Bolehkah Menempelkan Farj Suami Ke Farji Istri Yang Sedang Haid? – Pertanyaan : Assalamu’alaikum Maaf ustadz kalau dalam pertanyaan ini ada kata-kata yang tidak sopan. Langsung saja pada masalahnya: 1. Bolehkah menempelkan farj suami ke farj istri dan menggosok-gsokkannya pada saat istri haid untuk mendapat kepuasan(tanpa penetrasi)? 2. Apa hukumnya istri yang menelan sperma suami ketika melakukan oral seks? Sekali lagi mohon maaf, dan mohon nama dan alamat email saya dirahasiakan, jazakumullah khaira. WassalamualaikumAbu Farouq

Konsultasi Fiqih Wanita :Jawaban:

Assalamu `alaikum Wr. Wb.
Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d

Al-Quran Al-Karim secara tegas menyebutkan bahwa suami harus menghindari dari mencumbu istri di kala sedang mendapat haidh.

Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci . Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS. Al-Baqarah : 222)

Ayat tersebut menjelaskan tentang keharaman menyetubuhi wanita yang sedang haidh. Dalam bahasa arab yang dimkasud dengan bersetubuh/watho/Jima’ adalah : ”Masuknya penis ke dalam farji wanita, meskipun tidak mengeluarkan cairan”.

Oleh karena itu apa yang saudara lakukan tidak termasuk menyetubuhi wanita atau berjima’ yang dilarang oleh Al-Qur.an. Meskipun demikian, anda harus berhati-hati agar jangan sampai melakukan jima’. Karena ketidak hati-hatian, akan mendorong anda untuk melakukan yang dilarang oleh syara.

Sedangkan mencumbu mereka yang tidak sampai melakukan hubungan seksual, oleh Rasulullah SAW memang dibolehkan berdasarkan hadits berikut :

”Lakukan segala sesuatunya kecuali nikah”. ” (HR. Jamaah kecuali Bukhori, Nailul Author 1/276)

Maksud dari kecuali nikah adalah jima` (coitus). Bila melihat zahir hadits ini maka seluruh bentuk percumbuan yang pada dasarnya halal boleh dilakukan meski istri dalam kondisi haidh, kecuali penetrasi (coitus) itu saja yang tidak boleh.

Larangan mendekati istri yang sedang haid ditafsirkan oleh para ulama maknanya adalah hubungan seksual (coitus). Sedangkan di luar itu bukan merupakan larangan.

Rasulullah SAW bersabda tentang mencumbu istri yang sedang haidh ini,
Oleh karena itu para ulama berbeda pendapat tentang menggauli wanita yang sedang haidh.di antara pusar dan lutut (tidak sampai terjadinya persetubuhan/wath’).

Bila kita mengacu kepada pendapat akhir dari para ulama dalam masalah ini, kita mendapati mereka sedikit berbeda pandangan, yaitu :

A. Pendapat kebanyakan ulama, di antaranya Abu Hanifah, Abu Yusuf, Fuqoha Malikiyah dan Syafi’iyah menyatakan haram, sebagai tindakan preventif agar tidak terjerumus kepada yang diharamkan (saddud dzari’ah) dan berdasarkan hadits berikut :

Dari Aisyah RA, ia berkata: “Salah seorang di antara kami ketika sedang haidh dan Rasulullah SAW bermaksud menggaulinya, beliau memerintahkan agar ia memakai kain sarung untuk menutupi haidnya, kemudian beliau menggaulinya” (Muttafaq ‘Alaih, Nailul Author 1/278)

B. Pendapat Fuqoha Hanabilah, Auzai’, dan Muhammad dari Fuqoha hanafiyah menyatakan bahwa diperbolehkan menggauli wanita selama tidak terjadi jima’. Hal tersebut berdasarkan sabda Rasulullah SAW :

“Perbuatlah oleh kalian smuanya kecuali nikah” dan dalam riwayat yang lain : “kecuali jima” (HR. Jamaah kecuali Bukhori, Nailul Author 1/276)

Hadits di atas secara jelas memperbolehkan menggauli wanita selama tidak terjadi persetubuhan atau jima’.

C. Pendapat ketiga adalah bittafshil (secara terperinci) maksudnya adalah jika orang yang ingin menggauli wanita tersebut bisa menguasai dirinya agar tidak terjadi jima’ baik karena kewaraannya atau karena lemah syahwat, maka hal tersebut diperbolehkan. Tetapi jika ia tidak mampu untuk menguasai dirinya maka tidak diperbolehkan. (Al-Fiqhul Islamy Wa Adillatuhu 4/2642-43)

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

[ kirim pertanyaan ]

Beri Nilai Artikel Ini:

Istilah Percarian:
farji wanita arab, bolehkah menempelkan kemaluan saat haid, Farji arab, menempelkan farji di bahian luar ketika istri haid, Apa hukumnya menempelkan kemaluan saat haid, hukum menempelkan kemaluan pada suami saat haid, menempelkan kemaluan saat haid

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: