Berhubungan Ketika Haid – Pertanyaan : pak..pada waktu haid apakah wanita gak boleh berhubungan dengan suaminya..? dan kalo gak boleh apa sebabnya…soalnya saya pernah mambaca dari keterangan dokter di kompas bahwa darah yang keluar waktu haid itu bersih..tapi berdasarkan agama kita itu darah kotor.. mohon penjelasannya pak.Zan

Konsultasi Fiqih Wanita : Jawaban:

Assalamu `alaikum Wr. Wb.
Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d

Larangan untuk berhubungan seksual dengan istri yang sedang haidh itu bersifat ta’abbudi. Artinya larangan itu sifatnya syar’i yang tidak ada kaitannya dengan darah bersih atau darah kotor secara medis. Darah sendiri punya hukum dan status dalam Islam, yaitu najis bila darah mengalir. Sedangkan di dalam tubuh kita ada darah yang mengalir, lalu apakah akan dikatakan bahwa tubuh kita ini najis karena di dalamnya ada darah ?

Tentu urusan najis tidak ada kaitannya dengan apakah darah itu bersih atau tidak bersih dari sisi kedokteran.

Yang jelas ketika seorang wanita sedang mendapat haidh, ada larangan yang bersifat ta’abbdui untuk tidak bersetubuh. Yaitu berdasarkan firman Allah SWT :

Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci . Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS. Al-Baqarah : 222).

Bahkan para ulama mengatakan bahwa meski aliran darah haidh itu sudah tidak lagi keluar, tetap saja masih tidak boleh dilakukan hubungan seksual. Kecuali bila wanita itu sudah bersuci dengan mandi janabah. Ini jelas menunjukkan bahwa urusannya bukan sekedar darah bersih atau kotor, tapi ini ritual agama.

Sama dengan ketidak bolehan wanita haidh untuk masuk masjid. Itu sebuah ritual agama dan bukan sekedar karena takut mengotori masjid. Karena umumnya wanita zaman sekarang ini sudah akrab dengan pembalut yang membuat mereka merasa ‘aman’ dari kebocoran. Tapi hukum tidak boleh masuk masjidnya tetap berlaku, karena alasannya memang bukan urusan bocor atau tidak bocor.

Bila memahami Islam hanya dari segi ilmiyah semata, tentu kita tidak butuh seorang nabi yang diutus selama 23 tahun, bahkan kita pun tidak butuh Al-Quran Al-Karim dan sunnah sebagai pedoman urusan ritual agama ini. Cukup dengan melihat logika dan hasil-hasil penelitian laboratorium saja.

Padahal salah satu dari fungsi nabi adalah menjelaskan tata cara ritual agama dari kacamata ilahi, bukan dari sekedar nalar ilmiyah. Meski kita sepakat bahwa antara kebenaran ilahi dengan kebenaran ilmiyah pastilah sejalan dan selaras, namun bukan berarti kesimpulan nalar ilmyah bisa menggantikan posisi nalar wahyu. Keduanya punya peran dan wilayah yang berbeda.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

[ kirim pertanyaan ]

Leave a Reply

%d bloggers like this: