan untuk ittiba’ atau mengikuti mereka yang bisa berijtihad. Dan bagi ulama yang sudah sampai pada derajat sebagai mujtahid, bila dalam ijtihadnya itu salah, dia tetap mendapatkan pahala. Namun bila ijtihadnya benar, maka dia mendapat dua pahala sekaligus.

Sedangkan orang awam seperti kita, bila melakukan ijtihad sendiri tanpa bekal dan kemampuan yang cukup, hasilnya justru bisa menyesatkan. Karena itulah wajib bagi kita untuk ittiba’ kepada para mujtahid tadi. Lepas dari masalah apakah ijtihadnya itu benar atau salah.

Namun tidak ada salahnya bila kita juga mulai belajar dan mematangkan pemahaman kita dan juga melihat bagaimana para mujtahid itu mengambil istimbath hukum dari sekian banyak dalil yang tersebar. Paling tidak, ketika mengikuti pendapat mereka, kita pun ikut menyelami dasar-dasar dalil yang mereka gunakan.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

[ kirim pertanyaan ]

Leave a Reply

%d bloggers like this: