Jenazah Yang Boleh Disholatkan – Pertanyaan : As salaamu’alaykum Ustadz, mohon penjelasannya, bagaimana batasan orang yang boleh kita sholatkan dan do’akan setelah meninggalnya. Apakah orang yang mengaku muslim tapi tidak sholat dll, boleh disholatkan/dido’akan (masuk Islam hanya karena menikah)? Bagaimana pula dengan orang yang sholat tapi juga adat kejawennya kuat. Bagaimana juga dengan orang fasik? Syukron atas jawabannya. WassalaamUmmi

Konsultasi Ibadah :Jawaban:

Assalamu `alaikum Wr. Wb.
Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d

Shalat jenazah hukumnya fardhu kifayah bagi umat umat Islam secara keseluruhan. Namun untuk menjadi wajib dishalatkan, memang ada ketentuan dan syarat umum yang harus ada pada jenazah tersebut.

Khusus masalah sifat dan kondisi jenazah yang dishalatkan, para ulama sudah mensyaratkan keislamannya. Jenazah itu statusnya harus muslim, meski ke-Islamannya hanya karena ikutan yaitu mengikui ayah atau ibunya atau tanah airnya.

Sedangkan orang yang secara statusnya bukan Islam alias kafir, maka haram untuk dishalatkan.

” Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.”(QS. At-Taubah : 84)

Selama jenazah tersebut berstatus muslim, maka tetap wajib dishalatkan. Walaupun dia seorang yang banyak melakukan dosa besar seperti zina dan sebagainya. Yang penting statusnya muslim. Adapun sifat dan kelakuannya tidak membatalkan ke-Islamannya.

Seseorang yang melakukan banyak tindak kemungkaran atau penyelewengan dari ajaran Islam menurut jumhur ulama tidak memperngaruhi status ke-Islamannya. Kecuali bila secara sadar dia murtad dari Islam dengan tidak mempercayai Allah, Rasul-Nya, Kitab suci-Nya, Hari Akhir dan Qadha` / Qadar-Nya.

Untuk memberi status bahwa seseorang sudah murtad, juga tidak boleh asal tuduh dan asal tunjuk. Tetapi harus melalui sebuah mahkamah syar`iyah dimana di dalamnya ada qadhi yang menyidangkan perkaranya dengan sistem hukum Islam. Orang yang dianggap murtad ini harus didatangkan dan ditanyai secara jelas tentang pendiriannya. Bila hasilnya disimpulkan oleh majelis hakim bahwa dia murtad, barulah saat itu resmi disebut bukan Islam alias kafir. Dan hanya mereka saja yang tidak boleh dishalati jenazahnya.

Sedangkan orang yang keliru pemahamannya atau ikut-ikutan kepercayaan aneh-aneh dalam aqidah atau pemahaman islamnya, tidak bisa langsung disamakan dengan orang kafir. Mereka tetap muslim sampai ada keputusan tetap dari mahkamah syar`iyah yang meresmikan kekafiran mereka dan melarang menshalatkan jenazahnya.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,

Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Beri Nilai Artikel Ini:

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: