5. Bergadang di Malam Ramadhan

5. BEGADANG Dl MALAM RAMADHAN

 

Di sebagian daerah, kaum Muslimin terbiasa mengisi malam Ramadhan dengan tidak tidur sampai Subuh. Ihyaul Lail (menghidupkan malam) pada bulan Ramadhan memang dicontohkan oleh Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم , khususnya di sepuluh malam terakhir.

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

‘Aisyah عزّوجلّ berkata, “Jika masuk sepuluh malam terakhir, Nabi mengencangkan sarung beliau, menghidupkan malam, dan membangunkan keluarga beliau.” (HRal-Bukhari no. 1920 dan Muslim no. 1174)

Namun perlu diketahui bahwa yang dimaksud dengan menghidupkan malam di sini adalah mengisinya dengan ibadah, seperti shalat, membaca al-Quran, atau dzikir. Imam al-Munawi رحمه الله berkata, “Maksudnya meninggalkan tidur -yang merupakan saudara kematian-dan beribadah di sebagian besar malam, tidak sepanjang malam dengan dalil perkataan ‘Aisyah, ‘Aku tidak mengetahui beliau pernah qiyam sepanjang malam sampai pagi’.”1 Jika begadang diisi dengan kemungkaran seperti menonton acara-acara yang tidak baik di TV, permainan-permainan yang dilarang agama, atau ibadah yang tidak ada contohnya dari Nabi صلى الله عليه وسلم, maka tidur lebih baik dari itu semua. Apalagi jika kegiatan begadang ini membuat kita lalai dari kewajiban agama seperti shalat Subuh berjamaah. Orang bijak mengatakan,

مَنْ شَغَلَهُ الْفَرْضُ عَنِ الْنَفْلِ فَهُوَ مَعْذُورٌ وَمَنْ شَغَلَهُ النَّفْلُ عَنِ تاْفَرْضِ فَهُوَ مَغْرُورٌ

“Barang siapa melewatkan yang Sunnah karena tersibukkan kewajiban, bisa dimaklumi. Dan barang siapa melewatkan kewajiban karena tersibukkan oleh yang sunnah, maka ia telah tertipu.”2


1.     Faidhul Qadir 5/132.

2.     Fathul Bari 11/343.

Previous

Next

Beri Nilai Artikel Ini:

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: