2. Perbuatan Sia-sia dan Kotor

2. Perbuatan Sia-Sia Dan Kotor

 

Dari Abu Hurairah, Rasulullah صلي الله عليه وسلم  bersabda.

لَيْسَصِّيَامُ مِنَ الْأَكْلِ وَالشَّرَابِ إِنَّـمَّا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ فَإِنْ سَابَّكَ أَوْ جَهِلَ عَلَيْكَ فَقُلْ إِنِّي صَائِمٌإِنِّي صَائِمٌ

“Puasa bukanlah dari makan, minum (semata), tetapi puasa itu menahan diri dari perbuatan sia-sia dan keji. Jika ada orang yang mencelamu, katakanlah : Aku sedang puasa, aku sedang puasa ” (HR. Ibnu Khuzaimah 1996, Al-Hakim 1/430-431, sanadnya SHAHIH)

Oleh karena itu Rasulullah صلي الله عليه وسلم mengancam dengan ancaman yang keras terhadap orang-orang yang melakukan perbuatan tercela ini.Bersabda As-Shadiqul Masduq yang tidak berkata kecuali wahyu yang diwahyukan Allahعزّوجلّ kepadanya.

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ

“Berapa banyak orang yang puasa, bagian (yang dipetik) dari puasanya hanyalah lapar dan haus (semata)”  (HR. Ibnu Majah 1/539, Darimi 2/211, Ahmad 2/441,373, Baihaqi 4/270 dari jalan Said Al-Maqbari dari Abu Hurairah. Sanadnya SHAHIH)

Sebab terjadinya yang demikian adalah karena orang-orang yang melakukan hal tersebut tidak memahami hakekat puasa yang Allah perintahkan atasnya, sehingga Allah memberikan ketetapan atas perbuatan tersebut dengan tidak memberikan pahala kepadanya. (Lihat Al-Lu’lu wal Marjan fima Ittafaqa ‘alaihi Asy-Syaikhani 707 dan Riyadhis Shalihin 1215)

Oleh sebab itu Ahlul Ilmi dari generasi pendahulu kita yang shaleh membedakan antara larangan dengan makna khusus dengan ibadah hingga membatalkannya dan membedakan antara larangan yang tidak khusus dengan ibadah hingga tidak membatalkannya. (Rujuklah: Jami’ul Ulum wal Hikam hal. 58 oleh Ibnu Rajab)

 

Previous

Next

Leave a Reply

%d bloggers like this: