Wanita Menjadi Dosen – Pertanyaan : Assalamu’alaikum Wr Wb Pertama-tama saya mengucapkan terimakasih, jazakumullah Khairaan Katsiraa, atas dijawabnya pertanyaan2 yang saya kirimkan ke situs ini. Menurut saya, situs ini bagaikan “oase iman”, penyejuk di tengah dunia yang semakin “gersang”. Saya ,sebagai orang awam, alhamdulillah bisa mendapatkan kejelasan dari hal2 yang masih membuat saya kebingungan karena ustadz2 menjawabnya dengan dalil yang jelas dan lengkap. Hanya Allah yang mampu membalas amal kebaikan yang telah dilakukan semua pengurus website ini. Semoga Ustadz dan pengurus website ini senantiasa dilimpahkan rahmat dan rido-Nya dan diberikan kemudahan dari Allah dalam menjalankan amanah2 yang diemban. Saya ingin menanyakan hukumnya seorang akhwat menjadi dosen dimana mahasiswa yang diajarnya bercampur baur ( ada laki2 dan wanita). Yang saya ragukan adalah, tentang tampilnya dosen akhwat itu, dengan sengaja, didepan mahasiswa laki-laki. apalagi kalau akhwat itu memiliki tampilan wajah yang menarik. Biasanya mahasiswa laki2 berebut di kursi terdepan agar puas memandangi wajah dosen akhwat tsb. bagaimana hukumnya hal ini, terutama mengingat fitnah yang bisa ditimbulkan? jazakumullah khairaan katsiraa Ummu Syahidah

Konsultasi Fiqih Wanita : Jawaban:

Assalamu `alaikum Wr. Wb.

Bismillahirrahmanirrahiem. Alhamdulillahi Rabbil `Alamin. Wash-shalatu Was-Salamu `alaa Sayyidil Mursalin. Wa ba`d,

1. Menutup aurat secara sempurna hukumnya adalah wajib. Sedangkan aurat muslimah yang wajib ditutup adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Dalam kondisi sekarang dimana tidak ada lagi larangan menutup aurat /memakai jilbab di kantor-kantor atau kampus maka tidak ada darurat untuk membuka aurat.

2. Wanita bekerja hukumnya boleh dengan catatan memperhatikan dan menjaga batas-batas atau adab Islam, yaitu tidak ikhtilath (berbaur antara lelaki dan perempuan), tidak membuka aurat, tidak kholwah (berdua dengan lelaki) dan terhindar dari fitnah.

3. Dalam kondisi normal, yang seharusnya tampil didepan umum yang terdiri dari kaum lelaki dan kaum wanita adalah orang laki-laki. Dalam kondisi tertentu, yakni adanya kebutuhan obyektif baik dalam sekala umum atau dalam ruang lingkup khusus dan tidak ada yang dapat melakukannya selain wanita yang bersangkutan , ia boleh tampil didepan umum untuk menyampaikan da’wah atau memberikan pelajaran dengan memperhatian ketentuan-ketentuan Islam, yaitu :

1. Mengenakan Pakaian yang Menutup Aurat

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang-oarang beriman, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka”(QS Al Ahzaab 27).

2. Tidak Tabarruj atau Memamerkan Perhiasan dan Kecantikan

” Janganlah memamerkan perhiasan seperti orang jahiliyah yang pertama” (QS Al Ahzaab 33)

3. Tidak Melunakkan , Memerdukan atau Mendesahkan Suara

“Janganlah kamu tunduk dalam berbicara (melunakkan dan memerdukan suara atau sikap yang sejenis) sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik” (QS Al Ahzaab 32).

4. Menjaga Pandangan.

“Katakanlah pada orang-orang laki-laki beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya,dan memelihara kemaluannya yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman : Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya ……..”(QS An Nuur 30-31)

5. Aman dari Fitnah .

Disinilah sebenarnya masalah itu berpangkal. Bila wanita itu melihat atau menangkap adanya gejala yang demikian, yaitu ada kecendrungan jadi bahan `tontonan` laki-laki, misalnya dengan rebutan duduk di depan, maka bisa saja disiasati dengan membuat kursi-kursinya agak jauh dari meja dosen. Atau barangkali meminta agar dilakukan rolling tempat duduk agar mereka tidak selalu duduk di depan. Atau bisa juga mahasiswa laki-laki dan wanita di tempatkan terpisah disebelaha kanan dan kiri, lalu dosen waita itu duduk di bagian mahasiswa wanita.

Jadi sebenarnya tergantung dari bagaimana kemampuan seorang wanita (akhwat) dalam mengatur semua syarat ini.

Wallahu A`lam Bish-Showab,

Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Leave a Reply

%d bloggers like this: