Perceraian Di Bulan Ramadhan – Pertanyaan : Assalamu’alaikum wr.wb sebelum saya bertanya, saya ingin sedikit bercerita tentang kasus yang dialami oleh si A (laki-laki). Pada pernikahannya 3 th yang lalu dan sampai sekarang sudah dikaruniai 2 anak dari isrti yang pertama. yang dulunya memang pernikahan tersebut tanpa restu kedua orang tua si A, tetapi akhirnya direstui. kemudian selang beberapa bln si A ini tidak menemukan kecocokan dengan istrinya dikarenakan “si istri tidak bisa menjaga nama baik keluarga atau Suaminya itu (si A), dan memang kalo saya melihat tidak ada komunikasi yang sehat dalam keluarganya baik dari Si A maupun Istri yang pertama itu” kebetulan mereka tinggal diasrama. sampai akhirnya si A menikah dengan wanita lain tanpa sepengetahuan si Istri. dan timbullah permasalahan yang mengarah pada perceraian walaupun saat ini belum sampai kesana. kebetulan saya adalah adik si A, yang ingin saya tanyakan bagimana hukumnya menceraikan istri kedua-duanya di bulan suci ini? sedangkan istri yang kedua sekarang sedang hamil. apa yang harus saya lakukan untuk mencegah agar Si A tidak menceraikan istri-istrinya?mengingat keponakan saya yang masih kecil-kecil. Mohon jawaban dari Ustadz/ustadza. Terima kasihVefa

Konsultasi Keluarga : Jawaban:

Assalamu `alaikum Wr. Wb.
Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d

Cerai adalah perbuatan yang halal tapi dimurkai dan dibenci Allah SWT. Sehingga bila dalam pertengkaran antara suami istri selalu mengaitkannya dengan cerai, sungguh sangat disayangkan sekali. Karena ungkapan-ungkapan seperti itu sudah dekat sekali dengan kebencian dari Allah SWT.

Maukah kita hidup dibenci Allah SWT ? Tentu tidak, karena itu tidak baik bila dalam bertengkar banyak mengaitkan dengan urusan cerai, meski hanya luapan emosi sesaat.

Karena sebuah perceraian pada dasarnya adalah sebuah pengingkaran atas janji yang telah disepakati. Bahkan sebuah pengingkaran atas doa-doa yang dahulu dipanjatkan oleh para tamu yang datang. Bahkan sebuah pemutusan hubungan tali kasih bukan antara pihak suami dan istri, tetapi juga antara keluarga besar masing-masing. Jalinan persaudaraan yang dahulu pernah ada dan terjut, kini harus terurai lagi. Kemesraan antara banyak pihak yang dulu didapat, kini harus terhilangkan.

Dan yang paling kasihan adalah anak-anak yang masih kecil. Mereka itu lahir ke dunia tanpa pernah mereka minta. Adalah hak mereka untuk dapat kasih sayang dari ayah dan ibunya sampai mereka besar. Bila dalam masa pertumbuhan yang memerlukan kehadiran kedua sosok orang tua itu tiba-tiba sang anak harus diputus kasih sayangnya, maka ini merupakan kezaliman dan penganiyaan atas hak anak.

Dosa apakah yang telah diperbuatnya sehingga dia harus kehilangan sosok orang terkasihnya itu ? Dan adakah orang lain yang bisa menjadi pengganti kedua orang tuanya secara sempurna ?

Semua ini tentu harus dijadikan bahan renungan yang mendalam bagi pihak-pihak yang ingin bercerai. Karena mempertahankan sebuah pernikahan itu adalah ibadah, dan tidak ada ibadah kecuali dengan pengorbanan.

Apalagi bila saat diceraikan sang istri sedang hamil, maka sejak belum lagi melihat dunia, sang bayi sudah dibuat ‘tidak punya orang tua’. Ini lebih dekat kepada sebuah proses peyatiman dengan sengaja. Meski ayah dan ibunya masih hidup, namun fungsi keduanya sebagai orang tua yang bekerjasama mendidik dan mengasihi sudah dihilangkan sebelum dia lahir. Betapa malang bayi itu dan betapa kejam kedua orang tuanya. Hanya sekedar mengikuti egoisme masing-masing mereka rela mencabut kebahagiaan bayi tak berdosa. Mereka rela membuat bayi itu kehilangan harta satu-satunya yang dimilikinya yaitu wujudnya sosok kedua orang tua disisinya. Nauzu billahi min zalik.

Karena itu wajarlah bila Allah SWT membenci perceraian meski halal hukumnya.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

[ kirim pertanyaan ]

Leave a Reply

%d bloggers like this: