Dzikir Berjamaah – Pertanyaan : diadakan malam dzikir berjamaah oleh ust arifin ilham dan terjadi pro kontra: 1. apakah dzikir secara jahr dilarang, bidah atau boleh? 2. apakah dzikir secara berjamaah itu dilarang, bidah, boleh atau bahkan sunah? hadis2 yang banyak menyebutkan keutamaaan majelis dzikir apakah “dzikir” dalam hadis2 tsb berarti dzikir (wirid) atau majelis ilmu? 3. jika boleh berjamaah apakah boleh dengan 1 tuntunan (komando/pimpinan)? 4. sejauh mana derajat hadis Ibnu masud melarang orang2 berdzikir berjamaah di sebuah masjid dimana kata beliau menyebutkan bhw di kemudian hari orang2 ini memerangi sahabat di nahrawan (khawarij) krn ada yang mengatakan dhaif ada yang mengatakan shahih (misal imam albani) 5. jika kesimpulannya bidah bolehkah mengajak orang awam mengikuti acara tersebut dengan alasan maslahat dakwah?Qafqa

Konsultasi Ibadah : Jawaban:

Assalamu `alaikum Wr. Wb.
Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d

1. Berzikir secara berjamaah memang banyak disebutkan dalam kitab-kitab para ulama. Kami nukilkan disini apa yang ditulis oleh Ash-Shan’ani dalam kitab hadits yang sangat populer di negeri kita, yaitu Subulus Salam yang merupakan syarah (penjelasan) dari kitab Bulughul Maram susunan Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqallani.

Pada bab akhir dari Subulus Salam, Ash-Shan’ani memuat bab zikir dimana di dalamnya beliau memuat hadits-hadits tentang zikir. Berikut ini adalah nukilannya :

Tidaklah suatu kaum duduk pada sebuah majelis untuk berzikir kepada Allah, kecuali malaikat mengelilingi dengan sayap mereka dan menyelimutinya dengan rahmat …(HR. Muslim)

As-Shan’ani menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan pada fadhilah majelis zikir, juga fadhilah orang-orang yang berzikir dan fadhilah ijtima’ (berkumpul) untuk berzikir.

Allah memiliki para malaikat yang kerjanya berkeliling di jalan-jalan mencari ahli zikir. Bila mereka menemukan suatu kaum sedang berzikir menyebut nama Allah SWT, mereka berseru sesama mereka,”Kemarilah, tunaikan hajat kalian”. Mereka mengelilingi dengan sayap mereka hingga langit dunia. (HR. Bukhari)

Zikir yang dimaksud di dalam kedua hadits di atas adalah tasbih, tahmid, tilawah Al-Quran Al-Karim dan yang sejenisnya. Yaitu zikir lisan dan yang melafazkannya mendapat pahala dari Allah SWT. Tidak disyaratkan untuk menghadirkan makna lafaz-lafaz itu. Yang disyaratkan adalah ketika melafazkan zikir-zikir itu tidak boleh dengan maksud yang lainnya. Namun bila bisa sambil menghadirkan makna lafaz itu di dalam hati, tentu lebih baik.

Al-Fakhrurrazi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan zikir lisan itu adalah bacaan atau lafaz yang menunjuk kepada tasbih, tahmid dan tamjid.

2. Memang ada sebagian kalangan yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan zikir dalam majelis itu maksudnya adalah majelis ilmu. Namun tidak ada hal yang menunjukkan bahwa hal itu memang majelis ilmu. Sehingga selama tidak ada hal yang menunjukkan kesana, maknanya dikembalikan kepada aslinya.

3. Sebagian ulama memang ada yang tidak membolehkan berzikir dengan sistem komando, yaitu ada pimpinannya. Jadi kalaulah berzikir dalam sebuah majelis, masing-masing membaca sendiri-sendiri.

Tetapi biar bagaimana pun ini adalah wilayah khilaf yang tidak ada nash sharih yang melarangnya secara tegas. Kalaulah ada pelarangan, maka lebih kepada isitmbath sebagian ulama. Sehingga pelarangan dalam masalah itu tidaklah masalah yang bersifat qath’i, dimana seseorang berhak untuk menuduh lainnya sebagai ahli bid’ah. Barangkali lebih tepatnya adalah mana yang lebih rajih dan mana yang marjuh. Sedangkan menuduh seseorang sebagai ahli bi’dah, maka sudah memasukkan orang tersebut sebagai ahli neraka. Karena ada hadits nabi bahwa pelaku bi’dah itu neraka tempatnya.

Tentunya kita tidak akan tergesa-gesa mengatakan bahwa ust. Arifin Ilham dan jamaah zikirnya itu sebagai ahli neraka lantaran mereka berzikir dengan adanya pimpinan zikir.

4. Hadits Ibnu Mas’ud yang Anda tanyakan itu seharusnya Anda sampaikan kepada kami potongannya dalam bahasa arab, agar kami mudah mencarinya dalam kitab-kitab takhrij untuk bisa ditentukan derajat keshahihannya.

5. Kami tidak tergesa-gesa untuk membi’ahkan suatu perbuatan selama masih ada khilaf para ulama dalam masalah itu. Karena fiqh Islam itu luas dan terdiri dari banyak pendapat. Kalaulah kita ingin berpendapat dan yakin bahwa pendapat kita ini paling benar, maka sebaiknya kita mengatakan bahwa pendapat saya ini benar namun ada kemungkinan mengandung kesalahan. Dan pendapat orang lain menurut saya salah tapi ada kemungkinan mengandung kebenaran.

Itulah etika seorang faqih yang ilmunya mendalam. Bukan asal tuding bid’ah, sesat, fasik atau mulhid. Karena kita tidak pernah diajarkan untuk melakukan hal itu sejak pertama kali berkenalan dengan syariat Islam. Wilayah fiqih Islam adalah wilayah ijtihad, dimana seorang mujtahid akan mendapat 2 pahala bila benar pendapatnya dan 1 pahala bila salah.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

[ kirim pertanyaan ]

Leave a Reply

%d bloggers like this: