4. Cuci Darah

     

 

4. Cuci Darah

 

Yaitu proses pencucian darah dengan menggunakan suatu alat medis, dan dilakukan dengan dua cara:

 

Pertama, menggunakan alat medis yang menyerap seluruh darah pasien, lalu alat ini bekerja membersihkan darah dari kotoran yang membahayakan, kemudian dikembalikan ke tubuhnya melalui urat leher.1

Kedua, cara lain digunakan dengan memasukkan alat seperti pipa ke dinding perut di atas pusar, lalu dimasukkan melalui alat ini ke dalam perutnya sekitar dua liter zat cair yang memiliki kadar glukosa sangat tinggi, lalu sementara didiamkan, kemudian ditarik kembali dan demikian diulang beberapa kali dalam satu hari sampai darah pasien bersih dari penyakit-penyakit yang mengganggu.2

 

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini:

Pendapat pertama, tidak membatalkan puasa. Mereka melandasi pendapatnya dengan tidak adanya dalil yang gamblang dan tidak dapat diqiyaskan dengan pembatal-pembatal yang jelas. Ini adalah pendapat Dr. Muhammad al-Khoyyath.3

Pendapat kedua, cuci darah membatalkan puasa. Ini adalah pendapat Syaikh bin Baz dalam salah satu fatwanya,4 Syaikh Ibnu Utsaimin,5 Dr. Wahbah az-Zuhaili,6 dan keputusan Fatwa Lajnah Da’imah.7

Pendapat yang kuat adalah pendapat yang kedua yaitu cuci darah membatalkan puasa, dengan alasan bahwa cuci darah mengharuskan adanya tambahan darah segar, bahkan ditambahkan pula bahan-bahan kimia yang dapat menggantikan makanan dan minuman. Akan tetapi, jika dalam cuci darah tidak ditambahkan hal lain kecuali cuci darah itu sendiri, maka tidak membatalkan puasa.8

 

Inilah yang dapat kami himpun dari beberapa permasalahan baru dalam hal pembatal puasa, mudah-mudahan pada kesempatan lain kami dapat melanjutkan pembahasan berikutnya, dan mudah-mudahan bermanfaat. Amiin.


1.     Lihat Mufathirot ash-Shiyam al-Mu’ashiroh hlm. 72.

2.     Ibid.

3.     Lihat Majalah al-Majma’ al-Fiqhi th. ke-10, 2/290, Mufathirot ash-Shiyam al-Mu’ashiroh hlm. 73, dan al-Mufaththiroth al-Mu’ashiroh hlm. 8.

4.     Lihat Majmu’ Fatawa wa Maqolat Mutanawwi’ah Syaikh Ibnu Baz 15/275.

5.     Lihat Liqo’ al-Bab al-Maftuh 10/188.

6.     Lihat Majalah al-Majma’ al-Fiqhi th. ke-10, 2/378.

7.     Fatwa No. 5693, tgl. 27-8-1406 H

8.     Lihat Majmu’ Fatawa wa Maqolat Mutanawwi’ah Syaikh Ibnu Baz 15/275.

Leave a Reply

%d bloggers like this: