BIla Haid Ketika Tgl 8 Dulhijjah Apa Saja Yang Boleh Dilakukan? – Pertanyaan : Assalaamu’alaikum wR.wB. Tolong jelaskan bila wanita menemui kasus bahwa dia mulai haidh ketika tanggal 8 Dzulhijjjah sewaktu berhaji. Sedangkan biasanya dia haid 7 hari. Ibadah apa saja yang harus dilakukan agar tetap sah Rukun dan wajib haji? Wassalaamu’alaikum wR.wB.Abu Izzan

Konsultasi Ibadah :Jawaban:

Assalamu `alaikum Wr. Wb.
Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d

Dari semua rangkaian ritual haji, hanya tawaf saja yang mensyaratkan harus suci dari hadats kecil dan besar. Sedangkan wuquf di Arafah, mabit di Muzdalifah, melontar jamarat, mabit di Mina bahkan termasuk sa’i, tidalah mensyaratkan suci dari kedua hadats itu.

Puncak dari ritual haji adalah wuquf di Arafah, sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah SAW bahwa :

Haji itu adalah (wuquf di) Arafah.

Ritual ini tidak mensyaratkan wanita yang suci dari haidh, sehingga dia tetap bisa ikut pergi ke Arafah untuk wuquf. Bahkan orang yang sedang sakit parah sekalipun tetap bisa ikut wuquf, meski tubuhnya penuh dengan selang di dalam ambulan yang khusus disiapkan agar dia tidak tertinggal wuqufnya.

Apalagi hanya sekedar haidh saja, maka tentu tidak ada halangan untuk melakukan wuquf di Arafah.

Satu-satunya ritual dalam ibadah haji yang tidak boleh dilakukan wanita haidh adalah tawaf, dalam hal ini tentu tawaf ifadhah. Hal ini sesuai dengan sbda Rasulullah SAW ketika Aisyah ra mendapat haidh saat pergi haji. Beliau bersabda :

Kerjakanlah semua urusan haji kecuali tawaf di ka’bah hingga kamu mandi HR. Muslim : 1211-1191)

Selain itu hadits Aisyah dan Ummi Salamah yang kita dapati pun senada :

Aisyah dan Ummu Salamah berkata,”Bila seorangwanita tawaf di ka’bah lalu shalat dua rakaat, tiba-tiba mendapat haidh, maka ber-sa’i-lah antara Shafa dan Marwah. (HR. Abu Said bin Manshur)

Tawaf Ifadhah yang tidak boleh dilakukan itu harus dikerjakan karena merupakan bagian dari rukun haji. Sehingga haji itu tidak syah bila tawaf ifadhah tidak dikerjakan. Untuk itu bagi wanita haidh, ada beberapa alternatif :

  1. Menggunakan obat penunda haidh sesuai petunjuk dokter. Praktek ini syah dan dibolehkan untuk para wanita agar bisa menyelesaikan ibadah haji dengan sempurna dan leluasa. Para ulama sepakat atas kebolehan penggunaannya, asal sesuai dengan petunjuk dokter.
  2. Menunggu hingga selesai haidh dan mandi. Karena tawaf Ifadhah masih boleh dikerjakan meski bukan pada hari tanggal 10 Zulhijjah. Boleh dikerjakan selama hari tasyriq, bahkan hingga akhir bulan Zulhijjah sekalipun.

    Namun bila sudah diluar hari tasyriq, ulama terutama dari kalangan Al-Hanafiyah mengatakan ada kewajiban untuk membayar dam, yaitu menyembelih seekor kambing.

    Sedangkan umumnya ulama lainnya seperti Al-Malikyah, As-Syafi’iyyah dam Al-Hanabilah mengatakan bahwa meski sudah lewat hari tasyriq, tetap saja boleh melakukan tawaf Ifadhah dan tidak ada kewajiban untuk membayar DAM sama sekali.

    Khusus Al-Malikyah mengatakan bahwa DAM hanya wajib bila tawaf Ifadhah itu dikerjakan sudah di luar bulan Zulhijjah. Namun selama masih pada bulan Zulhijjah, syah dikerjakan tanpa ada kewajiban membayar DAM.

    Jadi alnernatif kedua ini adalah tetap tinggal di Mekkah sampai haidhnya selesai, lalu mandi dan tawaf ifadhah.

    Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
    Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

    [ kirim pertanyaan ]

Beri Nilai Artikel Ini:

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: