1. Endoscopy

1. مِنْظَرُ الْمَعِدَّةِ (Endoscopy)

 

Endoscopy adalah suatu alat medis yang dimasukkan melalui mulut, kerongkongan, terus ke lambung dan alat pencernaan, berfungsi untuk melihat kondisi dalam perut seperti luka-luka dan semisalnya, atau berfungsi untuk membantu mengeluarkan sesuatu dari dalam perut atau tujuan lainnya.1

 

Pendekatan Masalah

Ini adalah permasalahan yang tidak pernah dibahas pada zaman dahulu. Para ulama masa kini, sebelum menghukumi masalah ini, mereka membahas permasalahan yang mendekatinya, yaitu apakah memasukkan sesuatu apa pun ke dalam rongga termasuk pembatal puasa, walaupun sesuatu itu bukan makanan atau minuman?

 

Hukumnya

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini:2

 

Pendapat pertama:

Mayoritas para ulama berpendapat bahwa segala sesuatu yang masuk ke dalam rongga manusia, bukan berupa makanan dan minuman,3 membatalkan puasa. Inilah madzhab Imam Abu Hanifah,4 madzhab Malik, madzhab Syafi’i, dan madzhab Hanbali.5

Dalilnya, menurut mereka, pendapat ini didasari oleh hadits Nabi صلي الله عليه وسلم beliau memerintahkan orang berpuasa supaya menghindari celak mata (HR. Abu Dawud 1/724). dan mereka memberi alasan bahwa celak mata akan masuk ke dalam rongga sehingga batal puasanya padahal celak mata bukan makanan dan bukan pula minuman.6 

 

Pendapat kedua:

Segala sesuatu yang masuk ke dalam rongga manusia, jika bukan makanan atau minuman, tidak membatalkan puasa karena tidak dapat diqiyaskan kepada keduanya. Ini adalah pendapat al-Hasan bin Sholih. madzhab sebagian ulama Malikiyyah7 dan dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.8

 

Pendapat yang kuat adalah pendapat kedua, yaitu sesuatu (bukan makanan dan minuman) yang dimasukkan ke dalam rongga orang yang berpuasa tidak membatalkan puasa, dan pendapat ini dikuatkan oleh beberapa perkara, di antaranya:

·           Yang dimaksudkan memasukkan sesuatu ke dalam perut yang membatalkan puasa adalah makanan atau minuman, karena inilah yang ma’ruf (yang dipahami oleh manusia), bukan besi, batu, tanah, dan lainnya.9

·           Alloh melarang seorang yang berpuasa untuk makan dan minum bukan hanya karena masuknya makanan dan minuman itu ke rongganya, melainkan untuk menguji ketaqwaan-nya dan karena makanan itu mengenyangkan.10

·           Adapun hadits yang disebutkan, maka hadits itu adalah hadits dho’if (lemah) karena dalam sanadnya ada Abdurrohman bin Nu’man, perowi lemah—sebagaimana dikatakan oleh Yahya bin Ma’in—dan ditambah lagi ada perowi ayahnya Nu’man, dia perowi yang majhul (tidak dikenal) — sebagaimana dikatakan oleh Imam adz-Dzahabi. (Lihat Silsilah Dho’ifah oleh al-Albani No. 1014)

 

Kesimpulan Tentang مِنْظَرُ الْمَعِدَّةِ (Endoscopy)

Sebagaimana keterangan di atas, dapat kita simpulkan bahwa alat seperti ini hukum asalnya tidak membatalkan puasa, karena memasukkan alat ini ke dalam rongga bukan termasuk salah satu pembatal puasa, bukan termasuk makan dan minum, dan tidak bisa diqiyaskan kepada keduanya.11

 

Catatan

Akan tetapi, jika memasukkan alat ini ke dalam rongga disertai dengan bahan-bahan cair untuk mempermudah masuknya alat ini, maka yang demikian ini membatalkan puasa. Penyebab batalnya puasa adalah masuknya benda cair itu, bukan karena masuknya alat tersebut.12


1.     Lihat al-Mufaththiroth al-Mu’ashiroh hlm 4 karya Syaikh Dr. Kholid al-Musyaiqoh, dan Mufathirot ash-Shiyam al-Mu’ashiroh hlm. 39.

2.     Penyebab perselisihan ini adalah sebagian ulama menyamakan sesuatu yang masuk ke dalam perut antara makanan atau minuman dengan sesuatu yang bukan makanan atau minuman. (Lihat perkataan ini oleh Ibnu Rusyd dalam Bidayatul Mujtahid 2/153)

3.     Sebagai contoh, seandainya seseorang yang berpuasa menelan sepotong besi atau sebutir kerikil, maka batallah puasanya.

4.     Hanya, madzhab Abu Hanifah mensyaratkan untuk batalnya puasa itu jika sesuatu yang masuk ke dalam rongga itu benar-benar masuk dengan sempurna, tidak ada yang tersisa sebagiannya di luar atau tidak dikeluarkan kembali sesuatu itu. (Lihat Mufathirot ash-Shiyam al-Mu”ashiroh hlm. 41)

5.     Lihat Tabyinul Haqo’iq 1/326 az-Zaila’i, al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab 6/317, asy-Syarhul Kabir 7/410, Syarhul Zarqoni ‘alal Kholil 1/207, Bidayatul Mujtahid 2/153, dan Syarh Muntahal Irodat 1/448.

6.     Lihat Syarhul Umdah oleh Syaikhul Islam 1/385.

7.     Lihat al-Furu’ 3/46.

8.     Lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 20/528.

9.     Lihat Mu’jam Maqoyis al-Lughoh 1/122 dan Mufathirot ash-Shiyam al-Mu’ashiroh hlm. 45.

10.   Lihat Mufathirot ash-Shiyam al-Mu’ashiroh hlm. 44.

11.   Inilah pendapat Syaikh Muhammad Bakhit (lihat ad-Din al-Kholish 8/457), dan Syaikh Muhammad bin Sholih al-  Utsaimin dalam asy-Syarhul Mumthi’ 6/383.

12.   Demikianlah yang diingatkan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin dalam asy-Syarhul Mumthi’ 6/383.

Previous

Next

Leave a Reply

%d bloggers like this: