KELUARGA GOTONG ROYONG

KELUARGA GOTONG ROYONG

Oleh Indah Prihanande
7 Mar 06 09:57 WIB

Seorang ibu selalu terbangun di pukul 3 ketika sang fajar mulai menapaki bumi. Anak–anaknya masih tertidur. Beliau berjalan ke dapur, menyalakan tungku dengan bingkahan kayu kering yang disiram dengan sedikit minyak tanah. Asap mulai merambat naik, mengepul. Rutinitas pagi dimulai: Menanak nasi, menghangatkan gulai tahu dan telur, membuat sambal goreng, perkedel dan lain – lainnya. Masakan khas untuk dijual di warung nasi yang sangat sederhana.

Jam 6:30 pagi warung sudah mulai dibuka. Masakan yang dimasak dirumah dibawa kepasar, anak – anak bergotong royong. Anak pertama dan bapak bertugas membuka warung. Mereka membawa termos yang berisi nasi panas mengepul dan ceret teko berisi air yang tidak kalah panasnya. Anak kedua bertugas membawa masakan gulai ikan dan lain – lain. Anak ketiga bertugas membawa kue, perkedel dan telur goreng yang masih hangat. Anak keempat tugasnya agak ringan, dia membawakan serbet dan taplak yang baru selesai dicuci kemarin.
Keempat anak tersebut pergi kepasar dengan mengenakan seragam sekolah. Dari pasar, mereka langsung menuju sekolahnya masing – masing.

Sepulang sekolah, semua anaknya secara rutin dan otomatis akan pulang. Bukan ke rumah, melainkan menuju warung. Mereka makan siang di luar, di warung nasi milik mereka. Pada menit berikutnya mereka akan berebutan untuk membaca koran langganannya. Kemudian bapak istirahat siang, dan anak – anak menggantikan sementara tugas bapak diwarung. Tidak jarang, salah satu anaknya harus menggeser dan naik ke atas bangku untuk melayani pembeli. Karena umur dan fisiknya belumlah cukup untuk melakukan tugas tersebut. Anak yang lain mencuci piring dan mengelap meja. Untuk sementara, warung dijaga oleh petugas berseragam. Bukan petugas sebagaiman yang biasa kita lihat di restoran fastfood. Namun petugas anak – anak yang berseragam sekolah.

Kegiatan rutin tahunan yang dilakukan bapak mereka setiap bulan juli – agustus adalah meminjam uang ke sebuah lembaga keuangan yang terdapat di desa tersebut. Penduduk setempat biasa menyebutnya bank keliling. Maklum, petugas menagih pelunasan hutang secara harian dengan cara berkeliling dari satu nasabah ke nasabah lainnya. Pinjaman tersebut terpaksa dilakukan untuk melunasi bayaran sekolah yang menunggak dalam bilangan bulan yang cukup banyak. Ke tujuh anaknya yang sekolah membutuhkan biaya yang luamayan besar, warung tersebut tidak bisa memenuhi semua kebutuhan. Kalau pinjaman masih juga tidak mencukupi, maka bapak tersebut akan pergi menghadap ke sekolah. Agar anaknya bisa mendapatkan keringanan untuk menunda pembayaran dan diizinkan untuk ikut ujian.

Waktu terus melesat. Kesulitan ekonomi dalam mencukupi setiap kebutuhan selalu datang setiap saat. Bukan hal yang aneh jika keluarga tersebut mengalami pengusiran dari satu kontrakan ke kontrakan yang lain. Mereka, sebuah keluarga perantauan dari tanah seberang yang jauh dari sanak saudara, seperti biasa, motif ekonomilah yang menghantarkan mereka berjauhan dengan sanak family. Mereka berusaha untuk bertemu dengan nasib yang lebih baik. Semoga dengan begitu, takdir akan mempertemukan mereka dengan segala mimipi yang mereka punya. Orang tuanya menyimpan mimpi agar ke tujuh anaknya bisa sekolah dengan baik dan bisa mendapatkan wawasan yang baik. Mereka tidak ingin terkungkung oleh kondisi kesulitan ekonomi yang menjeratnya.

Walaupun tidak punya uang, sang bapak senantiasa mewajibkan diri untuk membeli koran harian nasional. Bapak rutin membelikan anak – anaknya majalah yang sudah kedaluarsa. Semua diajarkan untuk gemar membaca.

Perjuangan orang tua tersebut tidak sia – sia. Hampir semua anaknya mendapatkan beasiswa. Terlebih kedua anaknya bisa masuk ke sekolah tinggi akuntansi yang dibiayai negara dan menjadi pegawai Depkeu. Bahkan salah satu dari anak tersebut bisa menyelesaikan beasiswa master di Australia dengan program IT. Anaknya sering mengikuti pelatihan ke luar negeri dan menjadi pengajar yang sangat dibutuhkan didepartemen tempatnya bekerja. Kemudian, separuh dari anaknya bisa lulus sarjana dan mempunyai pekerjaan yang relatif baik. Separuhnya lagi menjadi pedagang kecil yang mandiri dan tidak tergantung kepada orang tua.

Untuk ukuran dengan latar belakang ekonomi seperti itu adalah suatu hal yang sangat ajaib. Sebuah harmonisasi cerita yang tersimpan sejuta kisah dalam melewati setiap babak peristiwa hingga mencapai buah yang manis untuk dinikmati sekarang. Buah dari kerja keras dan do’a. dan kebaikan Allah semata hingga menggiring semua langkah setiap individu pada keluarga tersebut mempunyai daya juang yang tinggi, mempunyai cita – cita yang tinggi pula. Allah memberikan karuniaNYA dengan cara memberikan kekuatan kepada mereka semua untuk bisa melewati setiap proses penempaan kesulitan. Semua kesulitan tersebut mereka lewati dengan bahu membahu dan kerjasama. Jika satu kakaknya telah lulus dan mempunyai penghasilan, maka secara otomatis akan terjadi estafet tanggung jawab. Dia akan mengambil peran untuk mengambil tanggung jawab ekonomi keluarga secara sukarela.

Kita pun, sangat mungkin untuk bisa menjadi seperti itu, tidak mesti dalam alur cerita yang sama persis. Namun semua bisa kita terapkan dalam kehidupan kita sehari – hari. Bahwa kita bisa bekerja sama dengan adik, kakak, orang tua dan saudara lainnya. Kesulitan akan lebih mudah kita atasi dengan kebersamaan dan gotong royong. Hal tersebut bisa dibina dan ditanamkan terlebih dahulu untuk diri kita sendiri. Kita bisa mengukurnya dengan barometer sejauh mana tingkat kepedulian kita terhadap orang tua kita, sejauh mana tingkat kepekaan kita untuk meraba setiap kesulitan kakak dan adik kita? Sudahkah kita meluangkan waktu untuk bersilaturahmi dengan adik dan kakak kita yang sudah hidup terpisah? Atau jangan – jangan hanya untuk sekadar meneleponpun kita enggan untuk memulai. Percayalah, bahwa kita butuh kedekatan dengan saudara sendiri. Kita butuh berbincang dan berbagi rasa dengan mereka, kita pun butuh untuk melihat mereka bahagia. Mengapa untuk teman sejawat di kantor kita bisa seperti saudara sedangkan untuk saudara sendiri malah seperti tidak ada ikatan apa – apa? Mulai saja sekarang, tidak ada kata terlambat… Semoga dengan kesungguhan kita dalam menjalin persaudaraan akan mendatangkan karunia Allah kepada kita. Hingga kita merasa mudah dan ringan dalam melewati setiap episode cerita hidup.

nenda_2001@yahoo.com

Sebelumnya:

Mencintai Rasulullah

Pulsa Rp 20 Ribu dan Pizza Hut

20 Tahun Mencari Keadilan

Tersesat di Jalan Yang Benar

Janda Tua di Gubuk Tak Berjendela

Beri Nilai Artikel Ini:

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: