Istinbatul Ahkam Haramnya Pembajakan (hak Cipta) – Pertanyaan : assalaamu’alaikum wr wb ustadz bgaimana proses istinbatul akham (ushul fiqh) tentang haramnya pembajakan (pelanggaran hak cipta/HAKI) ? syukron katsiranEmil

Konsultasi Masalah Umum : Jawaban:

Assalamu `alaikum Wr. Wb.
Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d

Dalam hukum muamalat, kita mengenal yang namanya ‘urf atau kebiasan dan tradisi yang berlaku di suatu komunitas. Misalnya, di suatu toko ‘urf yang berlaku adalah anda tidak boleh memasukkan barang ke dalam keranjang belanja kecuali anda sudah membayarnya. Tetapi di supermarket, meski anda sudah memasukkan sekian banyak barang ke dalam trolli penuh, anda belum dianggap membelinya sampai anda melewati kasir untuk membayarnya. Itulah ‘urf yang berlaku di dua tempat yang berbeda.

Contoh lain adalah ketika anda makan di warung tegal dan di fast food. Keduanya memiliki ‘urf yang berbeda. Di warung tegal anda bebas mencomot apa saja dan langsung memakannya, tanpa harus bertransaksi terlebih dahulu. Padahal kalau mengacu kepada aturan baku, sebelum anda memiliki barang dari penjual, harus ada transaksi terebih dahulu dan ada ijab qabul, tidak main comot. Tapi itulah ‘urf yang berlaku di warung tegal. Nanti selesai makan, baru masing-masing mengaku bahwa saya makan ini dan itu, lalu memabayarnya atau malah ngutang karena sudah kenal.

Tapi di restoran fast food, anda harus bayar dulu baru makan. Kalau anda langsung main comot dan menelannya, maka dianggap mencuri dan hukumnya haram meski anda berniat untuk membayarnya. Itu adalah ‘urf yang bisa jadi di setiap tempat berbeda-beda.

Kembali kepada pertanyaan anda, masalah HAKI itu adalah ‘urf yang berlaku di berbagai negeri. Memang dahulu hak cipta itu tidak dikenal dan tidak ada dalam kajian fiqih klasik. Namun sekarang ini dengan ditemukannya mesin cetak dan alat pengganda, kekayaan intelektual berupa hak cipta itu telah diakui secara ‘urf sebagai salah satu hak kekayaan intelektual seseorang yang dimiliki dan bisa dijual atau diperdagangkan.

Dalam fiqih klasik kita tidak pernah mengenal hak atas merek dagang. Dari dulu umat Islam kalau jual korma tidak pernah pakai merek. Tetapi ‘urf dan zaman telah berganti. Orang arab kini menjual kurma dengan kemasan yang mempesona dan merek yang beragam. Kini merek telah menjadi hak yang dimiliki secara syah dan bisa diperjual belikan secara legal. Dan memakai atau meniru begitu saja merek dagang milik orang lain bisa dianggap pengambilan hak orang lain dengan cara yang zalim. Semua ini terjadi karena perbedaan ‘urf antara zaman dahulu dan zaman sekarang.

Ada lagi contoh perbedaan ‘urf yang terjadi pada masa Rasulullah SAW dan shahabat. Di masa Rasulullah SAW, kalau kita menemukan unta yang tersesat, maka kita tidak perlu mengambil dan menjaganya, karena Rasulullah SAW bersabda “

“Biarkan saja unta itu, dia punya sepatu, punya air dan bisa mencari air sendiri dan makan tumbuhan sendiri hingga pemiliknya menemukannya. “. .

Namun di masa para shahabat ketika sudah banyak terjadi pencurian dan akhlaq manusia banyak yang rusak, peraturan itu diganti oleh khalifah. Sehingga siapa yang menemukan unta tersesat, wajib untuk mengambilnya dan memeliharanya serta memberinya makan dan minum, lalu diumumkan hingga pemiliknya datang. Kebijakan itu diambil terkait dengan tidak amannya lagi bila unta berkeliaran tidak ada tuanya, karena bisa saja dicuri orang. Ternyata ‘urf di masa nabi dan di masa para shahabat pun sudah berbeda. Sehingga kebijakan yang diambil pun berbeda pula.

Karena itulah Majma` Fiqih Islami sebuah forum yang terdiri dari para ulama kontemporer yang bermarkaz di Jeddah Saudi Arabia. berdasarkan `urf yang dikenal masyarakat saat ini, ikut pula mengabsahkan kepemilikan

Ketetapan (Qoror) dari Majelis Majma` Al-Fiqh Al-Islami menyebutkan bahwa secara umum, hak atas suatu karya ilmiyah, hak atas merek dagang dan logo dagang merupakan hak milik yang keabsahaannya dilindungi oleh syariat Islam. Dan merupakan kekayaan yang menghasilkan pemasukan bagi pemiliknya. Dan khususunya di masa kini merupakan `urf yang diakui sebagai jenis dari suatu kekayaan dimana pemiliknya berhak atas semua itu. Boleh diperjual-belikan dan merupakan komoditi. (lihat Qoror Majma` Al-Fiqh Al-Islami no.5 pada Muktamar kelima 10-15 Desember 1988 di Kuwait).

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

[ kirim pertanyaan ]

Leave a Reply

%d bloggers like this: