4. Bercengkrama dan Mencium Isteri

4. Bercengkrama dan Mencium Isteri

 

Aisyah ?رضي الله عنها  pernah berkata:

كَا نَ رَسُولُ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ وَهُوَ صَا ئِمٌ وَيُبَا ثِرُ وَهُوَ صَا ئِمٌ وَلَكِنَّحُ كَانَ أَمْلَكَكُم لِاِرْبِهِ

“Adalah Rasulullah صلي الله عليه وسلم  pernah mencium dalam keadaan berpuasa dan bercengkrama dalam keadaan puasa, akan tetapi beliau adalah orang yang paling bisa menahan diri” (HR. Bukhari 4/131, Muslim 1106)

“Kami pernah berada di sisi Nabi صلي الله عليه وسلم, datanglah seorang pemuda seraya berkata, “Ya Rasulullah, bolehkah aku mencium dalam keadaan puasa ?” Beliau menjawab, “Tidak”. Datang pula seorang yang sudah tua dan dia berkata : “Ya Rasulullah, bolehkah aku mencium dalam keadaan puasa ?”. Beliau menjawab: “Ya” sebagian kami memandang kepada teman-temannya, maka Rasulullah صلي الله عليه وسلم  bersabda:

إِنَّ الشَيْخَ يَـمْلِكُ نَفْسَهُ

“Sesungguhnya orang tua itu (lebih bisa) mengendalikan nafsunya”.1




1.    HR. Ahmad 2/185,221 dari jalan Ibnu Lahi’ah dari yazid bin Abu Hubaib dari Qaushar At-Tufibi darinya. Sanadnya dhaif karena dhaifnya Ibnu Lahi’ah, tetapi punya syahid (pendukung) dalam riwayat Thabrani dalam Al-Kabir 11040 dari jalan Habib bin Abi Tsabit dari Mujahid dari Ibnu Abbas, Habib seorang mudallis dan telah ‘an-‘anah, dengan syahid ini haditsnya menjadi hasan, lihat Faqih AL-Mutafaqih 192-193 karena padanya terdapat hadits dari jalan-jalan yang lain.

Previous

Next

Leave a Reply

%d bloggers like this: