Yang Mana Saya Harus Bayar Zakatnya – Pertanyaan : Assalammualikum wa rahmatullahi wa barakaatuh, Somoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan rezki kepada Pak Ustad. Pak Ustad, saya seorang gadis (Belum berkeluarga) dan sudah mempunyai penghasilan tetap. Alhamdulillah penghasilan saya sebagai seorang pegawai lumayan. Saya juga menanggung kedua orang tua saya yang sudah sepuh dan menyekolahkan adik saya , selain itu saya juga membantu saudara saya yang kekurangan dan menjadi donatur di yayasan anak yatim piatu di kampung saya. yang perlu saya tanyakan apakah wajib zakat saya sejumlah gaji yang saya terima setiap bulan dipotong 2.5% setelah dikurangi biaya hidup saya dan orang tua atau hanya jumlah simpanan saya yang ada di bank saja yang wajib zakat. Saya pernah mendengar penghasilan dibawah 1 setengah juta tidak wajib zakat benarkah? karena pada waktu penghasilan saya sekitar angka tersebut saya tidak membayar zakat, karena habis membiayai kehidupan kedua orang tua saya dan saudara. Mohon penjelasan dari Pak ustad, Jazakallah khairan katsiran…….FatiaFatia

Konsultasi Zakat :Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh
Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba’d.

Umumnya para ulama yang berketetapan adanya zakat penghasilan memberi batasan nishab senilai nisah zakat pertanian, yaitu 5 wasaq. Atau bila dikonversikan dengan hitungan di masa sekarang adalah nilai dengan 520 kg beras. Bila penghasilan Anda senilai dengan harga itu, sudah dikenakan zakat penghasilan.

Kalau kita hitung secara kasar, katakanlah harga beras perkilogram Rp. 2.500,-. Bila dikalikan 520 menjadi Rp. 1.300.000,-. Inilah nishab zakat penghasilan, artinya bila penghasilan Anda kurang dari angka di atas, Anda belum wajib mengeluarkan zakat profesi.

Bila Anda mengeluarkan uang untuk bershadaqah secara umum di luar ketentuan zakat, tentu besar pahalanya. Sebab ibadah maliyah itu memang bukan hanya zakat saja, tetapi termasuk juga beragama jenis infaq, shadaqah, wakaf, hibah dan seterusnya.

Diantara para ulama juga ada perbedaan dalam masalah pemasukan bersih dan kotor. Sebagian dari mereka menetapkan bahwa nisah zakat itu dihitung berdasarkan pemasukan kotor. Sehingga bila ada pengeluaran, tetap saja harus dikeluarkan zakatnya berdasarkan pemasukan kotor. Namun sebagian lagi mengatakan bahwa nishab itu baru berlaku setelah pemasukan kotor dikurangi dengan pengeluaran pokok.

Lebih detailnya, silahkan Anda masukkan kata kunci [zakat profesi] dalam serach engine di situs ini.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Beri Nilai Artikel Ini:

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: