Malam Takbiran Memberi Sesaji Kepada Ruh Orang Tua – Pertanyaan : Assalamualaikum Wr. Wb. Saya ada pertanyaan, ketika saya berkunjung ke rumah teman saya pada saat malam takbiran, saya melihat ada sesaji berupa kembang, segelas teh, dan kopi, menurut teman saya orang tuanya mempunyai kebiasaan (turun temurun) untuk menyediakan sesaji berupa kembang, segelas teh, dan kopi pada saat menjelang hari raya Idul Fitri, biasanya pada saat malam takbiran. Tujuan menyediakan sesaji tersebut adalah bukan untuk memberi makan para arwah leluhur tapi menurut beliau adalah supaya mereka yang sudah meninggal tersebut ikut merayakan hari raya tersebut, dan bagi kita yang masih hidup masih mengingat mereka yang sudah meninggal. Apa hukumnya bagi orang tua teman saya tersebut, apakah termasuk sirik dan bagaimana caranya untuk mengingatkan beliau agar meninggalkan kebiasaannya tersebut, mengingat yang bersangkutan sudah cukup tua dan perasannya sangat sensitif, teman saya takut menyinggung perasaan orang tuanya. Terima kasih atas jawabannya. Wassalam.Rian

Konsultasi Aqidah : Jawaban:

Assalamu `alaikum Wr. Wb.
Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d

Perbuatan itu jelas-jelas merupakan ajaran dari syetan yang terkutuk. Selain bid’ah, perbuatan itu memang sebuah indikator dari praktek kemusyrikan yang dibungkus dengan tipuan kesesatan. Karena dihubung-hubungkan dengan Hari Raya ‘Iedul Fithri yang terkesan sesuai dengan agama Islam.

Padahal kalaulah benar arwah orang tua itu ingin dibahagiakan, bukanlah dengan memberi sesajen gula, kopi, kembang atau segelas teh. Tapi kirimilah mereka pahala doa dari anak yang shaleh, atau pahala dari harta peninggalannya yang diinfaqkan di jalan Allah SWT, atau dengan pengamalan dari ilmu yang pernah mereka ajarakan.

Karena Rasulullah SAW bersabda :

Apabila anak Adam meninggal, maka semua pahala amalnya terputus kecuali tiga : [1] Shadaqah jariyah, atau [2] ilmu yang bermanfaat, atau [3] anak shalih yang mendoakannya. (HR. )

Dan untuk itu tidak boleh dikaitkan dengan urusan malam takbiran, karena sunnahnya bukan untuk mengirim-ngirim pahala kepada ruh orang mati. Yang disunnahkan pada malam itu adalah melakukan takbir.

Jadi jelaslah bahwa praktek itu memang maunya syetan jahat yang menghembuskan angin kebodohan kepada umat Islam. Dan ketahuilah bahwa penyebab dari adanya praktek syirik seperti itu karena umat Islam ini jauh dari ulama dan majelis ilmu. Sehingga Islam itu menjadi sangat asing, aneh dan tidak jelas di mata mereka. Orang tua teman Anda itu hanya satu dari sekian juta bangsa ini yang meski secara formal beragama Islam, namun ajaran Islam tidak pernah sampai kepadanya dirinya secara syamil (menyeluruh).

Mereka menjadi muslim lantaran keturunan saja, sejak kecil hingga dewasa tidak pernah tersentuh pelajaran Islam yang benar dan menyeluruh. Maka wajarlah bila masih saja ada kita temukan di negeri ini muslimin yang hobinya mengikuti kemauan jin dan syetan. Wajarlah kalau dukun, tukang ramal, tukang santen, tukang memanggil arwah dan profesi sejenis itu sangat laris. Wajarlah kalau TV kita pun dipenuhi dengan program jin dan syetan.

Ilmu-ilmu agama yang berkembang di negeri ini terbatas pada aktifitas zikir, perayaan maulid / isra mi’raj, baca yasin, kenduri dan sekian jenis acara seremonial. Sedangkan kajian tentang ilmu tauhid, ilmu fiqih / ushul fiqih, ilmu tafsir, ilmu hadits dan cabang-cabang ajaran Islam seolah menjadi asing sekali.

Bahkan kalau kita cermati lebih teliti, dari sekian banyak pesantren dan madrasah di negeri ini, hanya beberapa gelintir yang memang dipimpin oleh ulama yang mendalam ilmu keislamannya. Selebihnya hanya dipimpin oleh mereka yang ilmunya sampai sebatas kurikulum aliyah semata, bahkan hanya sekedar pandai ceramah di pengajian umum. Bukan dari kalangan fuqaha atau muhadditsin. Bahkan kita hampir tidak bisa mendapati dari negeri ini lahir kitab-kitab ilmu-ilmu keislaman yang mendalam. Kalaupun ada, hanya himpunan doa-doa, zikir dan manaqib, bukan Ulumul Islam.

Maka kalau kalangan awamnya menjadi sedemikian parah dalam memahami ajaran Islam, kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Dan saat ini sudah waktunya bagi kita untuk merombak kurikulum pengajaran agama Islam. Baik yang ada di sekolah umum dan agama atau pun yang ada dalam pendidikan non formal seperti pesantren dan majelis taklim. Agar jangan lagi keluaran pesantren bisanya hanya memimpin doa dan tahlilan semata, sedangkan ilmunya tidak ada.

Kita membutuhkan pakar ulama semacam Syeikh bin Baz, Syeikh Utsaimin, Syeikh Ibn Jibrin, Syeih Mushtafa Al-A’zhami, Syeikh Mutawalli Asy-Sya’rawi, Syeikh Yusuf Al-Qaradawi, Syeikh Wahbah Zuhaili, Syeikh Mustafa Az-Zarqa dan lain-lainnya yang lahir dari putera-puteri Indonesia.

Sehingga bisa mendongkrak kualitas mutu pendidikan ajaran Islam di Indonesia. Negeri ini sudah terlalu padat dengan para penceramah dengan beragam gaya, tapi minus ulama betulan yang ekspert di bidangnya.

Orang tua teman Anda itu perlu diajak-ajak ngaji yang serius kepada para ulama, bukan sekedar otodidak yang tidak jelas asal-usulnya.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

[ kirim pertanyaan ]

Leave a Reply

%d bloggers like this: