12. Kitab Ilmu

Keutamaan berilmu:

1. Firman Allah SWT:


11. ” …Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. QS. Al-Mujadilah: 11

2. Dari Abu Umamah al-Bahili berkata, diceritakan kepada Rasulullah SAW
tentang dua orang laki-laki, salah satunya adalah ahli ibadah dan yang lain adalah seorang yang berilmu, lalu Rasulullah SAW
bersabda:


“Keutamaan orang yang berilmu atas orang yang ahli ibadah adalah seperti keutamaanku atas yang terendah darimu”.

Kemudian Rasulullah SAW
bersabda:


“Sesungguhnya Allah SWT, malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, bahkan semut di dalam lobangnya sampai ikanpun berdo’a bagi orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” HR. at-Tirmidzi. (Shahih/ HR. at-Tirmidzi no. 2685. Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 2161)

Keutamaan menuntut ilmu dan menuntutnya sebelum mengajarkan dan beramal denganya:

Firman Allah SWT:


19. “Maka Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal”. QS. Muhammad: 19

Firman Allah SWT:

114 “Dan Katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” QS. Thaaha: 114

Dari Abu Hurairah , ia berkata, ‘Rasulullah SAW
bersabda:

“Dan barangsiapa yang menjalani satu jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah SWT
memudahkan baginya jalan menuju surga.” HR. Muslim.
219F1

Keutaman orang yang menyeru kepada petunjuk:

Dari Abu Hurairah , sesungguhnya Rasulullah SAW
bersabda:


“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, niscaya ia mendapat pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, dan tidak mengurangi sedikitpun dari pahala mereka. dan barangsiapa yang mengajaka kepada kesesatan, niscaya ia mendapatkan dosa seperti dosa orang yang mengikutinya, tidak mengurangi sedikitpun dari dosa mereka.’ HR. Muslim. (HR. Muslim no. 2699)

Kewajiban menyampaikan ilmu:

1. Firman Allah SWT:

52. “(Al Quran) Ini adalah penjelasan yang Sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya dia adalah Tuhan yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran”. QS.Ibrahim: 52

2. Dari Abu Bakrah , di saat haji waja`, sesungguhnya Nabi SAW
bersabda:


“Hendaklah orang yang hadir menyampaikan kepada orang yang tidak hadir, karena sesungguhnya orang yang hadir barangkali menyampaikan kepada orang yang lebih paham darinya.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. al-Bukhari no. 67. ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 1679.)

3. Dari Abdullah bin ‘Amr , sesungguhnya Nabi SAW
bersabda, ‘


“Sampaikanlah dariku, seklipun hanya satu ayat…”. HR. al-Bukhari. (HR. al-Bukhari no. 3461)

Hukuman bagi yang menyembunyikan ilmu:

Firman Allah SWT:


159. Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang Telah kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah kami menerangkannya kepada manusia dalam Al kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela’nati, 160. Kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan[105] dan menerangkan (kebenaran), Maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah yang Maha menerima Taubat lagi Maha Penyayang. QS. Al-Baqarah: 159-160)

Dari Abu Hurairah , ia berkata, ‘Rasulullah SAW
bersabda:


“Barangsiapa yang ditanya tentang ilmu, lalu ia menyembunyikannya, niscaya Allah SWT
mengekangnya dengan tali kekang dari neraka di hari kiamat.” HR. Abu Daud dan at-Tirmidzi.(

Hasan Shahih/ HR. Abu Daud no. 3658. Shahih Sunan Abu Daud)

Hukuman orang yang menuntut ilmu bukan karena Allah SWT:

1. Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah SAW
bersabda:


“Barangsiapa yang menuntut ilmu yang diharuskan ikhlas karena Allah SWT, dia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan harta benda dunia, niscaya ia tidak mendapatkan aroma surga di hari kiamat.” HR. Abu Daud dan Ibnu Majah. (Shahih/ Abu Daud no. 3664. ini adalah lafazhnya, Shahih Sunan Abu Daud, dan Ibnu Majah no. 252. Shahih Sunan Ibnu Majah no. 204.)

2. Dari Ka’ab bin Malik berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW
bersabda:


“Barangsiapa yang menuntut ilmu bertujuan untuk mengalahkan para ulama atau untuk membantah orang-orang bodoh, atau untuk memalingkan pandangan manusia kepadanya, niscaya Allah SWT
memasukkannya ke dalam neraka.” HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah. (Hasan/ HR. at-Tirmidzi no 2654. ini adalah lafazhnya, Shahih Sunan at-Tirmidzi no 2138. dan Ibnu Majah no. 253, Shahih Sunan Ibnu Majah no. 205..)

Hukuman berdusta terhadap Allah SWT
dan Rasul-Nya :

1. Firman Allah SWT:


144. “Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan ?” Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. QS. Al-An’aam: 144

2. Firman Allah SWT:


116. “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan Ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. 117. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih”. QS. An-Nahl: 116-117.

3. Dari Abu Hurairah , ia berkata, ‘Rasulullah SAW
bersabda:


“Barangsiapa yang berbohong terhadapku secara sengaja, maka hendaklah ia menyiapkan tempatnya di neraka.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. al-Bukhari no. 110. dan Muslim no. 3. ini adalah lafazhnya.)

Keutamaan orang yang berilmu dan mengajarkannya:

1. Firman :


79. “Akan tetapi (Dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani Karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”. QS. Ali ‘Imran: 79

2. Dari Abu Musa , dari Nabi SAW
beliau bersabda: Perumpamaan ilmu dan petunjuk yang Allah SWT
mengutusku dengannya yaitu seperti air melimpah yang tercurah ke bumi. Maka di antara bumi itu ada yang bersih, menerima air lalu menumbuhkan rerumputan yang banyak dengannya. Dan ada di antaranya ada yang gersang yang mampu menahan air, maka Allah SWT
memberikan manfaat kepada manusia dengannya, lalu mereka meminum, menyirami tanaman dan bertani dengannya. Dan ada bagian air yang menimpa bagian lain dari bumi, dia adalah permukaan yang lereng, yang tidak bisa menahan (menyimpan) air dan tidak bisa menumbuhkan rerumputan. Maka itulah perumpamaan orang yang mengerti tentang agama Allah SWT
dan memberi manfaat kepadanya risalah yang Allah SWT
mengutusku dengannya, lalu ia mengetahui dan mengajarkan. Dan perumpamaan orang yang tidak perduli terhadap hal itu dan tidak mau menerima petunjuk Allah SWT
yang aku diutus dengannya.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. al-Bukhari no. 79. ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 2282.)

3. Dari Abdullah bin Mas’ud berkata: Nabi SAW
bersabda:


“Tidak boleh dengki kecuali kepada pada dua orang: Seseorang yang diberikan oleh Allah SWT
harta, lalu ia menyalurkannya di dalam kebenaran, dan seseorang yang diberikan oleh Allah SWT
hikmah (ilmu), dan ia memutuskan hukum dengannya dan mengajarkannya.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. al-Bukhari no. 73. ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 816)

Cara diangkat dan diambilnya ilmu:

1. Dari Anas bin Malik berkata: Maukah kalian aku ceritakan satu hadits yang pernah aku dengar dari Rasulullah SAW, yang tidak ada seorangpun yang menceritakannya kepadamu setelahku, yang pernah mendengarnya dari beliau:


“Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari kiamat: diangkatnya ilmu, nampaknya kebodohan, tersebarnya perzinahan, diminumnya arak, berkurangnya para laki-laki, dan tersisalah para wanita, sehingga bagi lima puluh orang perempuan hanya ada seorang (laki-laki) sebagai penanggung jawab.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. al-Bukhari no. 81. dan Muslim no. 2671. ini adalah lafazhnya.)
2. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash berkata: Rasulullah SAW

bersabda:


“Sesungguhnya Allah SWT
tidak mengambil ilmu secara langsung yang diambilnya dari seorang hamba, akan tetapi Allah SWT
mengambil ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sehingga apabila tidak ada lagi orang yang berilmu, manusia memilih para pemimpin yang bodoh, maka mereka ditanya lalu memberi fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. al-Bukhari no. 100, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 2673.)

Keutamaan paham di dalam agama:

1. Dari Humaid bin Abdurrahman sesungguhnya ia mendengar Mu’awiyah berkata: Rasulullah SAW
bersabda:


“Barangsiapa yang Allah SWT
menghendaki kebaikan baginya, niscaya Dia memberinya kepahaman dalam agama, dan Allah SWT
yang memberi dan akulah yang membagi. Dan senantiasa umat ini nampak (menang) terhadap orang yang menyalahi mereka sampai datang perkara Allah SWT
dan mereka tetap nampak (menang).” Muttafaqun ‘alaih. (HR. al-Bukhari no. 3116. ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 1037.)

2. Dari Utsman dari Nabi SAW
bersabda:


“Sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang mempelajari al-Qur`an dan mengajarkannya.” HR. al-Bukhari. (HR. al-Bukhari no. 5027)

Keutamaan majelis dzikir:

Di dunia ini ada dua taman surga, salah satunya tetap dan yang lain selalu berganti pada setiap waktu dan tempat.

1. Dari Abu Hurairah sesungguhnya Nabi SAW
bersabda:


“Tempat di antara rumahku dan minbarku adalah satu taman dari taman-taman surga, dan minbarku di atas telagaku.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. al-Bukhari no. 1196. dan Muslim no. 1391)

2. Dari Anas bin Malik sesungguhnya Rasulullah SAW
bersabda:


“Apabila kamu melewati taman-taman surga, maka bersenang-senanglah’ Mereka bertanya, ‘Apakah taman-taman surga itu? Beliau menjawab, ‘Majelis-majelis dzikir.’ HR. Ahmad dan at-Tirmidzi. (Hasan/ HR. Ahmad no. 12551. lihat as-Silsilah ash-Shahihah no. 2562. dan at-Tirmidzi no. 3510. Shahih Sunan at- Tirmidzi no. 2787.)

3. Dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khudri , sesungguhnya keduanya menyaksikan bahwa Rasulullah SAW
bersabda:


“Tidaklah suatu kaum duduk-duduk untuk mengingat Allah SWT, melainkan mereka dikelilingi para malaikat, diliputi rahmat, dan turunlah ketenangan kepada mereka, serta Allah SWT
menyebutkan mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya. HR. Muslim. (HR. Muslim no. 2700)

Adab menuntut ilmu:

Ilmu adalah ibadah, dan ibadah mempunyai dua syarat: yaitu ikhlas kepada Allah SWT
dan mengikuti Rasulullah SAW. Para ulama adalah pewaris para nabi, dan ilmu terdiri dari beberapa bagian: yang tertinggi, yang paling mulia dan yang paling bersih adalah ilmu yang dibawa oleh para nabi dan rasul, berupa ilmu tentang Allah SWT, asma-Nya, sifat-Nya, perbuatan-Nya, agama-Nya, dan syari’at-Nya.

Firman Allah SWT:


19. Maka Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal. QS. Muhammad: 19

Dan ilmu mempunyai beberapa adab, di antaranya yang berkaitan dengan pengajar (guru, ustadz), pelajar (santri), dan ini adalah sebagian darinya:

1- Adab Seorang Pengajar

Tawadhu’ dan rendah diri:

Firman Allah SWT
kepada Nabi-Nya:


215. “Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman”. QS. Asy-Syu’araa`: 215

Memiliki akhlak yang terpuji.

1. Firman Allah SWT:


4. “Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. QS. Al-Qalam: 4

2. Firman Allah SWT
kepada Nabi-Nya :


199. “Jadilah Engkau Pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh”. QS. Al-A’raaf:199

Hendaklah seorang pengajar memperhatikan keadaan seseorang saat memberikan nasehat dan ilmu agar mereka tidak merasa jemu, lalu menjauh:

Dari Abdullah bin Mas’ud berkata: “Rasulullah SAW
memperhatikan keadaan kami pada hari-hari beliau memberi nasehat karena khawatir jika ada rasa jemu yang menyentuh kami.’Muttafaqun ‘alaih. (HR. al-Bukhari no. 68. ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 2821)

Meninggikan suara saat menyampaikan ilmu dan mengulanginya dua atau tiga kali, agar dapat dipahami:

1. Dari Abdullah bin ‘Amar berkata: “Rasulullah SAW
tertinggal dalam sebuah perjalanan kami lakukan, dan beliau menyusul kami, sementara waktu shalat telah masuk dan kami sedang berwudhu’. Maka kami mengusap kaki kami, lalu beliau berseru dengan suara yang tinggi: “Celakalah tumit (yang tidak tersentuh oleh air wudhu’) karena (akan disiksa dengan) api neraka.’ Dua kali atau tiga kali.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. al-Bukhari no. 60, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 241)

2. Dari Anas bin Malik dari Nabi SAW
bahwa apabila beliau berbicara dengan suatu kata, maka beliau mengulanginya tiga kali, sehingga dapat dipahami. Dan apabila beliau mendatangi suatu kaum, maka beliau memberi salam kepada mereka sebanyak tiga kali.” HR. al-Bukhari. (HR. al-Bukhari no. 95.)

Bernada marah dalam memberi nasehat dan mengajar, apabila melihat atau mendengar hal yang tidak disukai:

Dari Ibnu Mas’ud berkata: “Seorang laki-laki berkata: “Wahai Rasulullah!, hampir saja aku tidak mendapatkan shalat, karena fulan (yang mengimami shalat) selalu memperpanjang shalatnya dengan kami”. Maka aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW
marah melebihi marahnya daripada hari itu dalam memberi nasehat beliau bersabda:


“Wahai manusia, sesungguhnya kalian membuat orang berlari (dari agama ini). Barangsiapa (yang mengimami) manusia dalam shalatnya, maka hendaklah ia memperpendeknya. Karena sesungguhnya di antara jama’ah ada orang yang sakit, lemah, dan mempunyai kebutuhan.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. al-Bukhari no. 90, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 466.)

Terkadang memberi jawaban kepada penanya dengan jawaban yang lebih banyak daripada pertanyaannya:

Dari Ibnu Umar, sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW
tentang pakaian yang boleh dipakai oleh orang yang sedang berihram? Maka Rasulullah SAW:


“Janganlah engkau memakai kemeja, dan jagan pula memakai surban, celana, baju mantel yang bertedung kepalanya, sepatu, kecuali orang yang tidak mendapatkan dua sendal, maka hendaklah ia memakai dua sepatu (khuf) dan hendaklah dia memotongnya sehingga menjadi lebih rendah dari dua mata kaki. Dan janganlah kamu memakai pakaian yang terkena za’faran dan waras.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. al-Bukhari no. 1542. dan Muslim no. 1177. ini adalah lafazhnya.)

[Untuk membaca lanjutannya, silahkan geser sedikit scrollbar ke paling bawah, lalu pada sebelah kanan label Pages, klik Page Number (Nomor Halaman) nya]

Beri Nilai Artikel Ini:

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: