Taubat Tanpa Qishash – Pertanyaan : Assalaamu’alaikum wr wb Ustadz, bagaimana jika seseorang ingin taubat dari dosa besar yang pada hukum asalnya diharuskan menjalani qishash, sementara pada kenyataan sekarang ini hukum tersebut tidak bisa dilaksanakan. Jika seseorang yang berdosa tersebut ingin taubat dengan taubat nashuha (namun tidak dapat di qishash mengingat kondisi yang ada), apakah taubatnya diterima? Mohon penjelasannya. Jazakumullah. Wassalaamu’alaikum wr wbAbdurabbihi

Konsultasi Masalah Umum :Jawaban:

Assalamu `Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Al-hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Ala Sayyidil Mursalin, Wa ba`d

Kewajiban untuk menjalankan syariat hudud dan qishash merupakan kewajiban yang bersifat kolektif dalam format sebuah sistem hukum dan perundang-undangan atau dalam bentuk idealnya adalah negara. Ini merupakan kewajiban bersama umat Islam, bukan bersifat individual.

Sehingga tidak boleh dilakukan oleh individu dalam masyarakat muslim tanpa didasari dengan undang-undang yang berlaku. Juga tidak dibenarkan dikerjakan oleh sebuah jamaah dari sekian banyak jamaah Islam. Juga bukan oleh organisasi dan/atau kelompok tertentu.

Sehingga pada kasus-kasus dimana seorang muslim melakukan pelanggaran, maka hukum itu tidak bisa ditegakkan. Sedangkan bila dia telah melakukan taubat yang memenuhi syarat-syarat taubat, maka ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Adapaun apakah pasti diampuni atau tidak, itu kembali kepada ke-Maha Rahman-annya Allah sendiri.

Sedangkan masalah belum dilaksanakannya hukum hudud dan qishash, maka yang berdosa adalah semua umat Islam yang tidak atau belum mau memperjuangkan tegaknya hukum Allah di muka bumi. Namun bila seseorang masih terus berada dalam upaya menegakkan hukum Islam itu, maka insya Allah tidak termasuk yang berdosa. Sebalikya, bila seseorang dalam tubuh umat ini tidak mau memperjuangkannya atau bahkan malah menetang penerapan hukum Islam itu, maka ketahuilah bahwa mereka diancam sebagai bukan muslim alias kafir, zalim dan fasik. Sebagaimana firman Allah SWT :

…Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS. Al-Maidah : 44)

…Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim. (QS. Al-Maidah : 45)

…Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. (QS. Al-Maidah : 47)

dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. (QS. Al-Maidah : 49)

Jadi predikat kafir, zalim dan fasik itu bukan ditujukan kepada pelaku pelanggarannya, tetapi kepada penguasa, hakim, legislatif dan semua yang berwenang untuk menentukan jenis hukum apakah yang akan digunakan. Kepada pelanggarnya, yang terpokok adalah melakukan taubat nashuha dan menerima keputusan hukum atas dirinya

Wallahu a`lam bis-shawab.
Wassalamu `alaikum Wr. Wb.

Beri Nilai Artikel Ini:

Istilah Percarian:
pertanyaan tentang qishash, pertanyaan tentang qisas, pertanyaan tentang qishas, pertanyaan mengenai qishash, pertanyaan qishas, pertanyaan sulit tentang taubat, tanya jawab qishos

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: