Zakat Maal Harus Berbentuk Uang? – Pertanyaan : Assalamu’alaikum wr. wb. Bolehkah zakart maal yang kita keluarkan itu tidak semuanya berupa uang, tapi sebagian diberikan & dibelikan sesuatu barang yang bermanfaat. Misalnya dibelikan kue, pakaian, dan kebutuhan untuk lebaran. Bolehkah diberikan ke lingkungan yang dekat dengan kita, misalnya office boy kantor, office boy gedung, petugas kebersihan rumah yang penghasilan pas2an. Lantas bila ada kasus spt ini, office boy kantor menerima pemberian barang dan uang zakat yang cukup besar dari beberapa karyawan, lantas kita yang semula ingin memberikan zakat kepada mereka merasa pada saat ini ada yang lebih membutuhkan dibandingkan mereka (yang sudah menerima banyak), dan uang zakat tsb diberikan kepada orang lain. Apakah boleh? Dan bila, ternyata akibatnya, ada omongan miring karena kita tidak ikut memberikan sesuatu kpd mereka itu, bagaimana mensikapinya? tolong jawabannya, pak ustadz wassalamNoer

Konsultasi Zakat : Jawaban:

Assalamu `alaikum Wr. Wb.
Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d

Sebenarnya disitulah salah pentingnya sebuah badan amil zakat, yaitu mengatur agar penyaluran dana zakat itu bisa dilakukan dengan seadil-adilnya. Tidak melahirkan iri dan ‘omongan miring’ seperti yang Anda sebutkan.

Idealnya, disetiap lingkungan itu harus ada badan amil zakat yang bekerja secara serius sepanjang tahun. Bukan pada saat menjelang akhir bulan ramadhan saja. Karena zakat yang dikeluarkan pada akhir bulan ramadhan itu hanyalah zakat fithrah, bukan zakat mal atau zakat secara keseluruhannya.

Dan untuk sebuah kantor dimana para karyawan itu menerima gaji setiap bulan, maka setoran zakat itu harus dilakukan setiap bulannya. Tidak menunggu sampai adanya bulan ramadhan. Dan untuk itu harus ada badan khusus yang menanganinya. Meski pun hanya dikerjakan oleh satu atau dua orang saja. Dan orang tersebut tentu memiliki wewenang dan tanggung-jawab yang berat agar mampu mengatur pembayaran zakat dari para karyawan dan juga menyalurkan dengan sistem yang baik, adil dan sehat. Syukur-syukur bila menggunakan kiat yang terencana dan jitu untuk benar-benar secara realistis mengentaskan kemiskinan bagi mereka yang ada di sekitar kantor Anda.

Yang kami maksud adalah bahwa kepengurusan zakat ini melakukan riset dan penelitian tentang siapa saja di antara orang yang ada dilingkungan kantor yang bisa dikategorikan sebagai miskin / fakir. Lalu diteliti juga penyebab kemiskinannya itu. Dan dicarikan jalan keluar yang realistis agar dia bisa keluar dari kemiskinan yang membelenggunya.

Katakanlah sebagai contoh, bila office boy itu memang gajinya sangat kecil, tetapi dia punya bakat untuk berdagang dan memutar uang, maka tidak ada salahnya bila dia diberi motivasi, jalan dan dorongan untuk berdagang. Dan modalnya diambilkan dari dana zakat yang memang dia berhak untuk itu. Diharapkan dengan adanya tambahan rezeki dari dagangnya disela-sela kesibukannya bekerja, dia sudah bisa mencukupi kebutuhannya dan keluarganya. Sehingga bisa diprogram bahwa bila ada dana zakat lagi, maka sudah bisa diberikan untuk mustahik lainnya. Sehingga secara sistematis, satu per satu kemiskinan itu diperangi. Buka memerangi orang miskinnya, tapi kemiskinannya. Hingga pada gilirannya, tidak ada lagi orang miskin yang ada dilingkungan kerja Anda.

Saat itu Anda sudah boleh mencari orang miskin pada lingkar yang lebih luar lagi yang agak menjauh dari lingkungan kantor Anda. Dan begitulah yang idealnya dilakukan, setipa kantor atau perusahaan memiliki badan yang mengurusi zakat para karyawan dan betugas memerangi bila ada kemiskinan di wilayah itu.

Kalau semua perusahaan sudah melakukannya, maka tidak akan ada lagi harta zakat yang terbuang percuma atau yang menjadi bahan omongan dan ketidak-adilan. Sementara kemiskinan itu benar-benar bisa dihilangkan secara sistematis.

Selain itu yang juga penting diketahui oleh para bos atau pemimpin perusahaan yang muslim, adalah agar mereka jangan menekan gaji karyawan serendah mungkin, yang hanya akan mengakibatkan kemiskinan yang terstruktur. Kalau keuangan perusahaan itu tidak terlalu minim, tidak ada salahnya menaikkan kesejahteraan karyawan sehingga perusahaan itu menjadi perusahaan yang karyawannnya kaya meski kasnya tidak terlalu gemuk. Para karyawan yang kaya ini umumnya akan merasa cukup hidupnya dan tidak akan kerja sambilan di luar yang hanya akan mengurangi efektifitas dan intensifitas kerja mereka di kantor. Disisi lain, dengan cukupnya gaji para karyawan itu maka keinginan untuk korupsi barang milik kantor pun menjadi berkurang, termasuk tidak ada yang mencuri-curi pulsa telepon untuk kepentingan pribadi, atau korupsi jam kerja atau menyabet apa yang bisa disabet

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

[ kirim pertanyaan ]

Leave a Reply

%d bloggers like this: