3. Bius Total

3.   الكُلِّي الْـمُوْضِعِي (Bius Total)

 

Yaitu pembiusan yang dilakukan dengan menghilangkan kesadaran secara keseluruhan untuk kepentingan medis, seperti pembedahan atau operasi.

 

Hukumnya

Para ulama masa kini berbeda pendapat tentang masalah ini, sebagaimana para ulama dahulu berbeda pendapat tentang hukum seorang yang berpuasa lalu kehilangan kesadarannya/ pingsan.

Seorang yang kehilangan kesadarannya tidak lepas dari dua kemungkinan:

·           Kemungkinan pertama, hilang kesadaran sehari penuh (dari subuh sampai maghrib); maka jumhur ulama, di antaranya Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad, mengatakan bahwa puasa orang seperti ini batal.1 Dalil-nya, Sabda Nabi صلي الله عليه وسلم dalam hadits qudsi tentang pahala puasa:

الصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَأَكْلَهُ وَشَرْبَهُ مِنْ أَجْلِي

“Puasa adalah untuk-Ku, dan Aku-lah yang membalasnya, (berpuasa itu) meninggalkan hawa nafsu, makan dan minum hanya karena Aku.” (HR. Bukhori: 6938 dan Muslim: 1945)

Keterangan: Alloh menyandarkan “keharusan menahan hawa nafsu, makan, dan minum” pada orang yang sedang berpuasa, sedangkan seorang yang tidak sadar dari subuh sampai maghrib tidaklah menahan dirinya dari hal itu, maka dia sama dengan tidak berpuasa. Sedangkan ulama madzhab Hanafi dan al-Muzani dari kalangan ulama madzhab Syafi’i berpendapat bahwa puasanya sah,2 dengan alasan karena dia telah meniatkannya; maka hukumnya sama dengan tidur. Akan tetapi, pendapat jumhur lebih kuat karena tidak sama antara tidur dengan orang yang kehilangan kesadarannya satu hari penuh. Orang yang tidur bisa dibangunkan kapan saja, berbeda dengan orang yang kehilangan kesadaran. Demikian pula, karena jika seseorang sekadar berniat lalu kehilangan kesadarannya (belum menahan diri dari pembatal-pembatal puasa sehari penuh), maka belum dikatakan berpuasa.3

·           Kemungkinan kedua, hilang kesadaran tetapi tidak sehari penuh (ada waktu sadar antara subuh sampai maghrib), maka di sinilah permasalahan yang banyak diperdebatkan para ulama.

Pendapat pertama: Puasanya tidak sah. Ini adalah pendapat Imam Malik.4

Pendapat kedua. Jika sempat sadar sebelum tergelincir matahari, lalu dia memperbarui niatnya, maka puasanya sah. Namun, jika sadarnya setelah tergelincirnya matahari maka puasanya batal. Akan tetapi, perincian seperti ini tidak terdapat dalil yang kuat. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah.5

Pendapat ketiga. Inilah pendapat yang terkuat, seorang yang berpuasa lalu hilang kesadaran tetapi tidak sehari penuh (ada waktu sadar antara subuh sampai maghrib), maka puasanya sah secara mutlak. Ini adalah pendapatnya Imam Ahmad dan Imam Syafi’i.6

Hal ini dikuatkan karena orang seperti ini telah melakukan puasa yang disebutkan Nabi صلي الله عليه وسلم, yaitu “(berpuasa itu) meninggalkan hawa nafsu, makan dan minum serta pembatal yang lain”, dan dia telah melakukannya dengan sengaja (sadar) walaupun sesaat.7

 

Kesimpulan Hukum Bius Total Dalam Berpuasa

Dari penjelasan di atas kita ketahui bahwa bius total yang menghilangkan kesadaran sehari penuh (dari subuh sampai maghrib) membatalkan puasa. Akan tetapi, jika tidak menghilangkan kesadaran sehari penuh (ada waktu sadar antara subuh sampai maghrib) maka tidak membatalkan puasa.


1.     Mufathirot ash-Shiyam al-Mu’ashiroh hlm. 53.

2.     Lihat pendapat seperti ini dalam al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab 6/345 dan al-Mughni 3/343.

3.     Lihat Syarh az-Zarqoni ‘ala Kholil 1/203 dan Mufathirot ash-Shiyam al-Mu’ashiroh hlm. 53-54.

4.     Lihat al-Mufaththiroth al-Mu’ashiroh hlm. 8.

5.     Lihat al-Fatawa al-Hindiyah 1/197, al-Mufaththiroth al-Mu’ashiroh hlm. 8, dan Mufathirot ash-Shiyam al-Mu’ashiroh hlm 54.

6.     Lihat al-Mughni 3/343 dan Mufathirot ash-Shiyam al-Mu’ashiroh hlm. 54.

7.     Lihat Syarhul Umdah kitab ash-Shiyam 1/47 dan Mufathirot ash-Shiyam al-Mu’ashiroh hlm. 54-55.

Previous

Next

Leave a Reply

%d bloggers like this: