Bacaan Sholawat Nariyah : Bid’ah kah ? – Pertanyaan : Assalamualaikum wr wb, Pak Ustadz, saya sering mendengarkan ulama-2 NU sering mengajarkan bacaan sholawat nariyah di pengajian-2. Apakah bacaan sholawat tsb ada tuntunannya? Katanya kalau kita membaca sekian kali sehabis sholat lima waktu akan ada khasiatnya. Benarkah? Demikian pula bacaan sholawat yang lain. Trus bacaan sholawat yang benar itu yang bagaimana? Wassalamualaikum wr wb.Budhi H

Konsultasi Masalah Umum :Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh

Alhamdulillahi rabbil `alamin, washshalatu wassalamu `ala sayyidil mursalin, wa ba`du,

Lafaz Shalawat Nariyah itu bukan dari Rasulullah SAW, juga bukan dari para shahabat dan salafus shalih. Lafaz itu ditulis oleh para tokokh kemudian.

Sehingga lepas dari kontroversi dalam maknanya, membaca shalawat khusus nariyah dengan lafaz seperti itu pada setiap habis shalat, bukanlah termasuk tata cara shalat yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan juga tidak dituliskan dalam fiqih Islam.

Mungkin bisa saja seseorang melakukan bacaan shalat sehabis shalat untuk dirinya sendiri, dengan lafaz yang dia kehendaki, namun perbuatan itu bukanlah sesuatu yang bersifat standar dalam shalat. Artinya seseorang tidak dibenarkan untuk menjadikan rangkaian bacaan shalawat nariyah itu sebagai bagian dari rangkaian ibadah shalat.

Begitu juga masalah khasiatnya, kita tentu tidak wajib menerima dan meyakini suatu hal selama memang ada riwayat yang shahih dari Rasulullah SAW. Karena hanya perkataan beliau sajalah yang bisa diterima. Sedangkan perkataan orang lain, selama masih ada dasarnya dari Rasulullah SAW, bisa kita terima. Namun bila perkataan itu tidak ada dasarnya sama sekali dari pengajar risalah Islam ini, tentu saja tertolak.

Bahwa membaca shalawat itu diperintahkan dan berpahala, memang benar. Dan Al-Quran Al-Kariem serta As-Sunnah An-Nabawiyah memang memerintahkannya. Namun bahwa bila melafazkan jenis shalawat tertentu sekian kali setiap habis shalat akan memberikan pahala sekian dan sekian, tentu kita harus menelusuri dasar pernyataan itu, adakah Allah SWT dan Rasulullah SAW mengatakan hal itu ? Bahkan meksi dengan hdits yang dhaif sekalipun, karena hadits dhaif oleh beberapa ulama masih bisa diterima untuk masalah fadhailul a’mal. Tapi bila tidak ada sama sekali, dari mana kita bisa mengklaim bahwa pahalanya adalah anu dan anu ?

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

[ kirim pertanyaan ]

Beri Nilai Artikel Ini:

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: