Perbedaan Waktu Untuk Melaksanakan Shalat Fardhu – Pertanyaan : Assalamu´alaikum wr. wb. Saya menetap di negara empat musim yang memiliki perbedaan waktu cukup lebar antara musim dingin dan panas. saya merasa sangat kesulitan bangun pagi untuk shalat subuh terutama apabila jadwal shalat subuh jatuh sekitar pukul 04.00 pagi. apakah saya bisa menunda shalat subuh tsb dan mengerjakannya pada saat saya terbangun setelah matahari terbit? pertanyaan kedua (menyangkut soal waktu) apabila saat Ramadhan, imsyak jatuh pukul 04 pagi dan dan maghrib pukul 22.30 malam, apakah saya harus berbuka puasa menunggu magrib (pukul 22.30) atau mengikuti waktu Indonesia atau bagaimana? karena cukup berat apabila tidak makan dan minum selama 19 jam. jawaban dari Bapak/Ibu merupakan hal yang berarti bagi kelangsungan ibadah saya di negeri orang. Selamat berpuasa. Terima kasih banyak, wassalam.Ayu

Konsultasi Ibadah : Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh
Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba’d.

Ibadah shalat dan puasa adalah ibadah yang sangat terkait pelaksanaannya dengan waktu. Sehingga bila dilakukan bukan pada waktu yang telah ditetapkan, ibadah itu menjadi tidak sempurna, bahkan bisa menjadi tidak syah.

Waktu-waktu shalat dan puasa telah ditentukan secara detail dalam syariat Islam. Dan setiap orang dimana pun berada terikat dengan waktu dimana dia berada.

Waktu Shalat Shubuh

Shalat Shubuh itu dimulai ketika munculnya syafaqul ahmar, yaitu mega yang berwarna merah di ufuk timur. Mega ini muncul jauh sebelum terbitnya matahari, yang menjadi batas berakhirnya waktu shubuh. Di dalam rentang waktu antara mega merah dan terbitnya matahari inilah shalat shubuh dilakukan. Keluar dari waktunya secara sengaja, tentu tidak bisa diterima shalatnya. Kecuali bila dalam kasus tertentu seperti orang yang bangun kesiangan.

Waktu Puasa

Demikian juga waktu untuk mulai dan berbuka puasa, sudah ditetapkan secara baku. Mulai dari masuknya waktu shubuh dan berakhir dengan terbenamnya matahari di ufuk barat. Dalam rentang waktu itulah puasa dilakukan.

Perbedaan Jam Di Musim Dingin Dan Musim Panas
Adanya pergerakan matahari dalam setahun dari lintang utara ke selatan dan kembali lagi ke utara menghasilkan efek perbedaan waktu terbit dan terbenamnya matahari pada wilayah sub tropis. Bahkan di wilayah kutub, perbedaan ini bisa menjadi sangat ekstrim.

Namun setiap muslim tetap terikat dengan ketentuan waktu yang telah ditetapkan berdasarkan peredaran matahari (terbit dan terbenamnya). Meski pun terjadi perbedaan panjang antara malam dan siang. Dimana pun seseorang berada di muka bumi ini, maka dia harus mengikuti jadwal ibadah shalat dan puasa sesuai dengan gejala peredaran matahari ini, meski pun setiap saat bisa berubah-ubah.

Barangkali pada musim panas, lamanya siang akan menjadi sangat panjang, karena bisa saja jam 03.00 pagi matahari sudah terbit. Dan baru terbenam jam 21.00 malam harinya. Sebaliknya, di musim dingin justru matahari terlambat sekali terbit, misalnya pada jam 08.00 dan sudah terbenam pada jam 16.00 sore harinya. Tetapi selama perbedaan waktu terbit dan terbenamnya matahari masih jelas terjadi dalam setiap harinya, jadwal shalat dan puasa tetap harus mengacu kepada peredaran matahari.

Kecuali untuk wilayah yang terlalu ekstrim, dimana matahari tidak terbit selama 6 bulan atau sebaliknya. Atau batas antara terbenam dan terbitnya matahari sangat singkat dan tidak sampai hilang mega merahnya, sehingga tidak bisa dipastikan kapankan masuk waktu Isya dna kapankah masuk waktu shubuh. Dalam kasus ini, para ulama dalam Majelis Majma’ Al-Fiqh Al-Islami dan Hai`ah Kibaril Ulama telah menetapkan fatwa antara lain :

Pertama : Wilayah yang mengalami siang selama 24 jam dalam sehari pada waktu
tertentu dan sebaliknya mengalami malam selama 24 jam dalam sehari. Dalam
kondisi ini, masalah jadwal puasa dan juga shalat disesuaikan dengan jadwal
puasa dan shalat wilayah yang terdekat dengannya dimana masih ada pergantian
siang dan malam setiap harinya.

Kedua : wilayah yang tidak mengalami hilangnya mega merah (syafaqul ahmar)
sampai datangnya waktu shubuh. Sehingga tidak bisa dibedakan antara mega
merah saat maghrib dengan mega merah saat shubuh. Dalam kondisi ini, maka
yang dilakukan adalah menyesuaikan waktu shalat ‘isya’nya saja dengan waktu
di wilayah lain yang terdekat yang masih mengalami hilangnya mega merah
maghrib. Begitu juga waktu untuk imsak puasa (mulai start puasa),
disesuaikan dengan wilayah yang terdekat yang masih mengalami hilangnya mega
merah maghrib dan masih bisa membedakan antara dua mega itu.

Ketiga : Wilayah yang masih mengalami pergantian malam dan siang dalam satu
hari, meski panjangnya siang sangat singkat sekali atau sebaliknya.
Dalam kondisi ini, maka waktu puasa dan juga shalat tetap sesuai dengan
aturan baku dalam syariat Islam. Puasa tetap dimulai sejak masuk waktu
shubuh meski baru jam 02.00 dinihari. Dan waktu berbuka tetap pada saat
matahari tenggelam meski waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 malam. “

Dalilnya adalah apa yang telah Allah SWT frimankan di dalam Al-Quran :

Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam, janganlah kamu
campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid.” (QS. Al-Baqarah :
187).

Sedangkan bila berdasarkan pengalaman berpuasa selama lebih dari 19 jam itu
menimbulkan madharat, kelemahan dan membawa kepada penyakit dimana hal itu
dikuatkan juga dengan keterangan dokter yang amanah, maka dibolehkan untuk
tidak puasa. Namun dengan kewajiban menggantinya di hari lain. Dalam hal ini
berlaku hukum orang yang tidak mampu atau orang yang sakit, dimana Allah
memberikan rukhshah atau keringan kepada mereka.

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan
pembeda . Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir di bulan itu, maka
hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam
perjalanan , maka , sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari
yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki
kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah
kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya
kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah : 185).

Namun ada juga pendapat yang tidak setuju dengan apa yang telah ditetapkan
oleh dua lembaga fiqih dunia itu. Diantaranya apa yang dikemukakan oleh
Syeikh Dr. Mushthafa Az-Zarqo rahimahullah.

Alasannya, apabila perbedaan siang dan malam itu sangat mencolok dimana
malam hanya terjadi sekitar 30 menit atau sebaliknya, dimana siang hanya
terjadi hanya 15 menit misalnya, mungkinkah pendapat itu relevan ?
Terbayangkah seseorang melakukan puasa di musim panas dari terbit fajar
hingga terbenam matahari selama 23 jam 45 menit. Atau sebaliknya di musim
dingin, dia berpuasa hanya selama 15 menit ? Karena itu pendapat yang lain
mengatakan bahwa di wilayah yang mengalami pergantian siang malan yang
ekstrim seperti ini, maka pendapat lain mengatakan :

a. Mengikuti Waktu Hijaz
Jadwal puasa dan shalatnya mengikuti jadwal yang ada di hijaz (Mekkah, Madinah dan sekitarnya). Karena wilayah ini dianggap
tempat terbit dan muncul Islam sejak pertama kali. Lalu diambil waktu siang
yang paling lama di wilayah itu untuk dijadikan patokan mereka yang ada di
qutub utara dan selatan.

b. Mengikuti Waktu Negara Islam terdekat

Pendapat lain mengatakan bahwa jadwal puasa dan shalat orang-orang di kutub mengikuti waktu di wilayah negara Islam yang terdekat. Dimana di negeri ini bertahta Sultan / Khalifah muslim.

Namun kedua pendapat di atas masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahan.
Karena keduanya adalah hasil ijtihad para ulama.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Leave a Reply

%d bloggers like this: