Wanita Jadi Pemimpin ? – Pertanyaan : Assalamu’alaikum Bagaimana hukumnya ketika seorang muslimah khususnya dikampus menjadi pemimpin contohnya pemimpin dalam sebuah organisasi intra kampus sedangkan di fakultas tsb misalnya Teknik yang mahasiswanya mayoritas laki-laki ? Jazakumullah khairan Wassalamu’alaikumLixa

Konsultasi Fiqih Wanita : Jawaban:

Assalamu `alaikum Wr. Wb.

Jabatan yang dipegang oleh seorang wanita asal tidak sampai kepada tingkat tertinggi yaitu al-wilayah al-uzhma dalam suatu pemerintahan seperti menjadi raja (ratu), presiden, perdana menteri dan sejenisnya adalah boleh. Begitu juga asal bukan jabatan sebagai hakim, karena pekerjaan ini secara umum menuntut mental dan ketahanan seorang laki-laki.

Sedangkan bila jabatan yang bersifat biasa dan umum serta tidak menuntut ketahanana mental yang prima, pada dasarnya tidak ada larangan akan hal itu. Apalagi bila dalam komunitas sesama wanita. Sedangkan pada komunitas yang campuran antara laki-laki dan wanita, maka perlu diperhatikan adab dan aturan main antara laki-laki dan wanita.

Dan umumnya jabatan seperti ini tidak sampai melanggar ke-qawam-an laki-laki atas pria. Seorang wanita menjadi atasan laki-laki dalam sebuah organisasi atau perusahaan bukanlah hal yang terlarang. Begitu juga seorang wanita bila menjadi guru / dosen dari sejumah laki-laki pun tidak terlarang.

Hanya saja perlu diperhatikan adab dan aturan main antara laki-laki dan wanita.

1. Menutup aurat

Menutup aurat bagi wanita secara sempurna hukumnya adalah wajib. Sedangkan aurat muslimah yang wajib ditutup adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Dalam kondisi sekarang dimana tidak ada lagi larangan menutup aurat /memakai jilbab di kantor-kantor atau kampus maka tidak ada darurat untuk membuka aurat.

2. Tidak Boleh Ihktilath / Campur baur

Wanita boleh bergaul dengan laki-laki dengan syarat tidak ikhtilath (berbaur antara lelaki dan perempuan) sehingga tidak ada lagi batas hijab antara mereka. Karena dengan jarak yang dekat, campur baur itu akan melahirkan banyak hal. Termasuk parfum dan bisik lembut wanita yang akan menjadi sumber fitnah. Apalagi bila berdesakan di dalam mobil atau ruang yang sempit.

3. Tidak kholwah / berduaan menyepi

Kholwah (berdua antara wanita dengan lelaki non mahram) adalah hal yang diharamkan. Dalam banyak kesempatan berorganisasi, kholwat ini sering menjadi hal yang tak terhindarkan. Ada seribu satu alasan yang seolah-olah mengahruskan unutk terjadinya kholwat ini, baik yang bersifat langsung adminstrasi organsisasi atau ‘selemperan’ masalah yang muncul dari dinamika organsisasi.

Bila wanita menjadi pemimpin, maka harus ada jaminan bahwa kholwat ini tidak terjadi dengan alasan apapun.

4. Tampil di muka umum

Dalam kondisi normal, yang seharusnya tampil didepan umum yang terdiri dari kaum lelaki dan kaum wanita adalah orang laki-laki. Dalam kondisi tertentu, yakni adanya kebutuhan obyektif baik dalam sekala umum atau dalam ruang lingkup khusus dan tidak ada yang dapat melakukannya selain wanita yang bersangkutan , ia boleh tampil didepan umum untuk menyampaikan da’wah atau memberikan pelajaran dengan memperhatian ketentuan-ketentuan Islam, yaitu :

a. Mengenakan Pakaian yang Menutup Aurat

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang-oarang beriman, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka”(QS Al Ahzaab 27).

b. Tidak Tabarruj atau Memamerkan Perhiasan dan Kecantikan

” Janganlah memamerkan perhiasan seperti orang jahiliyah yang pertama” (QS Al Ahzaab 33)

c. Tidak Melunakkan , Memerdukan atau Mendesahkan Suara

“Janganlah kamu tunduk dalam berbicara (melunakkan dan memerdukan suara atau sikap yang sejenis) sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik” (QS Al Ahzaab 32).

d. Menjaga Pandangan.

“Katakanlah pada orang-orang laki-laki beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya,dan memelihara kemaluannya yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman : Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya ……..”(QS An Nuur 30-31)

Wallahu a`lam bis-shawab.
Wassalamu `alaikum Wr. Wb.

Leave a Reply

%d bloggers like this: